Blog Artikel Seputar Ibu dan Bayi

Showing posts with label Waspada. Show all posts

Hindari Kebiasaan Meniup Makanan Panas, Ini Alasannya!

Image result for blowing hot food

Saat menyantap makanan atau minuman panas, kita cenderung meniupnya agar lebih cepat dingin dan bisa segera dikonsumsi. Namun, sebaiknya kebiasaan tersebut mulai dihindari, karena ternyata bisa memicu hal negatif bagi kesehatan, lho!

Membuka peluang kontaminasi virus dan bakteri
Dengan meniup makanan, potensi kuman maupun virus di mulut untuk berpindah ke makanan akan semakin besar. Jika kita mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi, akan ada peluang untuk tertular juga.

Misalnya virus influenza dan TBC yang penyebarannya bisa secara langsung, bahkan melalui udara. Penyakit lebih serius seperti hepatitis juga bisa menular dengan kegiatan sederhana ini.

Memicu masalah kesehatan
Uap air yang bereaksi dengan CO2 atau gas karbondioksida yang keluar dari mulut, akan membentuk senyawa asam karbonat (carbonic acid). Karena bersifat asam, hal ini bisa memicu ketidakseimbangan pH dalam darah.

Meski demikian, sejumlah ahli masih memperdebatkan pernyataan ini karena sebagian berpendapat reaksi uap air (H2O) dan CO2 terjadi pada suhu dan tekanan tinggi. Asam karbonat (H2CO3) baru terbentuk pada 25 derajat Celcius, Kc = 1.70 x 10-3. Di samping itu, H2CO3 termasuk asam yang lemah layaknya cuka yang cukup aman jika masuk ke dalam tubuh.

Masalah lain yang mungkin akan timbul adalah jika (makanan) mengandung kalsium oksida (CaO). Saat makanan dengan senyawa tersebut ditiup dan bereaksi dengan CO2 dalam napas, maka akan menghasilkan batu kapur (CaCO3). Endapan CaCO3 dalam jumlah banyak bisa memicu terbentuknya batu ginjal.

Meniup makanan dianggap sesuatu yang tak sopan di negara tertentu.

Meniup makanan panas memang tujuannya untuk membuat makanan jadi dingin dan lebih nyaman untuk dikonsumsi. Namun, di saat bersamaan, makanan atau minuman jadi bercampur dengan bakteri atau virus yang terdapat di dalam mulut. Mulut mengandung banyak mikroorganisme berupa bakteri dan virus yang segera berpindah ketika kamu meniup makanan. Jadi, makanan memang dingin tapi jadi banyak mikroorganisme-nya.

Hal ini juga berlaku untuk para orang tua yang sering meniupkan makanan panas pada anaknya. Makanan untuk anak menjadi penuh dengan mikroorganisme yang berasal dari mulut orang tua. Situasi inilah yang sebenarnya bisa membuat anak menjadi lebih mudah jatuh sakit.

Kasus lain yang bikin meniup makanan panas itu berbahaya adalah reaksi kimia yang menghasilkan asam karbonat. Secara alami, asam karbonat atau H2CO3 merupakan senyawa kimia yang sudah hadir di dalam tubuh untuk mengatur kadar keasaman darah.

Proses meniup makanan membuat makanan menjadi mengandung asam karbonat akibat reaksi kimia yang terjadi antara karbon dioksida (CO2) dan air (H2O). Hasilnya, kadar keasaman darah menjadi tidak stabil dan berbahaya untuk kesehatan, khususnya kesehatan jantung.

Cara terbaik adalah membiarkan makanan untuk beberapa saat. Secara alami, makanan akan menyesuaikan dengan suhu ruangan atau turun secara signifikan jika tidak terkena panas lainnya. Selain itu, anda juga bisa menggunakan kipas untuk memberikan udara sehingga makanan cepat dingin dan lebih nyaman dikonsumsi.

Sumber:
https://www.idntimes.com/food/dining-guide/putriana-cahya/3-alasan-menghentikan-meniup-makanan-panas-1/full

https://www.lemonilo.com/blog/sering-meniup-makanan-panas-hentikan-sekarang-juga-karena-inilah-resikonya

Selengkapnya »

Awas Benda Beracun, Lindungi Bayi Anda darinya

Hasil gambar untuk toxic

Moms, sebelum Si Kecil lahir, Anda mungkin tak terlalu mempedulikan situasi dan kondisi di dalam rumah. Akan tetapi, begitu ada bayi, Anda akan berpikir bagaimana caranya agar rumah menjadi tempat paling aman untuknya.

Ya, tanpa Anda sadari ternyata ada banyak hal yang mengancam keamanannya. Contohnya, tak sedikit racun berbahaya di sekitar Si Kecil. Mulai dari kamar tidur, kamar mandi, ruang makan, dapur dan halaman, kalau kita perhatikan ada benda-benda beracun yang berpotensi meracuni anak.

Apa saja benda yang bisa meracuni Si Kecil?

- Produk pembersih, termasuk pembersih saluran air, pembersih kompor, pembersih toilet, pemutih pakaian, deterjen dan sabun cuci, pembersih furnitur dan pembersih karat.

- Obat-obatan termasuk obat dengan resep dokter, misalnya untuk penyakit jantung, darah tinggi, antidepresi, pil tidur, diabetes, pereda sakit dan lain-lain.

- Aspirin yang dapat menyebabkan gangguan otak dan hati.

- Vitamin terutama suplemen zat besi, baterai, magner, pupuk, pestisida, obat nyamuk, produk cat dan sebagainya.


Cara melindungi anak dari racun di sekitar

Masukkan semua obat ke lemari dan kunci

Anak-anak cenderung aktif sehingga ia akan berinisiatif sendiri untuk menjangkau tempat-tempat yang tinggi. Ia akan mengambil kursi sendiri, naik ke meja dan memanjat lemari. Karena itu, kalau lemari tempat obat-obatan tidak terkunci,  anak akan bisa membukanya.

Jauhkan baterai dari jangkauan anak

Jika termakan, baterai akan bersifat korosif karena asam lambung, sehingga zat kimia di dalamnya terurai dan menyebabkan keracunan.


Beli produk dengan rendah racun

Cek label produk-produk kebersihan rumah tangga yang dibeli dan selalu pilih dengan kadar racun paling rendah.

Benda-benda yang sering tertelan bayi

Anak yang masih balita mudah sekali tertarik untuk memakan benda-benda di sekitarnya yang berwarna menarik atau berbentuk tidak biasa. Anda harus mempastikan bahwa benda-benda tersebut tidak berbahaya jika tertelan oleh anak.

Orang tua mungkin tidak dapat sepenuhnya mengamati anaknya ketika bermain. Untuk mencegah anak memakan barang berbahaya seperti paku, pembersih rumah tangga beracun, insektisida, pemutih, atau obat-obatan, jangan meletakkannya sembarangan dan mudah di jangkau oleh anak.

Berikut 9 barang yang paling beresiko tertelan oleh anak Anda, antara lain:

1. Krayon

Krayon memiliki beraneka ragam warna dan berbau harum, sehingga tidak heran jika anak Anda tertarik untuk memakannya. Krayon kebanyakan terbuat dari lilin dan pigmen tidak beracun yang tidak akan menyebabkan masalah pada bayi jika anak Anda memasukkannya ke mulutnya.

2. Rumput

Rumput yang termakan oleh anak bukanlah masalah besar kecuali rumput tersebut baru saja diobati dengan pestisida. Ketika Anda menyadari hal tersebut, segera beri anak Anda minum air putih yang cukup banyak agar racun pestisida segera terbawa keluar melalui urine. Jika anak menunjukkan tanda-tanda keracunan, segera periksakan kondisi anak ke dokter.

3. Daun dan ranting

Memakan dedaunan dan ranting yang ada di halaman rumah tidak berbahaya bagi anak Anda, tetapi ada kemungkinan bahaya tersedak. Potongan kecil dari daun, kulit batang, dan ranting dapat melewati sistem pencernaan anak Anda, bahkan dapat memperkuat kekebalan.

Jika Anda tahu anak Anda telah menelan ranting tanaman pinus atau tanaman lain yang berdaun tajam seperti jarum, pastikan barang tersebut tidak menusuk kerongkongan anak Anda. Segera periksakan kondisi anak jika anak menangis karena rasa sakit di sekitar lehernya.

4. Air di bak mandi bayi

Terkadang anak akan pipis di dalam bak mandi ketika sedang asik berendam ketika mandi. Urine bayi belum mengandung apa-apa dan tidak akan membuatnya sakit jika tidak sengaja meneguk air di bak mandi.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah sabun di dalam air. Jika Anda menggunakan produk yang dibuat khusus untuk bayi dan anak-anak, Anda tidak perlu khawatir. Tetapi jika Anda menggunakan shampo dewasa, sabun busa atau minyak esensial, Anda mungkin perlu mewaspadai efeknya, seperti diare atau sakit perut.

5. Makanan hewan peliharaan

Makanan hewan peliharaan seperti makanan kucing memiliki warna yang menggoda anak untuk memakannya. Bahaya yang mengancam anak ketika makan makanan hewan peliharaan hanyalah tersedak. Makanan tersebut masih aman terhadap pencernaan anak karena tubuh hanya menganggapnya sebagai protein tambahan.

6. Pasir

Ketika anak bermain di pantai atau bak pasir di taman bermain, besar kemungkinan anak menelan pasir. Pasir di pantai dan bak pasir yang dibiarkan terbuka dapat menjadi tempat buang air besar utama untuk segala macam hewan, terutama burung, tikus, dan kucing liar.

Beberapa hewan dapat membawa penyakit, termasuk toksoplasmosis yang dapat ditularkan melalui kotorannya. Jika anak Anda sakit, seperti demam, muntah, atau mengalami diare setelah menelan pasir, segera periksakan kondisinya ke dokter.

7. Air kolam renang

Anda tidak dapat menghindarkan anak Anda dari meneguk air kolam renang ketika anak sedang belajar berenang. Klorin dalam air kolam renang adalah bahan kimia beracun yang dapat membakar tenggorokan anak Anda dan jika tertelan dalam jumlah besar mungkin dapat menyebabkan sakit perut.

Beberapa penelitian juga menghubungkan paparan klorin untuk kanker tertentu. Jadi perhatikan dengan seksama ketika anak Anda sedang belajar berenang agar tidak terlalu sering membuka mulutnya.

8. Serangga

Lalat, kumbang, semut, serangga, bahkan cacing seharusnya tidak menjadi masalah jika termakan oleh anak Anda. Tetapi Anda perlu menghubungi dokter jika naka Anda menelan seekor laba-laba, yang mungkin termasuk spesies yang beracun atau serangga lain yang memiliki sengat, yang berisi sejumlah kecil racun.

9. Permen karet


Anak balita tidak boleh mengunyah permen karet untuk menghindari bahaya tersedak. Tetapi sebenarnya permen karet yang tertelan tidak berbahaya karena akan segera dikelurkan dari tubuh bersama tinja.

Selengkapnya »

Awas Bahaya Kesetrum dan Pertolongan Bayi yang Kesetrum

Hasil gambar untuk baby electricity

Telepon genggam atau gadget tentunya sudah menjadi benda yang ‘wajib’ dimiliki oleh para ibu di era digital ini. Meski memiliki fungsi penting, Moms tentu tahu bahwa handphone juga memiliki efek negatif, khususnya bagi anak-anak.

Saat ini, tidak sedikit balita yang sudah mulai kecanduan menggunakan gadget atau telepon genggam milik sang ibu untuk bermain. Kebiasaan ini bukan hanya bisa mengganggu pengelihatan Si Kecil, melainkan juga merusak otak serta saraf-sarafnya.

Namun tahukah Anda? Bukan hanya gadget itu sendiri yang memiliki potensi bahaya. Alat pengisi baterai alias charger juga berisiko untuk mencelakakan Si Kecil. Bukan hanya sekali terjadi peristiwa anak atau bayi mengalami cedera hingga meninggal dunia akibat tersetrum charger telepon genggam

Kasus Tersetrum
Di Indonesia, kasus anak tersetrum charger telepon genggam yang sempat menarik perhatian publik pada Maret 2019. Bocah bernama Yeskiel Tuke asal Desa Hane, Nusa Tenggara Timur, ditemukan tewas tersengat listrik pada aliran charger telepon genggam. Menurut keterangan polisi, anak laki-laki berusia tujuh tahun itu diduga tewas karena menggunakan handphone yang tengah diisi dayanya.

Di Amerika Serikat dua tahun silam, juga pernah ada peristiwa bayi tersetrum alat pengisi daya telepon selular. Gabby (19 bulan) asal Kentucky, mengalami luka bakar di bagian bibir karena mengemut ujung charger yang ujung lainnya tertancam di stop kontak.

Nasib Gabby lebih beruntung ketimbang seorang bayi bernama Shehvar asal India. Shehvar juga tersetrum setelah mengemut ujung charger yang masih dialiri listrik. Sayang, nyawanya tak tertolong meski orang tua Shehvar sempat membawanya ke rumah sakit.

Waspada Tersetrum

Berdasarkan kasus-kasus tersebut, Anda tentunya harus memberi perhatian khusus soal penempatan alat-alat elektronik yang bisa membahayakan bagi Si Kecil. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa Moms lakukan di rumah agar anak terhindar dari bahaya tersetrum.

1. Usahakan menutup stop kontak dari jangkauan Si Kecil. Moms, bisa menutupnya dengan lakban atau menggunakan penutup khusus yang banyak dijual secara online. Dengan begitu, Si Kecil tentu tidak akan bisa menyentuhnya.

2. Jauhkan benda-benda elektronik atau yang beraliran listrik dari jangkauan Si Kecil. Anda juga bisa membungkus kabel listrik dengan pengaman khusus.

3. Selalu melepaskan alat charger telepon selular dari stop kontak apabila tidak digunakan. Meski terkesan tidak berbahaya, kabel charger tetap bisa mengalirkan listrik yang mengakibatkan anak tersetrum.

4. Selalu perhatikan Si Kecil saat bermain. Bayi dan balita biasanya memiliki rasa ingin tahu yang besar untuk memegang benda-benda yang ada di sekitarnya. Moms, perlu segera memindahkan Si Kecil apabila ia mendekati benda-benda yang berpotensi menimbulkan bahaya tersetrum seperti stop kontak.


Pertolongan Pertama Saat Bayi Tersetrum

Ketika Moms menyadari bahwa Si Kecil tersetrum aliran listrik, Anda bisa melakukan hal-hal berikut ini.

1. Matikan sumber arus listrik atau cabut kabel yang menyebabkan sengatan jika memang dirasa aman.

2. Jika arus listrik tidak bisa dihentikan, dorong korban dengan alat yang tidak menghantarkan listrik, misalnya sapu, kursi, atau tongkat kayu. Gunakan alas kaki atau berdirilah di atas bahan yang tidak menghantarkan listrik seperti matras karet atau tumpukan koran.

3. Hubungi klinik terdekat.

4. Setelah korban diamankan, cek pernapasan dan denyut jantungnya. Jika napas atau detak jantungnya berhenti, Anda bisa melakukan pertolongan pertama sesuai kemampuan.

5. Tetap bersama korban hingga bantuan kesehatan datang.

Artikel dikutip dari https://www.motherandbaby.co.id/article/2019/9/8/13015/Waspada-Benda-Ini-Bisa-Mengakibatkan-Anak-Tersetrum
Selengkapnya »

9 Hewan Ini Berisiko Tularkan Virus dan Penyakit Berbahaya



Bagi sebagian orang, memiliki hewan peliharaan memang memberi kebahagiaan tersendiri. Namun yang menjadi permasalahan, bagaimana jika binatang kesayangan justru membawa malapetaka bagi Anda?

Binatang selama ini memang diketahui sebagai salah satu sumber penyebaran penyakit. Oleh karena itu, penting artinya bagi Anda para penggemar hewan untuk mengenali ancaman dari keberadaan binatang peliharaan. Yang tidak kalah penting adalah selalu rutin menjaga kesehatan dan kebersihan hewan kesayangan beserta kandangnya.

Berikut ini adalah beberapa jenis hewan dengan potensi yang dimilikinya untuk menjadi penular dan perantara bibit penyakit. Di antara hewan-hewan ini, ada yang bebas dan hidup liar di alam, ada pula yang menjadi binatang peliharaan. Yang pasti, bila Anda memiliki hewan peliharaan, maka pastikan untuk selalu memantau dan mengecek kesehatan mereka secara berkala untuk mencegah kemungkinan penularan.

1. Monyet

Sejumlah pakar penyakit menular menyatakan, kera atau monyet bisa membawa virus Herpes B yang dapat ditularkan melalui air liur dan berpotensi mematikan.

"Herpes B dapat menyebabkan ensefalitis, pembengkakan otak. Virus ini terdapat dalam air liur dan dapat masuk ke otak. Untungnya, kasus ini masih cukup jarang terjadi," kata dr William Schaffner, profesor dan chairman di Department of Preventive Medicine dari Vanderbilt University School of Medicine di Nashville, Tennessee.

2. Kelelawar

Meskipun kelelawar jarang ditemukan, binatang ini juga dapat menyebabkan penyakit serius. "Kelelawar dapat menyebabkan rabies pada manusia," ungkap Schaffner.

Virus rabies lebih sering menyebar melalui kontak dengan binatang lain yang terinfeksi, seperti serigala, anjing hutan, rakun, selain juga anjing dan kucing.

Rabies dapat memengaruhi sistem saraf pusat dan dapat menyebabkan kebingungan, halusinasi, kelumpuhan parsial, dan kesulitan menelan. Jika tidak diobati, maka rabies biasanya berakibat fatal dalam beberapa hari setelah gejala ini muncul.

3. Kelinci liar

Sebagai binatang peliharaan, kelinci memang terlihat begitu manis dan menggemaskan. Namun, kelinci juga bisa membahayakan karena dapat menularkan penyakit tularemia. Tularemia adalah penyakit yang dapat menyebabkan masalah pernapasan serius. Tularemia juga dikenal sebagai demam kelinci.

Gejala yang ditimbulkan di antaranya demam mendadak, menggigil, nyeri sendi, dan lemah. Bahkan, orang yang terinfeksi dapat berisiko terkena pneumonia (radang pada organ paru) dan kesulitan bernapas.

Ahli Penyakit Menular dari University of Miami Miller School of Medicine, dr Gordon Dickinson, mengatakan bahwa orang-orang yang berisiko tinggi terhadap penyakit ini adalah pemburu.

4. Burung

Burung dapat menularkan sejumlah penyakit. Di antaranya flu burung, penyakit yang cukup mendapat perhatian internasional pada tahun 1990-an.

Flu burung disebabkan oleh virus, H5N1, yang dapat menular melalui penanganan unggas yang terinfeksi. Sejak tahun 1997, lebih dari 120 juta burung di seluruh dunia telah mati atau dimusnahkan untuk mencegah penyebaran virus tersebut. H5N1 sangat mematikan pada manusia.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 300 orang telah meninggal dunia akibat flu burung sejak tahun 2003. Gejala umum yang dapat terjadi adalah demam tinggi, keluhan pernapasan dan (mungkin) perut. Replikasi virus dalam tubuh dapat berjalan cepat sehingga pasien perlu segera mendapatkan perhatian medis.

5. Tikus

Hantavirus adalah penyakit yang ditularkan oleh tikus. Hantavirus terdapat pada tinja, air liur, dan air kencing tikus. Gejala pada penderita antara lain demam dan nyeri otot, sakit perut, diare, dan muntah. Gejala berlanjut menjadi batuk dan sesak napas dalam 4-5 hari setelah terinfeksi. Jika tak segera ditangani, maka penyakit ini bisa berakibat fatal, yakni infeksi paru-paru.

Bukan hanya itu, tikus juga dapat menularkan penyakit leptospirosis. Leptospirosis adalah penyakit akibat bakteri Leptospira sp yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan meningitis. Bakteri tersebut juga dapat menularkan bakteri salmonela dan giardia, yang dapat menyebabkan penyakit pencernaan.

6. Reptil

Reptil adalah hewan yang sangat berbahaya karena secara alami membawa bakteri salmonela pada kulit mereka.

"Sama halnya dengan manusia yang memiliki (bakteri Staph) pada kulit, reptil juga mempunyai bakteri, yakni salmonela, pada kulit mereka," kata Emilio DeBess, seorang dokter hewan.

Menurut DeBess, anak-anak sangat rentan terhadap infeksi salmonela yang disebabkan oleh reptil. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS memperkirakan bahwa sekitar 74.000 orang terpapar bakteri salmonela yang berasal dari reptil.

7. Sapi

Menurut Emilio DeBess, sapi mempunyai keterkaitan dengan penyebaran tiga penyakit utama, seperti infeksi salmonela, infeksi E coli, dan ensefalitis. Strain bakteri E coli yang dikenal sebagai O157: H7 tidak berbahaya untuk hewan ternak, tetapi dapat menyebabkan penyakit serius dan bahkan kematian pada manusia.

Ensefalitis sapi, atau Mad Cow Disease, adalah penyakit peradangan otak akut yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Jika menyebar ke manusia, maka penyakit ini dapat menyebabkan Creutzfeld-Jakob Disease, suatu penyakit degeneratif otak dan bisa mematikan pada manusia. DeBess mengatakan, sulit untuk mengetahui berapa banyak jumlah kasus Creutzfeld-Jakob karena masa inkubasinya cukup panjang.

8. Anjing

Anjing merupakan teman terbaik manusia yang juga bisa menjadi musuh terburuk manusia ketika menularkan penyakit. Selain menyebabkan rabies, anjing dapat menularkan parasit seperti cacing tambang dan cacing gelang.

Bahkan DeBess menambahkan, kutu pada anjing dapat membawa bakteri yang menyebabkan penyakit Rocky Mountain Spotted Fever, yang berakibat fatal jika tidak diobati.

9. Kucing

Selain menyebabkan rabies, kucing juga dapat menularkan penyakit tularemia dan toksoplasmosis. Menurut DeBess, bakteri dan parasit yang menyebabkan tularemia dan toksoplasmosis biasanya dibawa oleh hewan lain.

Toksoplasma dapat terpapar apabila manusia melakukan kontak dengan kotoran kucing yang terkontaminasi atau mengonsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi. "Kami selalu khawatir hal akan terjadi pada wanita hamil karena dapat menyebar dari ibu ke janin," katanya.

Toksoplasma sangat potensial menyebabkan infeksi bayi dalam kandungan yang dapat menyebabkan keguguran, kematian bayi dalam kandungan, dan kecacatan pada bayi. Toksoplasmosis berat dapat menyebabkan kerusakan pada otak, mata, atau organ lainnya.

Artikel dikutip dari http://lifestyle.kompas.com/read/2012/10/03/11544113/9.Hewan.Ini.Berisiko.Tularkan.Penyakit.
Selengkapnya »

Bahaya memberi madu kepada bayi dibawah 1 tahun



Madu adalah salah satu pemanis alami yang banyak disukai orang. Tapi para orangtua sebaiknya tidak memberikan madu pada bayi di bawah usia 1 tahun, karena berisiko terkena botulisme pada bayi.

Botulisme adalah salah satu jenis keracunan makanan yang dapat menyebabkan kematian.

Madu memang memiliki berbagai macam manfaat bagi kesehatan tubuh seseorang, seperti untuk penambah stamina atau dipercaya memiliki sifat antimikroba.

Namun hal ini sepertinya tidak akan berlaku pada bayi yang belum genap berusia 1 tahun. Karena kemungkinan bukan manfaat tersebut yang didapatkan tapi bisa mengakibatkan botulisme pada bayi.

Seperti dikutip dari Pediatrics.about.com, Selasa (25/5/2010) bahwa bayi berusia di bawah 12 bulan memiliki risiko terkena botulisme jika mengonsumsi madu, sehingga sebaiknya dihindari.

Hal ini disebabkan spora dari bakteri Clostridium botulinum ini dapat ditemukan dalam madu alami, ketika madu tersebut masuk ke dalam tubuh dan dicerna oleh bayi maka spora dari bakteri ini akan melepaskan toksin yang dapat menyebabkan botulisme (keracunan).

Badan standar makanan (Food Standards Agency) Amerika Serikat merekomendasaikan sebaiknya memberikan madu setelah bayi berusia di atas 1 tahun, karena pada usia tersebut sistem pencernaannya sudah cukup matang untuk tidak membiarkan bakteri tersebut tumbuh di dalam tubuh.

Sedangkan saat usianya masih di bawah 1 tahun sistem pencernaannya belum matang sehingga rentan terhadap keracunan botulisme dari makanan.

Spora botulinum secara luas ditemukan pada beberapa pemanis lain seperti sirup mapel dan sirup jagung, namun memang lebih cenderung berada di dalam madu.

Karenanya orangtua harus memastikan setiap kandungan yang terdapat di dalam makanan olahan untuk bayinya, terutama yang belum di pasteurisasi (diolah dengan cara pemanasan).

Botulisme pada bayi bisa mematikan jika tidak terdeteksi sejak dini, hal ini karena sifat menyebar yang dimiliki oleh toksin tersebut.

Orangtua sebaiknya mengenali tanda-tanda dari botulisme pada bayi, yaitu:

Biasanya diawali dengan sembelit atau susah buang air besar.
Mengalami kelemahan otot akibat adanya kerusakan sistem saraf.
Bayi akan menangis dan lama kelamaan akan menjadi lebih lemah.
Bayi akan mengalami kesulitan makan dan menelan.
Kelemahan yang dialami bayi akan membuatnya menjadi lesu.

Bayi memiliki risiko lebih besar pada enam bulan pertama kehidupannya, karena itu orangtua harus mencatat setiap kesehatan dan perubahan yang terjadi pada bayinya.

Orangtua sebaiknya menjaga kebersihan dan mengelola makanan yang akan dikonsumsi oleh bayi dengan teliti, serta dianjurkan untuk lebih menahan diri saat memberikan makanan pada bayinya terutama makanan yang terlalu manis.

Artikel dikutip dari http://health.detik.com/read/2010/05/25/133039/1363696/764/bayi-di-bawah-1-tahun-jangan-diberi-madu?lbbank
Selengkapnya »

Hati2 dengan virus Kawasaki



Penyakit Kawasaki adalah penyakit yang dapat menyebabkan peradangan pada dinding pembuluh darah di seluruh tubuh, khususnya pembuluh darah jantung. Kondisi ini termasuk penyakit langka yang mayoritas menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun. Umumnya balita yang berusia antara satu setengah hingga dua tahun.

Selain pembuluh darah, penyakit Kawasaki dapat menyerang limfonodi, kulit, dan membran mukosa yang terdapat di dalam mulut, hidung, serta tenggorokan. Karena itu, penyakit ini juga disebut sindrom limfonodi mukokutan.

Penyebab penyakit Kawasaki belum diketahui secara pasti. Para pakar menduga terdapat beberapa faktor yang mungkin melatarbelakangi penyakit ini, misalnya faktor keturunan, infeksi, kondisi autoimun, dan beberapa faktor lainnya.

Pengobatan terhadap penyakit Kawasaki paling baik dilakukan maksimal 10 hari sejak gejala muncul. Semakin cepat penanganan dilakukan, semakin kecil pula risiko komplikasi. Penyakit ini pun bisa lebih cepat disembuhkan.

Gejala-gejala Penyakit Kawasaki

Gejala penyakit Kawasaki umumnya muncul dalam tiga tahap dan akan berlangsung selama kurang lebih 1,5 bulan.

Tahap pertama terjadi pada minggu 1-2. Pada tahap ini, gejala utama yang muncul adalah demam selama lebih dari lima hari yang disertai:

- Ruam kemerahan yang pertama muncul di area organ intim dan menyebar ke tubuh bagian atas, tangan, kaki, serta wajah. Ruam ini biasanya akan hilang dalam waktu satu minggu.
- Mata merah, tapi tidak keluar cairan.
- Perubahan kondisi mulut, seperti lidah atau tenggorokan merah serta bibir yang kering dan pecah-pecah.
- Jari-jari tangan atau kaki yang bengkak dan memerah. Tangan dan kaki juga akan terasa sakit.
- Pembengkakan kelenjar getah bening pada leher.

Pada minggu 2-4, pasien pengidap penyakit Kawasaki akan mengalami tahap kedua. Demam biasanya sudah turun, tapi pasien akan mengalami gejala-gejala lain yang meliputi kulit pada ujung jari tangan dan kaki mengelupas, gangguan pencernaan (seperti diare, muntah, dan sakit perut), serta rasa nyeri dan pembengkakan pada sendi.

Pada tahap inilah, risiko komplikasi seperti aneurisma dapat muncul. Aneurisma adalah kondisi pecahnya pembuluh darah akibat dinding pembuluh darah tidak cukup kuat untuk menahan aliran darah. Lemahnya pembuluh darah ini disebabkan oleh proses peradangan yang terjadi akibat penyakit Kawasaki.

Pasien akan memasuki tahap ketiga pada minggu 4-6. Pada minggu-minggu ini, gejala-gejala penyakit Kawasaki perlahan-lahan akan berkurang, tapi kondisi anak umumnya masih lemas sehingga mudah lelah.

Gejala-gejala penyakit ini cenderung mirip dengan infeksi lain, terutama gejala demam pada tahap pertama. Jika anak Anda mengalami kondisi ini, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter agar anak Anda mendapat penanganan yang tepat.

Penyakit Kawasaki memang tidak bisa dicegah, tapi diagnosis dan penanganan secepat mungkin dapat menurunkan risiko komplikasi. Dengan penanganan dini, sebagian besar anak yang mengidap penyakit ini dapat sembuh total dalam waktu enam minggu hingga dua bulan.

Penyebab Penyakit Kawasaki
Sampai saat ini belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab kemunculan penyakit Kawasaki. Para ahli menilai penyakit ini mungkin disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu infeksi dan keturunan.

Jika dilihat dari gejala-gejalanya, penyakit Kawasaki bisa disebabkan oleh pengaruh infeksi. Jenis bakteri maupun virus yang menyebabkan penyakit ini masih belum teridentifikasi dengan jelas hingga sekarang. Penyakit ini tidak menular dan hampir tidak pernah menyerang bayi di bawah enam bulan karena bayi dilindungi zat antibodi yang didapat dari ibunya. Antibodi merupakan protein yang mampu menghancurkan organisme pembawa penyakit. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan penyakit ini menyerang anak pada usia tersebut.

Faktor keturunan diduga juga berpengaruh terhadap kemunculan penyakit Kawasaki. Jika seorang anak mengidap penyakit Kawasaki, besar kemungkinan orang tua sang anak juga pernah mengalaminya sewaktu kecil. Saudara kandung dari seorang anak yang memiliki riwayat penyakit Kawasaki juga berisiko mengalami penyakit ini.

Diagnosis Penyakit Kawasaki
Tidak ada tes khusus yang dapat digunakan untuk mengonfirmasi penyakit ini. Biasanya dokter akan mendiagnosis penyakit ini dengan memeriksa kondisi fisik dan gejala-gejala yang dialami sang anak. Sejumlah indikasi yang umumnya dianggap sebagai patokan adalah gejala-gejala pada tahap pertama, seperti durasi dan suhu demam yang diderita, mata merah, perubahan pada mulut, bibir, serta jari tangan dan kaki.

Pemeriksaan lebih lanjut juga mungkin akan dianjurkan, misalnya tes darah, tes urine, pungsi lumbal, elektrodiagram, atau ekokardiogram. Proses ini dilakukan guna menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain yang memiliki gejala-gejala yang mirip, seperti campak, demam scarlet,  toxic shock syndrome, Stevens-Johnson syndrome, serta lupus.

Penyakit Kawasaki juga berpotensi menyebabkan gangguan jantung. Dokter seringkali menemukan adanya pelebaran pembuluh darah di sekitar jantung pada pengidap penyakit Kawasaki. Oleh karena itu, dokter juga menyertakan tes elektrodiagram dan ekokardiogram saat mendiagnosis pasien.

Pengobatan Penyakit Kawasaki
Penanganan sedini dan seefektif mungkin sangat penting untuk mempercepat proses penyembuhan dan menurunkan risiko komplikasi. Jika tidak segera ditangani, penyembuhan penyakit Kawasaki akan semakin lama, risiko komplikasinya juga semakin besar.

Tujuan utama pengobatan pada tahap awal adalah untuk menurunkan demam, mengurangi inflamasi, sekaligus mencegah kerusakan pada jantung. Prosedur utama yang dilakukan untuk mengobati penyakit ini adalah dengan memberikan aspirin dan imunoglobulin.

Aspirin sebetulnya tidak boleh dikonsumsi oleh anak-anak di bawah 16 tahun, tapi penyakit Kawasaki merupakan salah satu pengecualian. Obat ini dapat mengatasi peradangan, menurunkan demam, serta mengurangi rasa sakit. Dosis dan durasi penggunaan aspirin akan ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi pasien.

Pemberian imunoglobulin melalui infus juga dibutuhkan untuk menurunkan demam sekaligus risiko komplikasi jantung. Intensitas gejala penyakit Kawasaki umumnya akan berkurang setelah pasien menerima infus ini. Jenis imunoglobulin yang digunakan untuk mengatasi penyakit Kawasaki adalah gamma globulin.

Jika aspirin dan immunoglobulin tidak berfungsi, dokter munkin akan memberikan kortikosteroid. Di samping obat-obatan, Anda dapat memberikan penanganan sederhana untuk menurunkan panas. Misalnya dengan memberikan banyak minum atau mengompres anak Anda.

Setelah demam turun, dokter mungkin akan memberikan aspirin dengan dosis rendah jika pasien terdeteksi mengalami masalah pada pembuluh darah koroner. Aspirin dosis rendah berfungsi untuk mencegah penggumpalan darah. Obat ini biasanya akan diberikan hingga 1,5-2 bulan sejak gejala muncul.


Risiko Komplikasi Penyakit Kawasaki

Komplikasi utama akibat penyakit Kawasaki adalah masalah jantung. Jika tidak ditangani dengan efektif, diperkirakan sekitar satu di antara lima anak pengidap penyakit ini akhirnya menderita komplikasi jantung. Bahkan, 1 di antara 100 kasus komplikasi yang terjadi berakibat fatal.

Umumnya, gangguan jantung yang terjadi pada pengidap penyakit Kawasaki bisa ditemukan pada minggu pertama dan kedua sejak gejala muncul. Tanda-tanda yang sering ditemukan biasanya berupa detak jantung yang sangat cepat (tachycardia), penumpukkan cairan di dalam jantung (pericardial effusion), atau peradangan pada otot jantung (myocarditis).

Komplikasi serius pada pengidap penyakit Kawasaki umumnya disebabkan oleh inflamasi dan pembengkakan pada pembuluh darah koroner. Dinding pembuluh darah mungkin akan melemah sehingga menyebabkan terbentuknya aneurisma atau dinding pembuluh bisa menyempit dan memicu penggumpalan darah. Kedua komplikasi ini dapat berujung pada kerusakan jantung.

Dokter akan menganjurkan pemeriksaan lebih lanjut untuk memantau kondisi jantung anak Anda secara berkala jika terdapat indikasi bahwa anak Anda mengidap masalah jantung. Proses pemantauan ini biasanya diadakan pada enam hingga delapan minggu setelah gejala penyakit Kawasaki muncul.

Jika masalah jantung yang dialami berkelanjutan, anak Anda akan menjalani penanganan oleh dokter spesialis jantung. Kondisi ini umumnya akan ditangani dengan obat-obatan seperti antikoagulan dan antiplatelet atau prosedur operasi yang meliputi angioplasti koroner dan bedah bypass arteri jantung (CABG).

Pasien dengan tingkat komplikasi yang parah mungkin akan mengalami kerusakan permanen pada otot atau katup jantung yang berfungsi mengontrol aliran darah. Oleh karena itu, mereka dianjurkan untuk selalu melakukan pemeriksaan secara regular dengan dokter spesialis jantung agar kondisinya bisa terus terpantau.

-----

HARI masih pagi saat sebuah mobil mewah meluncur dengan kencangnya di jalan bebas hambatan di Eropa. Tiba-tiba mobil menghantam tepi jalan dan terbalik. Saksi mata yang melihat menduga si pengemudi mabuk. Polisi datang dan menemukan si pengemudi seorang gadis berusia 19 tahun, meninggal.

Hasil otopsi menunjukkan gadis itu mendadak kena serangan jantung koroner sehingga tak dapat lagi mengontrol mobilnya. Ternyata, data rekam medisnya menunjukkan, ia pernah terkena penyakit kawasaki saat berusia 2 tahun tanpa disadari oleh dokter maupun keluarganya.

Tragedi serupa dialami Joni, bayi lucu yang berusia 8 bulan. Sudah lebih 10 hari ia demam dan ibunya sudah berganti dokter. Akhirnya ketahuan bahwa ia menderita penyakit kawasaki. Sayang sudah terlambat. Katup jantungnya mengalami kerusakan parah dan nyawanya tak tertolong lagi.

Apakah itu penyakit kawasaki (PK)?

PK ditemukan oleh Dr Tomisaku Kawasaki di Jepang tahun 1967 dan saat itu dikenal sebagai mucocutaneous lymphnode syndrome. Untuk menghormati penemunya, maka dinamakan penyakit kawasaki. Di Indonesia, banyak di antara kita yang belum memahami penyakit yang berbahaya ini, bahkan di kalangan medis sekalipun. Hal inilah yang menyebabkan diagnosis acap terlambat dengan segala konsekuensinya.

Penampakan penyakit ini juga dapat mengelabui mata sehingga dapat terdiagnosis sebagai campak, alergi obat, infeksi virus, atau bahkan penyakit gondong. Penyakit yang lebih sering menyerang ras Mongol ini terutama menyerang balita dan paling sering pada anak usia 1-2 tahun. Bahkan, penulis pernah menemukan PK pada seorang bayi berusia 3 bulan yang menderita demam selama 18 hari.

Angka kejadian per tahun di Jepang tertinggi di dunia, yaitu berkisar 1 kasus per 1.000 anak balita, disusul Korea dan Taiwan. Di Amerika Serikat berkisar 0,09 (pada ras kulit putih) sampai 0,32 (pada keturunan Asia-Pasifik) per seribu balita.  Di Indonesia, penulis menemukan kasus PK sejak tahun 1996, tapi ada dokter yang menyatakan sudah menemukan sebelumnya.

Indonesia baru resmi tercatat dalam peta penyakit kawasaki dunia setelah laporan seri kasus PK dari Advani dkk diajukan pada simposium internasional penyakit kawasaki ke-8 di San Diego, AS, awal tahun 2005. Diduga, kasus di Indonesia tidaklah sedikit dan menurut perhitungan kasar, berdasarkan angka kejadian global dan etnis di negara kita, tiap tahun akan ada 3.300-6.600 kasus PK.

Namun kenyataannya kasus yang terdeteksi masih sangat jauh di bawah angka ini. Sekitar 20-40 persen-nya mengalami kerusakan pada pembuluh koroner jantung. Sebagian akan sembuh  namun sebagian lain terpaksa menjalani hidup dengan jantung yang cacat akibat aliran darah koroner yang terganggu. Sebagian kecil akan meninggal akibat kerusakan jantung.

Penyebab PK hingga saat ini belum diketahui, meski diduga kuat akibat suatu  infeksi, namun belum ada bukti yang meyakinkan. Karena itu cara pencegahannya juga belum diketahui.  Penyakit ini juga tidak terbukti  menular.

Gejala awal
Gejala awal pada fase akut adalah demam yang mendadak tinggi dan bisa mencapai 41° C. Demam berfluktuasi selama setidaknya 5 hari tetapi tidak pernah mencapai normal. Pada anak yang tidak diobati, demam dapat berlangsung selama 1-4 minggu tanpa jeda. Pemberian antibiotik  tidak menolong. Sekitar 2-3 hari setelah demam, mulai muncul gejala lain secara bertahap yaitu bercak bercak merah di badan yang mirip seperti pada penyakit campak.

Namun gejala batuk pilek yang dominan pada campak biasanya ringan atau bahkan tidak ada pada PK. Gejala lain yang timbul adalah kedua mata merah, tapi tanpa kotoran (belekan), pembengkakan kelenjar getah bening di salah satu sisi leher sehingga kadang diduga  penyakit gondong (parotitis), lidah merah menyerupai stroberi, bibir juga merah dan kadang pecah-pecah, telapak tangan dan kaki merah dan agak membengkak. Kadang anak mengeluh nyeri pada persendian. Pada fase penyembuhan terjadi pengelupasan kulit di ujung jari tangan serta kaki dan kemudian timbul cekungan berbentuk garis melintang pada kuku kaki dan tangan (garis Beau).

Penderita PK harus dirawat inap di rumah sakit dan mendapat pengawasan dari dokter ahli jantung anak. Komplikasi yang paling ditakutkan adalah pada jantung (terjadi pada 20-40 persen penderita) karena dapat merusak pembuluh nadi koroner. Komplikasi ke jantung biasanya mulai terjadi setelah hari ke 7-8 sejak awal timbulnya demam. 

Pada awalnya dapat terjadi pelebaran pembuluh ini kemudian bisa terjadi penyempitan bagian dalam atau sumbatan. Akibatnya aliran darah ke otot jantung terganggu sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada otot jantung yang dikenal sebagai infark miokard. Pemeriksaan jantung menjadi hal yang sangat penting termasuk EKG dan ekokardiografi (USG jantung). Kadang  ultrafast CT scan, MRA (Magnetic Resonance Angiography) maupun kateterisasi jantung diperlukan pada kasus yang berat. Pemeriksaan laboratorium untuk penyakit ini tidak ada yang khas.

Biasanya jumlah sel darah putih, laju endap darah dan C Reactive protein  meningkat pada fase akut. Jadi diagnosis ditegakkan  atas dasar gejala dan tanda klinis semata sehingga  pengalaman dokter sangat dibutuhkan. Pada fase penyembuhan,  trombosit darah  meningkat dan ini akan memudahkan terjadinya trombus atau bekuan darah yang menyumbat pembuluh koroner jantung.

Pengobatan
Obat yang mutlak harus diberikan adalah imunoglobulin secara infus selama 10-12 jam. Obat yang didapat dari plasma donor darah ini ampuh untuk meredakan gejala PK maupun menekan risiko kerusakan jantung, tapi harga yang mahal menjadi kendala. Harga satu gram berkisar Rp 1 juta. Penderita PK membutuhkan imunoglobulin 2 gram per kg berat badannya.

Sebagai contoh, anak yang berat badannya 15 kg misalnya membutuhkan 30 gram atau seharga sekitar Rp 30 juta. Penderita juga diberikan asam salisilat untuk mencegah kerusakan jantung dan sumbatan pembuluh koroner. Jika tidak ada komplikasi anak dapat dipulangkan dalam beberapa hari. Pada kasus yang terlambat dan sudah terjadi kerusakan pembuluh koroner perlu rawat inap yang lebih lama dan pengobatan yang intensif guna mencegah kerusakan jantung lebih lanjut.

Jika dengan obat-obatan tidak berhasil, kadang diperlukan operasi pintas koroner (coronary bypass)  atau bahkan, meskipun sangat jarang, transplantasi jantung. Kematian dapat terjadi pada 1-5 persen penderita yang umumnya terlambat ditangani dan puncaknya terjadi pada 15-45 hari setelah awal timbulnya demam. Meskipun demikian, kematian mendadak dapat terjadi bertahun-tahun setelah fase akut. PK juga dapat merusak katup jantung (terutama katup mitral) yang dapat menimbulkan kematian mendadak beberapa tahun kemudian. Kemungkinan kambuhnya penyakit ini adalah sekitar 3 persen.

Pada penderita yang secara klinis telah sembuh total sekalipun, dikatakan pembuluh koronernya akan mengalami kelainan pada lapisan dalam yang memudahkan terjadinya penyakit jantung koroner pada usia dewasa muda kelak. Jika ditemukan serangan jantung koroner akut pada dewasa muda, mungkin perlu dipikirkan kemungkinan pernah terkena PK saat masih anak-anak. Kiranya kita semua perlu mewaspadai penyakit ini agar tidak menimbulkan korban lebih lanjut.

Artikel dikutip dari:
http://www.alodokter.com/penyakit-kawasaki
http://nasional.kompas.com/read/2008/07/29/11370546/penyakit.kawasaki.apakah.itu

Selengkapnya »

Kapan Saatnya Bayi boleh Naik Pesawat?



Bolehkah bayi naik pesawat? Berikut adalah tips yang dikutip dari situs Traveloka.com sebagai informasi bagi orang tua yang akan berpergian membawa si kecil. :)

Buat orang tua yang akan melakukannya untuk pertama kali, membawa si buah hati naik pesawat bisa jadi pengalaman yang menimbulkan kecemasan. Selain berkonsultasi dengan dokter mengenai kesiapan si kecil, berikut adalah tips membawa bayi Anda naik pesawat, mulai dari persiapan booking tiket pesawat hingga tips agar si kecil tenang dan nyaman selama di pesawat.

Selain itu, simak juga ketentuan bayi dari tiap-tiap maskapai utama di Indonesia di bawah ini.

A. Sebelum booking tiket
Kapan usia aman bayi naik pesawat?

Ketentuan tiap maskapai bisa berbeda-beda, ada yang minimum usia 2 hari, ada yang minimum usia 14 hari. Maskapai biasanya akan meminta Surat Keterangan Medis dari dokter yang menyatakan bahwa bayi cukup sehat untuk terbang.

Bayi berusia di bawah 2 minggu memiliki risiko lebih besar. Dalam usia dini ini, daya tahan bayi masih sangat lemah dan karenanya rentan untuk terjangkit penyakit seperti batuk atau flu dari orang sekitar di ruang kabin pesawat nanti.

Jadi kapan usia terbaik untuk bayi naik pesawat? Usia minimum 3 bulan dianggap usia yang paling aman untuk bayi naik pesawat. Saat mencapai usia ini, daya tahan bayi sudah lebih kuat juga dalam menghadapi perubahan suhu udara.


Berapa harga tiket pesawat untuk bayi?


Umumnya, bayi digolongkan berusia di bawah 2 tahun (24 bulan) pada saat penerbangan. Sebagian besar maskapai mengharuskan bayi untuk duduk di pangkuan penumpang dewasa, dengan batasan satu orang dewasa hanya boleh membawa satu bayi.

Walau tidak memiliki tempat duduk sendiri, bayi tetap membutuhkan tiket, bukti usia seperti akte lahir, demikian juga paspor ketika terbang ke luar negri. Tiap maskapai memiliki ketentuan berbeda mengenai harga tiket bayi. Bagi beberapa maskapai, harga tiket bayi gratis. Namun ada juga maskapai yang menentukan tarif bayi yaitu sekian persen dari tarif dewasa, sekalipun bayi duduk di pangkuan penumpang dewasa. Jika bayi memiliki tempat duduk sendiri, tarif yang dikenakan serupa dengan tarif dewasa.

Apakah bayi mendapat jatah bagasi sendiri? Hal ini juga tergantung tiap maskapai. Pastikan hal ini dari maskapai terkait.


Barang-barang apa saja yang diperlukan selama penerbangan?


Antisipasi juga sekiranya terjadi delay. Di beberapa penerbangan internasional berlaku batasan untuk membawa cairan di kabin, namun ini tidak berlaku khusus untuk makanan/susu bayi:

Pastikan Anda memiliki barang-barang ini di dalam tas kabin Anda:

    Bawa popok sekali pakai dan tissue basah, dikemas bersama di dalam sebuah tas/kantung kecil. Saat mengganti popok bayi di toilet pesawat, Anda jadi tidak perlu membawa seluruh tas kabin.
    Baju cadangan untuk bayi dan juga Anda. Ini terutama untuk mengantisipasi hal-hal seperti ketumpahan, muntah, turbulensi dll.
    Susu dan makanan bayi. Ini termasuk ASI yang sudah diperah dalam botol jika bayi Anda minum ASI.
    Air panas di dalam botol untuk membuat makanan bayi.
    Nursing apron atau celemek menyusui, yaitu kain yang berguna untuk menutupi ibu dan bayi saat menyusui maupun memerah susu di tempat umum.
    Selimut untuk bayi. Walau di beberapa penerbangan jarak jauh (long-haul) disediakan selimut, bahannya bisa jadi tidak cocok untuk kulit bayi yang masih sensitif. Selain itu, bau selimut bayi Anda sendiri akan menyenangkan buat si bayi.
    Empeng.
    Mainan favorit bayi, dan juga mainan baru untuk mencegah bayi dari kebosanan.


B. Saat booking tiket

Saat memesan tiket, ada beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan, antara lain:

    Waktu terbang. Untuk penerbangan jarak pendek, memilih waktu terbang siang bisa jadi keputusan terbaik karena itu adalah jam tidur siang bayi. Untuk penerbangan jarak jauh, waktu terbang malam adalah paling nyaman untuk bayi karena dia bisa tidur nyenyak di pesawat.
    Jika bayi Anda sudah lebih besar, pesanlah satu tempat duduk ekstra untuk bayi, terutama untuk penerbangan jarak jauh.
    Jika memungkinkan, book tempat duduk di bagian depan (bulkhead seat). Tempat duduk ini memiliki ruang lebih untuk kaki Anda dan lebih jauh dari mesin pesawat yang bising. Jika Anda book tiket secara online, informasikan hal ini sekali lagi melalui call center maskapai.
    Pilih tempat duduk di gang (aisle) agar leluasa keluar masuk mengurus si kecil ke toilet atau berjalan-jalan di lorong kabin.
    Cari tahu tentang peraturan kereta bayi (stroller) bagi tiap maskapai. Ada maskapai yang mengizinkan membawa stroller ke kabin, ada yang menggolongkan stroller sebagai bagasi.


C. Saat tiba di bandara

Usahakan untuk tiba jauh lebih awal di bandara, supaya Anda tidak tergesa-gesa sewaktu check-in dan melewati security (jika ke luar negri: bagian imigrasi). Jika Anda membawa bayi dengan stroller, maka stroller harus dilipat tiap kali melewati mesin scan security.

Selagi menunggu boarding, usahakan untuk bermain/beraktivitas dengan sang bayi agar dia kelelahan dan mudah tertidur saat sudah di atas pesawat.


Bagaimana agar bayi tenang selama di pesawat?

    Usahakan untuk menyusui bayi Anda saat lepas landas dan mendarat. Menelan akan mencegah bayi dari mengalami kesakitan telinga akibat perubahan tekanan udara. Empeng juga dapat menolong.
    Jika bayi nampak resah dan rewel, ajak dia berkeliling di lorong kabin dan melihat-lihat. Ini biasanya efektif untuk menenangkan bayi.
    Suhu kabin cenderung dingin. Perlengkapi bayi dengan baju hangat, kaos kaki, penutup kepala dan sarung tangan.
    Jika bayi dalam keadaan bangun selama penerbangan, sibukkan bayi dengan beraktivitas kecil agar dia tidak kebosanan. Jika dia masih rewel dengan mainannya, beri mainan baru.
    Jangan merasa sungkan untuk meminta bantuan dari kru kabin sekiranya Anda butuh pertolongan.

Kesalahan umum membawa bayi naik pesawat

Anda mungkin hendak berlibur atau kembali dari mudik dengan membawa bayi naik pesawat. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Terlebih bila ini adalah kali pertama membawa bayi naik pesawat.

Mungkin ada kekhawatiran si kecil rewel atau sulit tidur selama di perjalanan. Agar perjalanan naik pesawat pertama dengan bayi berjalan lancar, ketahui kesalahan yang sering dilakukan orangtua saat membawa bayi naik pesawat ini dan hindari sedini mungkin!

1. Tidak mengetahui aturan mengenai membawa ASI perah

Membawa ASI perah menjadi salah satu pilihan Anda saat membawa bayi naik pesawat. Untuk aturan penerbangan nasional, Anda bisa membawa ASI perah di dalam kotak berukuran 30 – 40 cm dan diperbolehkan membawa ASI perah sebanyak 1 liter.

Namun, Anda harus memerhatikan keamanan wadah yang digunakan. Wadah harus tersegel baik dan dipastikan tak akan tumpah. Jika melakukan perjalanan jauh, Anda juga bisa menitipkan ASI perah ke dalam lemari pendingin pesawat.

2. Salah memilih jadwal keberangkatan

Bila selama ini Anda mempertimbangkan harga saat hendak memilih jadwal pesawat, kini saatnya mempertimbangkan jam tidur anak. Usahakan waktu penerbangan disamakan dengan jam tidur siang dan malam bayi.

Hal ini akan membantunya cepat terlelap di dalam pesawat. Selain itu, gunakan pakaian yang nyaman atau mungkin pakaian tidur. Hal ini akan memberikan stimulus pada anak untuk terlelap di pesawat.

3. Memaksa anak tidur

Jika anak tidak bisa tidur sepanjang perjalanan, sebenarnya Anda tak perlu memaksa ia tidur. Ruang sempit dan situasi pesawat yang tidak nyaman pasti akan sulit membuatnya tertidur.

Menyiapkan selimut, mainan, serta barang kesayangannya akan membantu anak untuk tetap tenang selama di pesawat. Berjalan-jalan sejenak di kabin pesawat juga bisa jadi pilihan untuk membuatnya tenang.

4. Tidak meminta bantuan pramugari untuk keselamatan bayi

Sebenarnya Anda tak perlu sungkan untuk bertanya perihal keselamatan bayi saat di pesawat, termasuk ketika pemasangan sabuk pengaman.

Memangku bayi bukan berarti Anda akan aman selama di pesawat, lho. Mintalah penjelasan kepada pramugari mengenai saat-saat darurat jika membawa bayi dalam pesawat.

Saat kadar oksigen di kabin menurun, misalnya, Anda harus memastikan diri sendiri aman sebelum menyelamatkan anak. Keselamatan penting juga untuk diingat ketika mengajak bayi naik pesawat. (Sumber: TabloidNova.com/Tabloid-Nakita.com)
Selengkapnya »

Pertolongan pada bayi tersiram air panas



Dispenser sering kali mengundang perhatian anak-anak. Mereka tidak peduli bahwa dirinya berpotensi terkena luka bakar jika memainkan keran di dispenser yang mengatur air panas. Lalu bagaimana jika si kecil terkena air panas, bagaimana pertolongan pertamanya?

dr Dita Elvina, Koordinator Instalasi Gawat Darurat dari Brawijaya Children and Women Hospital, menyarankan agar bagian tubuh yang tersiram air panas segera diberi air dingin. Tidak perlu air es, namun air mengalir dari keran pun boleh-boleh saja.

"Yang penting air mengalir yang sejuk. Karena panas jadi kalau dimasukkan ke air yang dingin sehingga tidak terjadi pelebaran pembuluh darah dan kulit sehingga tidak terjadi penggelembungan pada kulit," jelas dr Dita beberapa waktu lalu dan ditulis pada Senin (16/11/2015).

Baca juga: Ini Akibatnya Kalau Luka Bakar Diberi Pasta Gigi atau Mentega

Terkait luka bakar, ada baiknya Anda mengenal derajatnya. Karena ada 3 derajat luka bakar, yakni:
1.  Derajat 1, lukanya hanya kulit luar. Bentuknya merah, terasa nyeri, dan tidak ada reaksi lain. Proses penyembuhan 3-6 hari,
2. Derajat 2, timbul seperti melepuh, di mana ada gelembung cairan. Proses penyembuhan 3 minggu.
3. Derajat 3, luka bakar sampai kulit jangat atau dermis. Biasanya ciri-cirinya kering dan berwarna putih keabu-abuan. Jika lebih anak-anak mengalami luka jenis ini sampai 7,5 persen maka harus dirawat, karena perlu antibiotik dan cairan.

Nah, berikut ini pertolongan pertama untuk anak yang mengalami luka bakar:

1. Langsung aliri bagian tubuh yang kena luka bakar dengan air sejuk 15-20 menit.
2. Olesi salep khusus luka bakar
3. Tutup luka dengan kasa steril
4. Jika terasa sakit, bisa diberikan obat pereda rasa sakit.

"Untuk kasus luka bakar derajat 3 harus segera dibawa ke rumah sakit guna penangan lebih lanjut karena dikhawatirkan terjadi dehidrasi dan infeksi luas," pesan dr Dita.

dr Dita berpesan untuk tidak mengolesi luka bakar dengan odol ataupun mentega. Alasannya dikhawatirkan bisa mengakibatkan infeksi.

Artikel dikutip dari: https://health.detik.com/read/2015/11/16/070637/3071696/1301/si-kecil-tersiram-air-panas-begini-pertolongan-pertamanya
Selengkapnya »

Lakukan Hal Ini Jika Bayi Jatuh dan Kepalanya Terbentur



Orangtua disarankan tak perlu terlalu khawatir jika terjadi benturan kepala. Akan tetapi, bukan berarti benturan kepala si kecil dengan lantai tak perlu diwaspadai.

Apa yang sebaliknya dilakukan orangtua jika anak terbentur kepalanya?

1. Amati Kondisi Bayi

Bila setelah jatuh, bayi langsung menangis dan menggerak-gerakkan semua anggota badannya, maka langsung gendong dan tenangkan. Setelah ia tenang, baru lakukan pengamatan lebih lanjut.

2. Ketahui bagian tubuh mana yang terbentur.

Coba periksa dengan teliti, bagian tubuh mana yang terbentur apakah wajah, kepala, atau bagian tubuh lainnya.

3. Perhatikan kronologi kejadian.

Perhatikan ketinggian saat ia terjatuh, lalu membentur media apakah (kursi, lantai, dan lain-lain). Ketahui juga proses jatuhnya, apakah langsung ke lantai atau terbentur sesuatu terlebih dahulu. Bagaimana posisi jatuhnya, apakah tengkurap, telungkup. Bagian mana yang terbentur.

4. Periksa kepala, kaki, dan tangan.

Gerakkan tangan bayi, ke atas, samping, depan, dan rentangkan. Bila si kecil menangis atau bahkan menjerit, kemungkinan ada yang terasa sakit, periksa bagian mana yang terlihat lebam. Lakukan hal yang sama pada bagian kaki. Untuk kepala, coba tengokkan kepala bayi ke kanan dan kiri. Juga dekatkan dagu bayi ke dada secara perlahan. Bila ia menangis kemungkinan ia merasakan sakit. Jika ada keluhan seperti memar atau benjol, catat sebagai laporan saat datang ke dokter.

5. Ketahui apakah ada benjolan (hematom).

Selanjutnya, periksa dengan cara raba seluruh bagian kepala untuk memastikan, adakah yang menjendol ataupun dekok di bagian kepala. Bila ubun-ubunnya terasa ada benjolan, kemungkinan terjadi peningkatan tekanan dalam otak lantaran adanya perdarahan atau edema otak. Bila ini terjadi, segera bawa ke dokter. Apalagi tampak benjolan di kepala, terutama di daerah samping kepala (temporal). Retak tulang yang terjadi di daerah ini dapat merobek pembuluh darah di dinding tulang kepala, sehingga mengakibatkan perdarahan.

6. Perhatikan fungsi penglihatan.

Gunakan senter sebagai alat bantu pemeriksaan mata, lalu lihatlah:
- Masih bereaksikah saat kita senter matanya: mengedip, menutup matanya atau kaget? Jika tidak, bawa segera bayi ke rumah sakit.
- Gerakkan senter ke kanan dan ke kiri, masih mampukah bayi mengikuti gerakan sinar? Jika tidak, ia harus segera dilarikan ke rumah sakit.
- Perhatikan pupil matanya, apakah pupil mata yang kiri dan kanan sama besar/kecilnya saat kita senter satu per satu? Jika sama, kita bisa bernapas lega. Bila tidak, bayi perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut, seperti CT Scan.

Catatan:
* Lakukan pemeriksaan setiap 2-3 jam.
* Lakukan pengawasan atau observasi setidaknya hingga 3 hari ke depan.

Sumber: Nakita
http://pontianak.tribunnews.com/2013/03/12/lakukan-hal-ini-jika-kepala-bayi-anda-terbentur
Selengkapnya »

Perhatikan Hal ini Sebelum Menerima atau Memberi Donor Asi



Bagi sebagian ibu, berbagi Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi selain anaknya sendiri bisa terasa aneh, bahkan menjijikkan. Namun, praktik berbagi ASI yang kian meluas ini dapat membawa manfaat bagi bayi-bayi yang membutuhkan, seperti bayi yang lahir dengan berat badan rendah.

Berbagi ASI bisa menjadi solusi yang tepat dalam memperbaiki kualitas kesehatan bayi yang mengalami malanutrisi. Selain efektif, langkah ini terbukti dapat menekan angka kematian bayi secara keseluruhan.

Perhatikan 3 Hal Ini Sebelum Memberi atau Menerima Donor ASI 

Dari data Lembaga Kesehatan Dunia (WHO), ada lebih dari 20 juta bayi yang terlahir dengan berat kurang dari 2,5 kg tiap tahunnya. Dari jumlah itu, lebih dari 96 persen bayi berasal dari negara-negara berkembang. Kebanyakan kasus ini merupakan konsekuensi dari kelahiran prematur dan bayi yang beratnya lebih rendah dibandingkan rata-rata bayi dengan umur yang sama, atau bisa kombinasi keduanya.

Lahir dengan berat badan rendah menempatkan bayi dalam peningkatan risiko kematian selama masa bayi dan kanak-kanak, keterlambatan pada proses tumbuh kembangnya, serta risiko terkena penyakit menular. Sebagai langkah penangananan, WHO merekomendasikan bahwa bayi yang lahir dengan berat badan rendah harus diberikan ASI dari ibu kandung atau dari pendonor ASI bila ibu kandung tidak bisa memberikannya. Pilihan terakhir adalah dengan memberikan susu formula.

Namun dibandingkan dengan pemberian susu formula, donor ASI terbukti dapat mengurangi terjadinya:

- Penyakit enkolitis nekrotikan (kondisi di mana saluran cerna rusak pada tingkat yang bervariasi, mulai dari peradangan hingga membusuk dan bocor).
- Gangguan usus yang parah.
- Infeksi selama masa-masa awal kelahiran.

WHO juga merekomendasikan bahwa bayi yang lahir dengan berat badan rendah harus mendapat ASI eksklusif paling tidak hingga berusia enam bulan. Perlu diingat bahwa rekomendasi ini tidak ditujukan kepada bayi yang sedang sakit atau dengan berat badan terlalu rendah (kurang dari 1 kg).

Untuk bisa mendonorkan ASI, seorang wanita harus memenuhi beberapa persyaratan kesehatan seperti berikut.

1. Ibu Pendonor Harus:

- Bersedia menjalani tes darah untuk mengetahui kondisi kesehatannya.
- Berada di dalam kondisi kesehatan yang baik.
- Tidak secara teratur mengonsumsi obat-obatan atau suplemen herba (kecuali insulin, hormon pengganti tiroid, vitamin prenatal, nasal spray atau semprotan hidung, inhaler untuk asma, obat tetes mata, salep, produk KB yang mengandung estrogen dalam dosis rendah atau hanya mengandung progestin).
- Ketika mulai memberikan donor ASI, Ibu pendonor juga harus sedang memiliki bayi yang berusia di bawah 6 bulan.
- Jika ibu pendonor atau bayi kandung sedang pilek, ibu pendonor tidak boleh memerah ASI untuk donasi sampai mereka pulih.

2. Seorang Ibu Dilarang Menjadi Pendonor Bila:

- Hasil tes darah menunjukkan positif HIV, HTLV (human T-lymphotropic virus), sifilis, hepatitis B atau hepatitis C.
- Memiliki suami atau pasangan seksual yang berisiko terjangkit HIV.
- Merokok atau mengonsumsi produk-produk dari tembakau.
- Menggunakan obat-obatan terlarang.
- Mengonsumsi 60 ml minuman beralkohol per hari.
- Dalam empat bulan terakhir telah menerima transfusi darah atau produk darah (kecuali Rhogam).
- Dalam 12 bulan terakhir telah menerima transplantasi organ atau jaringan.

3. Persyaratan Khusus

Di Indonesia sendiri sudah ada peraturan tentang donor ASI, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif. Isinya menyatakan:

1. Pemberian ASI eksklusif oleh pendonor ASI dilakukan dengan persyaratan:

- Adanya permintaan ibu kandung atau keluarga bayi yang bersangkutan;
- Kejelasan identitas, agama, dan alamat pendonor ASI diketahui dengan jelas oleh ibu atau keluarga dari bayi penerima ASI;
- Adanya persetujuan pendonor ASI setelah mengetahui identitas bayi yang diberi ASI;
- Pendonor ASI dalam kondisi kesehatan baik dan tidak memiliki indikasi medis yang tidak memungkinkan dilakukannya pemberian ASI eksklusif;
- ASI tidak diperjualbelikan.

2. Pemberian ASI wajib dilaksanakan berdasarkan norma agama dan mempertimbangkan aspek sosial budaya, mutu, dan keamanan ASI.

Sementara itu, orang tua yang mencari ibu susu alias pendonor ASI untuk menyusui bayi mereka perlu memerhatikan beberapa hal berikut.

Pertimbangkan Kemungkinan Risiko Keselamatan

Ingatlah bahwa praktik berbagi ASI juga bisa mengundang risiko kesehatan untuk bayi, tergantung pada siapa pendonor ASI dan bagaimana mekanisme donor itu dilakukan, misalnya bagaimana penyimpanan ASI dan sebagainya.

Risiko untuk bayi tersebut antara lain:

- Terpapar penyakit menular, termasuk HIV.

- Terkontaminasi zat-zat kimia dari obat-obatan yang dikonsumsi ibu pendonor.
Seperti susu pada umumnya, ASI yang tidak disimpan atau dibekukan dengan benar bisa menjadi terkontaminasi dan tidak aman untuk diminum. Selain itu, erhatikan pula bahwa kebutuhan gizi tiap bayi bergantung kepada banyak faktor, termasuk usia dan kondisi kesehatan bayi. Oleh karenanya, konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu tentang pilihan memberikan ASI donor untuk anak.

Pastikan Pendonor ASI Telah Menjalani Tes Kesehatan

Bila setelah berkonsultasi dengan dokter, Bunda memutuskan untuk memberi ASI donor kepada buah hati, pastikan ibu pendonor sudah melakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan keamanan susunya. Mengenai biaya pemeriksaan ibu pendonor, dapat didiskusikan bersama.

Bila Bunda berniat memberikan ASI donor kepada Si Kecil, tidak ada salahnya untuk bergabung dengan komunitas-komunitas pemerhati ASI donor untuk mencari informasi yang bermanfaat. Setelah memiliki pengetahuan mengenai praktik ini dan telah berkonsultasi dengan dokter, Bunda dapat menentukan pilihan yang bijak untuk Buah Hati.

Artikel dikutip dari http://www.alodokter.com/perhatikan-3-hal-ini-sebelum-memberi-atau-menerima-donor-asi
Selengkapnya »

Hal Penting yang Perlu Diperhatikan saat Menjemur Bayi



Menjemur bayi yang telanjang langsung di bawah sinar matahari merupakan cara yang banyak dipraktikkan. Hal itu tidak sepenuhnya tepat. Orang tua perlu mengetahui cara menjemur bayi yang benar.

Tubuh memanfaatkan sinar matahari untuk menghasilkan vitamin D yang membantu menyerap kalsium, membangun tulang dan gigi, mengatur sistem imunitas dan pertumbuhan sel, serta produksi insulin pada tubuh. Hanya saja, kulit bayi sangat tipis dan sensitif, sehingga berisiko terbakar sinar matahari lebih cepat.

Hindari Menjemur Bayi Langsung Di Bawah Sinar Matahari

Cara Menjemur yang Benar

Bayi yang berusia di bawah enam bulan, terutama bayi yang baru lahir, justru sebaiknya dilindungi dari sinar matahari langsung. Gunakan pakaian lengkap jika bayi akan terpapar sinar matahari langsung. Jika perlu, gunakan topi yang melindungi wajah.

Menjemur bayi sebaiknya di bawah pukul 10 pagi, sebab sinar matahari pukul 10 pagi hingga pukul 4 sore tergolong berisiko. Yang tak kalah penting adalah memperhatikan seberapa lama menjemur bayi, yaitu tidak lebih dari 15 menit.

Untuk penggunaan produk tabir surya, tidak direkomendasikan pada bayi baru lahir. Pemakaian tabir surya dengan SPF 15 baru boleh diberikan pada bayi di atas usia 6 bulan. Yang dapat ulangi penggunaannya tiap dua jam.

Menjemur bayi baru lahir banyak dilakukan karena dianggap efektif mengatasi kuning pada bayi. Yang perlu diketahui, sebagian bayi kuning tidak membutuhkan perawatan khusus. Warna kulit dan mata yang kuning akan berangsur normal setelah beberapa hari.

Untuk mengatasi bayi kuning, penting untuk meningkatkan asupan air susu ibu (ASI). Jika dirasa perlu, dokter dapat memberikan suplemen khusus yang membantu mengatasi dehidrasi pada bayi, sekaligus menghilangkan bilirubin yang berlebihan. Jika bilirubin tak kunjung membaik, dapat dilakukan fototerapi dengan lampu atau selimut khusus pada bayi.

Waspada Kulit Terbakar

Terjadinya kulit terbakar sinar matahari atau sunburn merupakan akibat terlalu banyak paparan sinar ultraviolet (UV). Bayi yang mengalami hal tersebut, kulitnya akan tampak merah dan panas jika disentuh. Untuk gejala kulit terbakar yang lebih berat, kulit akan tampak melepuh, membengkak, dan mungkin diringi dengan demam.
Sebagai pertolongan pertama pada bayi yang mengalami kulit terbakar setelah dijemur, tempelkan kain basah sekitar 10-15 menit. Ulangi beberapa kali. Bisa juga memandikan dengan air hangat. Namun, hindari menempelkan es pada kulit bayi karena dingin juga akan membuat kulit bayi seperti terbakar . Kemudian, segera berikan ASI atau susu formula untuk mencegah dehidrasi.

Jika bayi mengalami demam atau nyeri, berikan parasetamol untuk bayi yang berusia minimal dua bulan, atau ibuprofen untuk bayi berusia minimal tiga bulan.

Umumnya, kulit akan mengalami pengelupasan setelah 3-10 hari, sebagai bagian dari pemulihan kulit. Ketika kulit mulai mengelupas, berikan losion dengan bahan dasar air, aloe vera, atau calamine guna meringankan rasa gatal.

Jangan anggap remeh kulit terbakar lantaran radiasi UV.Beberapa penelitian menunjukkan, luka bakar berat pada masa anak-anak bisa menyebabkan kanker kulit berbahaya di kemudian hari.

Menjemur bayi seharusnya dilakukan dengan hati-hati. Segera bawa ke dokter atau ahli medis, jika bayi tampak mengalami luka bakar serius akibat sinar matahari.

Artikel dikutip dari http://www.alodokter.com/hindari-menjemur-bayi-langsung-di-bawah-sinar-matahari
Selengkapnya »

Pertolongan Pertama Saat Bayi Demam



Demam, merupakan kondisi yang dapat dialami oleh siapa saja termasuk oleh anak-anak. Beberapa orang tua sering kali kebingungan ketika mendapati anaknya mengalami peningkaan suhu tubuh. Kecemasan yang dialami oleh orang tua akan menimbulkan beberapa tindakan yang berlebihan dalam penanganan demam. Padahal demam merupakan suatu mekanisme yang terjadi di dalam tubuh dalam mengatasi infeksi.

Demam tidak membahayakan asalkan tidak menimbulkan dehidrasi, kesadaran menurun ataupun kejang. Demam dapat sebagai tanda pertahananan tubuh yang terjadi dikarenakan adanya benda asing dalam sistem tubuh, misalnya saja anak anda demam setelah diberikan imunisasi . Ini merupakan kondisi yang tidak memerlukan penanganan medis. Selain itu demam dapat pula disebabkan karena adanya virus yang masuk ke dalam tubuh sehingga memerlukan antibiotika. Anda tidak perlu cemas ketika anak demam, pertama kali anda harus mengetahui penyebab demam pada anak. Penanganan yang berlebihan terhadap demam anak, misalnya saja langsung diberikan obat antibiotika dan langsung melakukan cek darah justru sering kali merugikan anak dibandingan dengan menghilangkan demam pada anak.

Berikut adalah beberapa langkah pertolongan pertama pada anak demam :

Salah satu gejala yang tampak

Pertama demam dapat disebabkan karena infeksi virus, salah satu yang tampak lesu dan tidak mempunyai gairah untuk bermain. Infeksi virus ditandai dengan batuk, pilek atau diare tanpa darah. Ciri khas infeksi demam yang disebabkan oleh virus adalah demam yang tinggi pada hari 1-2 hari, biasanya pada hari ke 4-5 naik tetapi tidak setinggi pada hari pertama, umumnya pada hari ke 6-7 akan pulih sesuai dengan kondisi sebelumnya, sehingga dalam penanganan demam yang terinfeksi virus tidak memerlukan antibiotika ataupun cek darah.

Kompres dengan air hangat

Apabila penyebab demam adalah infeksi virus, anda dapat memberikan pertolongan pertama dengan cara mengompres menggunakan air hangat. Air hangat dapat langsung pada pusat tubuh sehingga akan menurunkan suhu secara otomatis. Hindari menggunakan alkohol atau air dingin. Alkohol akan berbahaya karena uapnya berdampak buruk ketika terhirup oleh bayi. Anda juga dapat menggunakan plaster kompres yang sering kali banyak ditemui dipasara.

Selalu Periksa suhu tubuh

Anda dapat mengontrol suhu tubuh anak dengan menggunakan termometer, suhu normal pada anak berkisar antara 36-37 derajat celcius,sehingga apabila anak anda memiliki suhu tubuh yang lebih tinggi 37 derajat maka dapat diberikan terapi ringan terlebih dahulu, misalnya dengan banyak minum air putih sehingga anak anda tidak mengalami kekurangan cairan.

Berikan obat penurun demam

Anda dapat memberikan obat penurun demam khusus anak sesuai dengan usia, salah satunya adalah dengan memberikan parasetamol. Parasetamol merupakan obat penurun demam yang dianggap memiliki efek samping yang rendah pada tubuh bayi. Meskipun begitu sebaiknya anda membaca petunjuk dokter agar tidak mengalami resiko gangguan fungsi hati, bila diberikan dengan dosis yang tidak tepat.

Penanganan dokter

Apabila bayi anda demam pada usia 3 bulan, suhu tubuhnya melebihi 37,5 derajat celcius sebaiknya segera diperiksakan ke dokter anak. Selain itu apabila anak demam dengan kondisi urinnya kental dan kakinya sering kali menggerak-gerakan, salah satu penyebabnya bisa dikarenakan infeksi saluran kemih atau demam yang tidak turun-turun selama 3 hari lebih disertai dengan mimisan atau bintik merah,sebaiknya segera bawa anak anda ke dokter untuk melakukan tes kesehatan.

Semua bayi pasti pernah mengalami demam. Kondisi ini memang umum terjadi pada semua orang, termasuk si Kecil. Dalam ilmu medis, seorang bayi dikatakan demam jika suhu tubuhnya mencapai 38 derajat Celcius atau lebih.

Sebagai orang tua, Anda pasti khawatir dan panik ketika mendapati tubuh si Kecil terasa panas. Anda tidak perlu tergesa-gesa ke dokter ketika menghadapi situasi semacam ini. Ada kalanya demam pada bayi adalah suatu kondisi yang normal terjadi dan bisa ditangani di rumah.

Tidak perlu panik hadapi demam pada bayi

Demam sendiri sebenarnya sebuah gejala. Kondisi ini biasanya menjadi pertanda bahwa tubuh si Kecil sedang melawan penyakit. Contohnya demam karena efek imunisasi. Demam bisa dianggap menjadi bukti sistem kekebalan tubuhnya bekerja dengan baik. Dengan kata lain, kinerja tubuh bayi Anda berjalan normal.

Demam juga bisa menyerang bayi jika dia terlalu lama beraktivitas di luar ruangan saat cuaca panas. Atau bisa juga terjadi ketika Anda memakaikan baju yang terlalu Maka Anda  tidak perlu khawatir secara berlebihan jika tubuh bayi Anda terasa panas, tapi dia masih terlihat aktif dan masih mau minum susu.

Meski begitu, terdapat kondisi tertentu yang membutuhkan perhatian lebih. Anda harus waspada ketika bayi mengalami demam yang disertai dengan tanda-tanda seperti berikut ini:

- Tidak nafsu makan.
- Terlihat lesu dan tidak bersemangat saat diajak bermain.
- Tidak responsif.
- Memiliki ruam.
- Uring-uringan saat tidur.
- Pernapasannya terganggu.
- Terlihat tanda-tanda dehidrasi, seperti mulut kering, tidak ada air mata saat menangis, atau popok tidak sebasah biasanya.
- Kejang.

Selain itu, Anda juga harus segera membawa si Kecil ke dokter jika dia berusia di bawah 3 bulan saat demam. Si Kecil harus cepat ditangani dokter karena demam pada usia tersebut berpotensi menandakan bahwa bayi Anda mengalami kondisi yang serius.

Demam pada usia tersebut butuh perhatian khusus secara medis karena bayi usia tiga bulan ke bawah tidak memiliki lapisan pelindung sel antara aliran darah dan sistem saraf pusat yang cukup tebal. Ini memungkinkan mikroorganisme menyebar dan merusak jaringan saraf dengan cepat.

Bayi usia muda juga tidak menunjukkan tanda-tanda khusus jika mengalami infeksi yang parah. Jadi dibutuhkan tes darah atau tes urine untuk mengetahui apakah ada infeksi serius, seperti meningitis atau pneumonia.

Untuk bayi di atas tiga bulan, bawa si Kecil ke dokter jika demam tidak kunjung turun atau makin parah dalam waktu 24 jam dan jika si Kecil tidak mengonsumsi cukup cairan.

Ukur Suhu Tubuh Bayi Anda

Disarankan untuk mengukur suhu tubuhnya melalui anus karena bagian tersebut dinilai lebih akurat dibandingkan mulut, ketiak, atau telinga. Lagi pula, termometer anus juga lebih mudah diaplikasikan pada si Kecil.

Sebelum mengukur suhu tubuhnya pada anus, Anda harus memastikan termometer dalam keadaan higienis. Sebelum dipakai, cuci bersih menggunakan sabun dan bilas dengan air.

Posisikan bayi Anda tengkurap dalam dekapan Anda, kemudian masukkan termometer yang telah diolesi petroleum jelly secara perlahan-lahan ke anus dengan kedalaman sekitar 2.5 cm.

Tahan termometer selama dua menit hingga terdengar suara notifikasi dari termometer. Setelah itu Anda bisa menariknya secara perlahan dan membaca hasilnya.

Sebagai informasi, suhu tubuh bayi normal berada di kisaran 36-37 derajat Celcius.

Penanganan Demam pada Bayi

Untuk menangani demam pada bayi usia tiga bulan ke atas, Anda bisa melakukan penanganan awal secara sederhana di rumah seperti:

Mandikan bayi Anda menggunakan air hangat. 

Pastikan air tersebut tidak terlalu panas untuk kulit bayi. Mandi air hangat juga memungkinkan si Kecil untuk menghirup udara hangat sehingga melancarkan pernapasannya. Selain itu tubuh si Kecil juga akan terasa lebih rileks.

Setelah itu kenakan pakaian yang nyaman untuk bayi yang sedang demam seperti baju dengan bahan yang tipis. Hindari pakaian tebal dan bertumpuk.

Beri si Kecil asupan cairan yang cukup seperti ASI, susu formula, atau air putih, guna menghindari bayi dari dehidrasi.

Untuk penggunaan obat-obatan, Anda harus konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter sebelum memberikannya kepada si Kecil.

Jika demam menyerang bayi berusia tiga bulan ke bawah, sebaiknya langsung bawa si Kecil ke rumah sakit.

Artikel dikutip dari:
http://bidanku.com/pertolongan-pertama-pada-anak-demam
http://www.alodokter.com/tidak-perlu-panik-hadapi-demam-pada-bayi

Selengkapnya »

Bahaya Mengguncang Tubuh Bayi (Shaking Baby Syndrome)



Pernah melihat orangtua yang melempar-lemparkan bayinya ke udara lalu menangkapnya untuk mendengar sang bayi tertawa? Atau mengguncang-guncang bahunya keras sambil berekspresi lucu? Jika Anda melakukan demikian, maka berhentilah segera. Dan jika melihat orang lain berbuat begitu pada bayi mereka, cegahlah, karena sangat berbahaya.

Sindrom bayi terguncang atau shaken baby syndrome adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan salah satu bentuk kekerasan pada bayi akibat mengguncangnya terlalu keras. Seringkali hal ini terjadi karena orangtua merasa kesal bayinya tidak mau berhenti menangis atau terus merengek.

Kondisi ini biasanya terjadi pada bayi berusia kurang dari 1 tahun yang bisa mengakibatkan cedera otak parah dan permanen, cedera tulang belakang, pendarahan di mata (pendarahan retina) bahkan hingga kematian.

Data statistik dari Pusat Pengendalian Penyakit dan Pencegahan Amerika Serikat (CDC) korban dari sindrom bayi terguncang ini umumnya berusia 3-8 bulan, dan sekitar 25 persennya meninggal akibat cedera yang dialaminya.

Dikutip dari Medicinenet, Senin (2/8) bayi memiliki otot leher yang sangat lemah serta memiliki kepala yang berat dan besar untuk ukuran tubuhnya. Selain itu terdapat ruang antara tengkorak dan otak yang memungkinkan untuk perkembangan otak bayi.

Mengapa berbahaya mengguncang tubuh bayi?

1. Bayi memiliki kepala lebih besar dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain, dan otot lehernya masih lemah. Jika diguncang, kepalanya akan tersentak ke depan dan ke belakang.

2. Sentakan-sentakan itu akan mengguncang otak dan merusaknya.

3. Pembuluh darah kecilnya akan ikut rusak, menimbulkan pendarahan di otak dan sekitarnya, dan juga di mata bayi.

Resiko terbesar adalah pada bayi dibawah satu tahun, tapi tidak menutup kemungkinan dapat terjadi di usia yang lebih besar. Yang harus diwaspadai adalah guncangan-guncangan ini dapat terjadi justru ketika kita asyik bermain dengan sang bayi.

Jika bayi mengalami guncangan yang keras, maka bisa menyebabkan otak di dalam tengkorak bergerak yang mengakibatkan memar jaringan otak dan merobek pembuluh darah.

Pada umumnya luka yang timbul termasuk pendarahan di sekitar otak, pendarahan di mata dan sumsum tulang belakang serta cedera pada leher. Namun pada beberapa kasus kadang ditemukan adanya patah tulang rusuk atau patah tulang lainnya. Biasanya luka yang timbul akibat sindrom ini tidak langsung terlihat. Tapi beberapa bayi terkadang mengalami muntah atau menjadi lekas marah.

Gejala umum yang sering terjadi ketika bayi mengalami SBS adalah :

1. Lesu
2. Penurunan nafsu makan, atau muntah tanpa sebab yang jelas
3. Memar di lengan atau dada yang tidak biasa
4. Bayi tidak tersenyum atau bersuara
5. Tidak mau menghisap atau menelan
6. Sulit bernafas
7. Kejang
8. Kepala atau dahi tampak lebih besar dari biasanya
9. Tidak mampu mengangkat kepala
10. Mata tidak fokus atau tidak dapat mengikuti gerakan

Bayi yang mengalami cedera akibat sindrom ini membutuhkan perawatan darurat, termasuk bantuan pernapasan dan juga operasi. Selain itu seringkali bayi memerlukan pengeringan darah di sekitar otak untuk mengurangi cedera, serta dibutuhkan perawatan lain termasuk pemeriksaan mata (opthalmologic) dan juga saraf (neurologis).

Goyangan ini yang mengakibatkan kerusakan otak serta pendarahan di dalam otak dan pada permukaan otak, sehingga dapat menimbulkan masalah serius pada otak sang bayi, dan dapat mengakibatkan masalah yang berlangsung permanen, seperti :

1. Kerusakan otak
2. Cerebral palsy
3. Kebutaan
4. Epilepsi
5. Kesulitan berbicara
6. Kesulitan belajar
7. Kesulitan koordinasi
8. Serangan jantung
9. Keterbelakangan mental

Hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah Shaking Baby Syndome (SBS) 

1. Jangan pernah mengguncang bayi di bawah umur 3 tahun, dengan alasan apapun juga.

2. Beritahukan pentingnya melindungi kepala bayi anda kepada baby sitter atau pengasuh bayi anda.

3. Pastikan semua orang yang dekat dan sering menggendong bayi anda tahu benar bahayanya seorang bayi jika diguncang-guncang atau digoyang.

4. Menghindari memegang bayi selama berargumen.

5. Hindari mendisiplinkan atau menenangkan bayi dan anak ketika orangtua sedang marah.

6. Jika orangtua tidak bisa mengendalikan emosinya, usahakan untuk beristirahat sejenak dan biarkan bayi ditangani oleh anggota keluarga lain atau teman.

7. Jika dengan sengaja/tidak sengaja, anda mengguncang-guncang bayi anda, segera bawa bayi anda ke dokter untuk diperiksakan. Pendarahan di dalam otak hanya dapat diobati jika anda segera memberitahukan kepada dokter bahwa anda baru saja mengguncang bayi anda. Cara ini akan menyelamatkan.

Ada beberapa permainan dan aktivitas yang harus dihindari untuk mencegahnya, antara lain:

1. Melempar bayi ke udara.

2. Lari-lari sambil membawa bayi di punggung atau di kepala.

3. Kuda-kudaan (bayi naik ke punggung, naik ke kaki dan digoyang-goyang).

4. Memutar bayi.

Jangan lupa untuk mengingatkan orang-orang di sekitar sang bayi, seperti saudara-saudaranya, pengasuhnya, dan kakek-neneknya untuk tidak mengguncang bayi.

Artikel dikutip dari http://pondokibu.com/bahaya-mengguncang-tubuh-bayi.html
Selengkapnya »

Kenali Gejala Bayi Kuning dan Waspadai Bahayanya



Pigmen bernama bilirubin adalah faktor penyebab dari bayi kuning (ikterus) yang harus di kenali dan waspadai. Sebetulnya, setiap orang memiliki bilirubin dalam sel darah merahnya. Setiap jangka waktu tertentu sel darah merah akan mati dan menguraikan sel-selnya diantaranya menjadi bilirubin. Normalnya yang bertugas menguraikan bilirubin tersebut adalah hati, untuk kemudian dibuang lewat BAB. Saat bayi masih dalam kandungan, hati sang ibulah yang mengambil tugas menguraikan bilirubin dalam sel darah merah bayi.

Ketika bayi lahir, perkembangan hatinya belum sempurna sehingga belum dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Akibatnya terjadi penumpukan bilirubin yang kemudian menyebabkan timbulnya warna kuning pada kulit bayi.

Sebagian lainnya karena ketidak-cocokan golongan darah ibu dan bayi. Peningkatan kadar bilirubin dapat diakibatkan oleh pembentukan yang berlebih atau adanya gangguan pengeluarannya.

Ikterus pada bayi baru lahir dapat merupakan bentuk fisiologik dan patologik. Yang bersifat patologik dikenal sebagai  hiperbilirubinemia yang dapat mengakibatkan gangguan saraf pusat atau kematian.

Sampai saat ini ikterus masih merupakan masalah pada bayi baru lahir, terjadi sekitara 25% - 50% pada bayi lahir cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada bayi lahir kurang bulan. Pemeriksaan adanya ikterus pada bayi muda dapat dilakukan di rumah dan pada waktu kunjungan neonatal. Untuk pemeriksaan gejala kuning di rumah adalah dengan membawa bayi ke dalam ruangan yang memiliki penerangan yang jelas atau dengan lampu fluorescent.

Bila kulit bayi tergolong putih, tekanlah jari anda secara perlahan-perlahan ke bagian dahi, dada, telapak tangan dan telapak kaki. Kemudian angkat tangan anda dan perhatikan adakah semburat warna kuning pada bagian tubuh bayi yang ditekan tadi.

Bila kulit bayi tergolong hitam, paling jelas bisa diteliti pada gusi atau bagian putih di area mata. Sedangkan pemeriksaan di klinik, dokter anak akan memeriksa kesehatannya. Kadar bilirubin sendiri baru bergerak pada hari ke 3 atau ke 5 setelah kelahiran. Jadi apakah tingkat bilirubin bayi anda normal atau tidak,  baru diketahui 3 atau 5 hari. Untuk mengetahuinya, perlu dilakukan pemeriksaan dalam. Bayi akan diambil darahnya sedikit, biasanya di ujung jari kaki, kemudian diteliti dan diperiksa di laboratorium.

Sangat penting untuk mengetahui kapan ikterus timbul, kapan menghilang dan sampai bagian tubuh mana kuning terlihat. Ketiga hal tersebut harus diketahui dengan pasti untuk mengklasifikasikan ikterus secara benar. Pada kasus ketidakcocokan golongan darah ibu dan bayi, ikterus timbul sebelum umur 3 hari.

Klasifikasi ikterus

Untuk mengklasifikasikannya dilihat dari gejala-gejalanya yaitu:

Ikterus Fisiologis (ringan)

Timbul kuning pada umur >24 jam sampai <14 hari
Kuning tidak sampai telapak tangan / telapak kaki
Ikterus fisiologis tidak berbahaya, penanganannya bayi dijemur setiap pagi antara jam 7 - 9 pagi selama 30 - satu jam. Tingkatkan frekuensi pemberian ASI, minimal 8 - 12 kali sehari. Jika dirasakan sudah cukup menyusuinya, sebaiknya perhatikan apakah bayi benar-benar menghisap atau hanya mengempeng saja. Bila dirasakan ada masalah dalam menyusui segera lakukan konsultasi di klinik laktasi terdekat. Bila gejala masih tampak hingga >14 hari segera periksakan ke dokter.

Ikterus Patologis (berat)

Timbul kuning pada hari pertama (<24 jam) setelah lahir, atau
Kuning ditemukan pada umur lebih dari 14 hari, atau
Kuning sampai telapak tangan / telapak kaki, atau Tinja berwarna pucat

Jika tidak segera ditangani, kadar bilirubin terus meningkat sehingga dapat meracuni otak, terjadinya kerusakan saraf yang dapat menyebabkan cacat seperti tuli, pertumbuhan terhambat atau kelumpuhan otak besar atau bahkan dapat menyebabkan kematian. Jika mengalami salah satu gejala tersebut di atas segera periksakan bayi anda ke dokter.

Artikel dikutip dari http://bidanku.com/bayi-kuning-kenali-dan-waspadai
Selengkapnya »

Cara membedong bayi yang benar dan aman


Kain atau selimut untuk membedong bayi masih merupakan salah satu hal yang dipersiapkan para ibu. Meski memiliki manfaat, bedong bayi harus dilakukan secara hati-hati agar terhindar dari risiko negatif.

Bedong bayi umum dilakukan sejak bayi lahir di rumah bersalin. Balutan kain di sekeliling tubuh bayi, seakan-akan menyerupai rahim ibu yang dapat menenangkan dan membuat bayi tidur lebih nyaman. Selain itu, bedong bayi yang dilakukan dengan benar dapat membantu menenangkan bayi rewel akibat kolik (bayi sehat yang menangis secara berlebihan).


Yang pertama harus diperhatikan adalah hindari bedong bayi terlalu kencang. Berikan ruang yang memungkinkan bayi menggerakkan kakinya. Hal ini diperlukan agar perkembangan bayi tidak terhambat.

Untuk itu, penting bagi orang tua mengetahui cara bedong bayi yang benar dan aman, berikut panduannya:

Tempatkan kain atau selimut untuk bedong bayi di permukaan yang rata dengan sudut kain berada diatas. Kemudian, lipat ujung bagian atasnya sedikit hingga kain hampir menyerupai bentuk segitiga. Gendong bayi, dan perlahan tempatkan di atas kain bedong, tepat di bagian tengah. Pastikan batas lipatan atas kain bedong bayi di sekitar bahu.

Luruskan tangan kiri bawah bayi kemudian rapatkan dengan tubuh. Tarik ujung kain di sisi kiri bayi hingga menutupi lengan kiri hingga dadanya. Selipkan ujung kain tersebut di bagian bawah ketiak kiri lalu ke punggung.

Lipat kain bedong bayi bagian bawah ke arah pundak bayi. Jangan melipat terlalu ketat, biarkan ada ruang di sekitar kaki bayi.

Sambil memegang lembut bayi agar tidak berpindah posisi, ambil ujung kain bedong sebelah kanan bayi hingga menutupi tubuhnya. Kemudian lipat sisa kain bedong bayi ke bagian punggung bayi.

Hal yang Harus Diperhatikan

Bedong bayi memungkinkan bayi tidur lebih lama dan tidak mudah terbangun. Namun, disisi lain, hal tersebut menimbulkan risiko negatif. Seorang ahli mengatakan, bedong bayi dapat membuat bayi lebih sulit terbangun, yang dapat meningkatkan risiko sindrom kematian mendadak pada bayi atau sudden infant death syndrome (SIDS).

Untuk menghindari risiko penggunaan bedong bayi, ada beberapa hal yang penting diketahui:

Jika bayi Anda masih menggunakan bedong, posisi menidurkan bayi harus dalam kondisi terlentang. Hindari menidurkannya dalam posisi tengkurap. Hal ini penting untuk menghindari SIDS. Beberapa penelitian menunjukkan, risiko SIDS dan tersedak pada bayi dibedong yang tidur tengkurap

Pilih kain atau selimut bedong bayi dari kain yang nyaman, sehingga tidak membuat bayi kepanasan. 

Cek suhu tubuhnya tiap beberapa jam.

Hindari bedong bayi yang membuat wajah bayi tertutup. Disarankan menghindari juga bedong bayi jika tampak membuat bayi sulit bernapas.

Sebagian bayi merasa tidak betah ketika bedong bayi membuat tangannya tidak bebas bergerak. Jika demikian, bedong bayi masih bisa dilakukan, hanya saja kain dilipat di bawah ketiak, sehingga tangannya tetap bebas. Sebagian ahli menyarankan, bedong bayi sebaiknya dibuka saat menyusui agar tangan bayi bebas bergerak dan bereksplorasi.

Bedong bayi sebaiknya tidak lagi digunakan ketika bayi mulai belajar berguling pada usia sekitar dua bulan.

Bedong bayi merupakan salah satu cara untuk membantu menenangkan bayi baru lahir, meski demikian, lakukan dengan cara yang benar untuk meminimalisir risiko. Jika perlu, konsultasi dengan dokter spesialis anak mengenai perlu atau tidaknya dilakukan bedong bayi.

Artikel dikutip dari http://www.alodokter.com/ini-cara-bedong-bayi-yang-aman

Selengkapnya »

Tips agar Rumah Aman Bagi Bayi Belajar Merangkak



Saat si kecil mulai belajar merangkak, berdiri, kamu wajib beri perhatian ekstra. Mari bikin rumahmu lebih aman untuk anak!

Mengunci Laci

Anak yang sudah bisa merangkak dan mulai belajar berdiri gemar menggapai semua barang sebagai pegangan mereka. Salah satunya adalah laci lemari atau kabinet di rumah. Demi keselamatan si kecil agar tak tertimpa laci nantinya, jangan lupa mengunci semua laci yang ada di rumah.

Memasang Kunci

Ada beberapa lemari kecil yang tidak dilengkapi dengan kunci. Misalnya lemari kecil tempat pajangan di ruang tengah. Walau tak dilengkapi dengan kunci, kamu masih bisa mengakalinya Moms. Gunakan kunci tambahan yang dijual di toko peralatan rumah tangga seperti pada gambar. Dengan begitu ketika tangan iseng buah hatimu mencoba membuka lemari, kemari tak akan terbuka dan si kecil tetap aman.

Laci Rendah

Ada beberapa anak-anak yang gemar bermain di dapur untuk bermain dengan peralatan masak. Bagi anak-anak semakin banyak barang di sekelilingnya tentu akan semakin banyak objek untuk bermain. Jalan keluar agar si kecil tetap aman dan tidak menjelajah keliling dapur adalah dengan mengumpulkan mainannya di laci terendah. Isi laci dengan barang-barang favoritnyam seperti mainan cangkir, piring, sendok, dan perkakas masak mainan lainnya.

Pembungkus Stop Kontak

Stop kontak adalah salah satu bagian di rumah yang tak boleh teresentuh si kecil. Cara mengamankan stop kontak dari jangkauan anakmu bisa dengan mengatur tata letak ruangan. Sembunyikan letak stop kontak di balik sofa, tempat tidur, atau bisa juga lemari. Namun ada cara lain untuk mengamankannya, yaitu dengan membungkus stop kontak dengan kotak plug khusus. Jadi walaupun si kecil menyentuh stop kontak, ia tetap aman karena hanya bisa menyentuh pembungkusnya saja.

Friendly Furniture

Memilih perabotan jangan lupa mempertimbangkan kualitas barang demi keselamatan si kecil. Misalnya dalam memilih kursi makan. Yang aman adalah pilih kursi yang kokoh dan tak mudah jatuh. Sehingga bila buah hatimu berpegangan pada kursi tersebut tak mudah goyang dan jatuh menimpa anakmu. Hindarilah memilih perabot rumah tangga hanya melihat modelnya saja Moms. Bila kamu memiliki anak kecil, lebih baik pertimbangkan faktor keamanan dari perabot rumah tersebut.

Sembunyikan Pecah Belah

Praaang! Ya, itu bunyi yang sungguh mengagetkan dan bikin dirimu was-was kan? Nah, sebelum suara barang pecah terdengar di rumahmu, ada baiknya segera amankan barang-barang tersebut dari jangkauan si kecil. Yuk, segera jauhkan guci, vas bunga, dan pajangan dari kaca dari jangkauan anakmu. Atau lebih baik, demi keamanan jiwa anakmu, simpan saja dulu di gudang, hingga ia beranjak besar.

Amankan dari Jangkauan Tangan Si Kecil  

Pada dasarnya, apapun yang ada di jangkauan si kecil perlu diberikan pengawasan ekstra. Perhatikan seberapa jauh jangkauan tangan si kecil dan barang apa saja yang aman terjangkau olehnya. Bila kamu meletakkan keranjang penuh barang seperti dvd, cd, gulungan pita, tumpukan kain, atau barang lain yang bukan barang pecah belah atau tajam, kamu tak perlu khawatir lagi kalau si kecil menggapainya.

Amankan Sudut Tajam

Sudut siku yang ada pada meja, laci, kursi, dan lainnya bisa mencedarai si kecil lho. Untuk mengamankan sudut siku ini kamu bisa membungkusnya dengan busa empuk atau kain tebal yang direkatkan pada tiap sudut meja atau kursi. Dengan begitu nggak perlu takut si kecil lebam karena menabrak sudut lemari dan meja.

Pagari Tiap Pintu

Memagari semua pintu juga penting kamu lakukan untuk menjaga bayimu. Selain memagari semua pintu, jangan lupa juga memagari tangga agar anakmu tidak mulai merangkak ke lantai atas. Awalnya memang terlihat berlebihan, tapi percayalah bila hal ini kamu lakukan, kamu akan merasa lebih tenang ketika si kecil mulai berkeliling rumah. Si kecil akan tetap "terkurung" di dalam rumah tanpa harus takut kalau tiba-tiba ia lari keluar rumah.

Artikel dikutip dari http://family.fimela.com/bayi-balita/tumbuh-kembang/ini-cara-membuat-rumah-lebih-aman-bagi-si-kecil-1302123-page9.html
Selengkapnya »