Blog Artikel Seputar Ibu dan Bayi

Showing posts with label Kesehatan Bayi. Show all posts

Penyebab Bayi Tidak Mau Minum Susu ataupun Menyusui

Baby, Child, Toddler, Girl, Childhood, Caucasian, Eyes

Tiba-tiba saja si kecil mogok menyusu. Jangan panik dulu, mogok menyusu dapat terjadi pada bayi walaupun sebelumnya bayi sudah fasih menyusu. Mogok menyusu, yang dikenal juga sebagai nursing strike, merupakan salah satu cara bayi protes pada sang ibu bahwa ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman dalam proses menyusui.

Umumnya hal ini terjadi pada bayi usia 2-4 bulan, namun juga dapat pada usia 6-8 bulan atau di usia lainnya. Berikut ini beberapa hal yang dapat menjadi penyebab anak mogok menyusu .

Pertama, bayi yang sedang kurang sehat dapat mengalami kesulitan untuk mengisap, sehingga ASI yang didapat sedikit. Akhirnya bayi menjadi capek, stress, dan frustrasi kemudian bayi menolak untuk menyusu langsung.

Kedua bayi merasakan sakit karena tumbuh gigi, sariawan, atau infeksi jamur pada mulut.

Ketiga , bayi sedang menderita pilek dan hidung tersumbat, sehingga saat menyusu bayi tidak/sulit bernafas.

Penyebab berikutnya adalah karena terdapatnya infeksi pada telinga bayi akan menyebabkan rasa sakit saat menyusu. Atau ada nyeri pada bekas tempat imunisasi yang tertekan pada posisi tertentu saat menyusu.

Bisa juga karena ibu belum menguasai tehnik menyusui dengan baik sehingga bayi merasa tidak nyaman atau diperlakukan kasar saat menyusu.

Bayi juga bisa mogok menyusu karena bingung puting. Ini karena bayi yang terlalu sering diberi susu botol atau empeng sejak dini. Hal ini karena pengalaman minum susu dari botol berbeda dengan menyusu langsung sehingga bayi menjadi stress dan frustasi.

Selain itu, mungkin karena terlalu sering minum dari botol ASI ibu berkurang sehingga bayi mengalami kesulitan dan harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan ASI bila menyusu langsung. Hal ini juga dapat menyebabkan bayi menjadi stress dan frustasi kemudian bayi mogok menyusu. 

Jadwal menyusui yang terlalu kaku juga bisa membuat mogok menyusu ini. Satu hal yang harus diperhatikan adalah kebiasaan ibu yang suka berteriak karena sakit pada proses menyusui atau berbicara dengan orang lain dengan suara keras selagi menyusui sehingga bayi kaget dan merasa terganggu.

Ibu sering melepaskan diri saat bayi ingin menyusu atau ibu sering mengguncang payudara sehingga mulut bayi terlepas dari hisapannya. Kondisi bayi yang terpisah cukup lama dari ibunya, juga bisa menjadi penyebab. Juga jika ada perubahan besar pada rutinitas bayi, misalnya pindah rumah, kedatangan pengasuh baru, pergi dalam waktu lama, ibu sedang menstruasi sehingga terdapat sedikit perubahan pada tubuh dan ASI ibu.

Hal lainnya adalah karena produksi ASI terlalu sedikit sehingga bayi merasa kesulitan dalam mendapat ASI selagi menyusu atau produksi ASI terlalu berlebihan sehingga bayi sering tersedak selagi menyusu.

Atau karena adanya perubahan pada rasa ASI karena ibu mengkonsumsi makanan, minuman, atau obat tertentu. Setiap bayi memiliki respon yang berbeda-beda terhadap suatu hal. Belum tentu akibat dari hal-hal tersebut diatas bayi langsung mogok menyusui, namun bila bayi mengalami mogok menyusu bisa jadi akibat hal-hal diatas. Namun sebagai seorang ibu yang ingin memberikan ASInya pasti sedih bila bayi tidak mau menyusu.

Nah, jika si kecil mogok menyusu, cobalah beberapa hal berikut yang mungkin dapat mensiasati mogok menyusu pada bayi.

Misalnya jangan stress, segera cari tahu penyebab si bayi mogok menyusu itu. Cobalah menyusui bayi saat bayi sangat lapar atau saat bayi mengantuk atau setengah tidur.

Susui bayi sesuai dengan kehendak bayi, hindari jadwal menyusui yang terlalu kaku, cobalah menyusui dengan posisi lain yang bervariasi, hindari berteriak saat sedang menyusui, hindari hal-hal yang dapat mengganggu saat sedang menyusui. Jangan berbicara dengan orang lain dengan suara keras, matikan TV, radio, atau handphone.

Susui bayi di ruangan yang tenang dan tidak terlalu terang. Dekap bayi dan kembalikan hubungan dengan menyentuh langsung bayi bila penyebabnya adalah perpisahan ibu dan bayi yang cukup lama. Coba juga susui dengan sendok, pipet, atau cangkir bayi (tidak dengan botol dan dot) Pastikan bayi tidak kekurangan cairan dan jangan lupa untuk memompa ASI ibu saat bayi sedang mogok menyusu. Hal ini berguna untuk menjaga produksi ASI tetap banyak dan sekaligus untuk menambah stok ASI untuk diberikan melalui botol/sendok.

Disamping itu memompa ASI juga mencegah masalah payudara bengkak dan mastitis. Kesabaran dan pantang menyerah adalah kunci untuk menghentikan mogok menyusui si kecil. Namun tetap harus diingat untuk tidak memaksakan bayi menyusu langsung. Pemaksaan dapat menyebabkan bayi stress dan semakin tidak mau menyusu.
Selengkapnya »

Hindari Kebiasaan Meniup Makanan Panas, Ini Alasannya!

Image result for blowing hot food

Saat menyantap makanan atau minuman panas, kita cenderung meniupnya agar lebih cepat dingin dan bisa segera dikonsumsi. Namun, sebaiknya kebiasaan tersebut mulai dihindari, karena ternyata bisa memicu hal negatif bagi kesehatan, lho!

Membuka peluang kontaminasi virus dan bakteri
Dengan meniup makanan, potensi kuman maupun virus di mulut untuk berpindah ke makanan akan semakin besar. Jika kita mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi, akan ada peluang untuk tertular juga.

Misalnya virus influenza dan TBC yang penyebarannya bisa secara langsung, bahkan melalui udara. Penyakit lebih serius seperti hepatitis juga bisa menular dengan kegiatan sederhana ini.

Memicu masalah kesehatan
Uap air yang bereaksi dengan CO2 atau gas karbondioksida yang keluar dari mulut, akan membentuk senyawa asam karbonat (carbonic acid). Karena bersifat asam, hal ini bisa memicu ketidakseimbangan pH dalam darah.

Meski demikian, sejumlah ahli masih memperdebatkan pernyataan ini karena sebagian berpendapat reaksi uap air (H2O) dan CO2 terjadi pada suhu dan tekanan tinggi. Asam karbonat (H2CO3) baru terbentuk pada 25 derajat Celcius, Kc = 1.70 x 10-3. Di samping itu, H2CO3 termasuk asam yang lemah layaknya cuka yang cukup aman jika masuk ke dalam tubuh.

Masalah lain yang mungkin akan timbul adalah jika (makanan) mengandung kalsium oksida (CaO). Saat makanan dengan senyawa tersebut ditiup dan bereaksi dengan CO2 dalam napas, maka akan menghasilkan batu kapur (CaCO3). Endapan CaCO3 dalam jumlah banyak bisa memicu terbentuknya batu ginjal.

Meniup makanan dianggap sesuatu yang tak sopan di negara tertentu.

Meniup makanan panas memang tujuannya untuk membuat makanan jadi dingin dan lebih nyaman untuk dikonsumsi. Namun, di saat bersamaan, makanan atau minuman jadi bercampur dengan bakteri atau virus yang terdapat di dalam mulut. Mulut mengandung banyak mikroorganisme berupa bakteri dan virus yang segera berpindah ketika kamu meniup makanan. Jadi, makanan memang dingin tapi jadi banyak mikroorganisme-nya.

Hal ini juga berlaku untuk para orang tua yang sering meniupkan makanan panas pada anaknya. Makanan untuk anak menjadi penuh dengan mikroorganisme yang berasal dari mulut orang tua. Situasi inilah yang sebenarnya bisa membuat anak menjadi lebih mudah jatuh sakit.

Kasus lain yang bikin meniup makanan panas itu berbahaya adalah reaksi kimia yang menghasilkan asam karbonat. Secara alami, asam karbonat atau H2CO3 merupakan senyawa kimia yang sudah hadir di dalam tubuh untuk mengatur kadar keasaman darah.

Proses meniup makanan membuat makanan menjadi mengandung asam karbonat akibat reaksi kimia yang terjadi antara karbon dioksida (CO2) dan air (H2O). Hasilnya, kadar keasaman darah menjadi tidak stabil dan berbahaya untuk kesehatan, khususnya kesehatan jantung.

Cara terbaik adalah membiarkan makanan untuk beberapa saat. Secara alami, makanan akan menyesuaikan dengan suhu ruangan atau turun secara signifikan jika tidak terkena panas lainnya. Selain itu, anda juga bisa menggunakan kipas untuk memberikan udara sehingga makanan cepat dingin dan lebih nyaman dikonsumsi.

Sumber:
https://www.idntimes.com/food/dining-guide/putriana-cahya/3-alasan-menghentikan-meniup-makanan-panas-1/full

https://www.lemonilo.com/blog/sering-meniup-makanan-panas-hentikan-sekarang-juga-karena-inilah-resikonya

Selengkapnya »

Buah yang Dilarang untuk Bayi Tahap MPASI Awal

Hasil gambar untuk orange and tomato

Hindari Jeruk dan Tomat pada MPASI Bayi 6 Bulan

Pengenalan cita rasa makanan kepada bayi bisa dilakukan ketika usianya 6 bulan. Salah satu makanan yang dapat Anda berikan adalah buah. Buah apa yang boleh dicicipi dan tidak boleh diberikan kepada buah hati tercinta?

Hindah Muaris, ahli kulinologi, mengatakan, buah pertama yang sebaiknya diperkenalkan adalah pisang ambon, alpukat, apel, dan pir.

Menginjak 7 bulan, Si Kecil boleh makan melon, semangka, dan pepaya. Setelah usianya 8 bulan hingga 1 tahun, ia boleh mencicipi anggur, tomat, dan jeruk. Ada sebagian ibu yang telah memberikan jeruk dan tomat sebagai buah pertama untuk Si Kecil ketika ia memulai MPASI di usia 6 bulan. Namun, buah ini ternyata dicurigai sebagai alergen atau pencetus alergi bagi bayi-bayi tertentu. Karena itu, sebaiknya berikan Si Kecil jeruk dan tomat bila usianya sudah lebih besar, yaitu 8 bulan ke atas.

Sedangkan buah yang tidak dianjurkan adalah nanas, durian, dan nangka. Ketiga buat tersebut mudah terfermentasi (mengeluarkan alkohol), sehingga tidak baik untuk sistem pencernaan bayi yang belum sempurna. Apapun buahnya, semua itu tergantung dari kemauan Si Kecil sendiri. Jika ia memang hanya mau makan 1 suap buah sehari, tidak masalah, karena di usia ini, buah hanyalah makanan pendamping untuk dikenalkan sejak dini.

Artikel ini diambi dari https://www.motherandbaby.co.id/article/2017/11/9/5125/Hindari-Jeruk-dan-Tomat-pada-MPASI-Bayi-6-Bulan

Selengkapnya »

Wadah Terbaik untuk Menyimpan ASI: Botol Kaca atau Kantong ASI?

Image result for milk storage baby

Untuk menyimpan ASI perah, selama ini orang mengira bahan wadah terbaiknya adalah kaca. Nyatanya, ada bahan wadah lain yang dianjurkan oleh dokter jika memungkinkan. Apa ya?

Menurut pakar laktasi dari Sentra Laktasi Indonesia (SELASI), wadah ASI sangat menentukan ketahanan dan kualitas dari ASI itu sendiri. Terlebih jika penyimpanan ASI ditujukan untuk donor, yang umumnya disimpan dalam jangka waktu lama.

"Wadah ASI yang disimpan lama sebaiknya paling bagus setahu saya adalah stainless steel ya sebenarnya. Tapi itu kan sangat mahal. Bisa juga dipakai kaca, itu nomor dua bagusnya," ujar dr Utami dalam workshop jurnalis 'Infant and Young Child Feeding' yang diadakan di Intercontinental MidPlaza Jakarta, Rabu (22/3/2017).

Jika memang tidak memungkinkan menggunakan botol kaca, bisa digunakan plastik khusus. Namun memang wadah ini memiliki beberapa kekurangan, salah satunya adalah banyak ASI yang menempel di dinding-dinding plastik.

"Kalau disimpannya lama, coba dihitung kira-kira berapa banyak kita jadi kekurangan zat-zat bagusnya ASI," imbuhnya.

Oleh sebab itu, jika penyimpanan ASI akan dilakukan dalam jangka waktu lama sebaiknya gunakan wadah berbahan stainless steel atau kaca. Selain lebih ekonomis, saat ini wadah botol kaca untuk ASI juga sudah banyak dijual di pasaran.

Beberapa waktu lalu dr Asti Praborini, SPA, IBCLC dari RS Permata Depok juga pernah menuturkan aturan penting dalam penyimpanan ASI perah. Selain memilih wadah, menentukan lama penyimpanan juga penting karena bisa disesuaikan dengan di mana ASI perah tersebut akan disimpan.

Lama penyimpanannya beragam, jika disimpan di suhu ruangan (6-8 jam), cooler bag/box (24 jam), kulkas (1-2 hari), freezer 1 pintu (2 pekan), freezer 2 pintu (3-6 bulan), atau deep freezer (6-12 bulan).

ASI yang sudah Ibu perah bisa disimpan untuk digunakan di kemudian hari. Jika disimpan dengan cara yang benar, maka kualitas ASI tersebut tidak akan berkurang dan masih dapat digunakan.

Metode enyimpanan ASI ini sangat berguna bagi Ibu yang sudah kembali bekerja.

Lama Penyimpanan ASI

Ibu bisa menyimpan ASI dengan berbagai cara, yang berpengaruh terhadap ketahanan ASI:
 • Jika disimpan pada suhu ruangan, ASI bisa digunakan sampai 6 jam ke depan.
 • Jika disimpan pada kotak pendingin (cool box) dengan batu es, ASI bisa digunakan sampai 24 jam ke depan.
 • Jika disimpan di kulkas dengan suhu 4 derajat atau lebih dingin, ASI bisa digunakan sampai 5 hari ke depan. Simpanlah ASI pada ujung dalam kulkas, dan jauhkan dari telur, daging dan makanan mentah.
 • Jika disimpan pada freezer di kulkas satu pintu, ASI bisa digunakan sampai 2 minggu ke depan.
 • Jika disimpan pada freezer di kulkas dua pintu, ASI bisa digunakan hingga 3 bulan ke depan.
 • Jika disimpan pada freezer khusus dengan suhu di bawah minus 18 derajat atau lebih dingin, bisa digunakan hingga 6 bulan ke depan.

Cara Menyimpan ASI
 •Taruh ASI ke dalam wadah yang sudah disterilisasi. Pastikan semuanya bersih untuk menghindari pertumbuhan bakteri di dalam ASI yang akan Ibu simpan. Jangan memasukkan ASI ke dalam gelas plastik minuman kemasan ataupun plastik styrofoam.
 • Beri tanggal dan jam pada masing-masing wadah.
 • Dinginkan dalam kulkas. Simpan sampai batas waktu yang diijinkan (+ 2 minggu).
 • Jika hendak dibekukan, masukkan dulu dalam kulkas selama semalam, baru masukkan ke freezer. Gunakan sebelum batas maksimal yang diijinkan (+3-6 bulan).
 • Jika ASI beku akan dicairkan, pindahkan ASI ke dalam kulkas malam sebelumnya, kemudian besok baru dicairkan dan dihangatkan. Jangan membekukan kembali ASI yang sudah dipindah ke kulkas.

Pemberian ASI Perahan
 • Ambil ASI berdasarkan waktu pemerahan (yang pertama diperah yang diberikan lebih dahulu).
 • Jika ASI beku, cairkan di bawah air hangat mengalir. Untuk menghangatkan, tuang ASI dalam wadah, tempatkan di atas wadah lain berisi air panas.
 • Goyangkan wadah ASI secara perlahan dulu sebelum mengetes suhu ASI. Lalu tes dengan cara meneteskan ASI di punggung tangan. Jika terlalu panas, angin-anginkan agar panas turun.
 • Jangan gunakan oven/ microwave untuk menghangatkan agar zat-zat penting di dalam ASI tidak hilang.

Sumber:
https://www.nutriclub.co.id/kategori/bayi/nutrisi/tips-menyimpan-asi/
https://health.detik.com/ibu-dan-anak/d-3455938/kata-dokter-ini-wadah-terbaik-untuk-simpan-asi
Selengkapnya »

Cara Melatih Anak Toilet Training / Potty Training

Hasil gambar untuk potty

Cara Mengetahui Anak Sudah Siap Jalani Toilet Potty Training

Tiap anak memiliki perkembangan yang berbeda-beda, termasuk kemampuannya untuk memulai toilet training. Umumnya, anak siap menjalani toilet training pada saat berusia 1 tahun 6 bulan, tapi kebanyakan anak siap memulainya pada saat berusia 1 tahun 10 bulan hingga 2 tahun 6 bulan. Kebanyakan anak sudah bisa memakai toilet dengan sempurna sekitar usia 3 tahun.

Untuk mengetahui tanda awal seorang anak siap untuk diberikan toilet training adalah dengan melihat kesiapan fisik dan emosionalnya. Tanda-tanda anak siap secara fisik adalah ketika dia mampu mengontrol keinginan untuk BAK dan BAB. Hal ini jarang terjadi sebelum usia 1 tahun 6 bulan.

Anda bisa mengetahui kesiapan fisik ini jika:

1. Anak memperlihatkan ekspresi saat menahan BAK atau BAB.

2. Popok kering saat bangun tidur atau setelah dua jam pemakaian.

3. Tidak BAB di popok saat malam hari.

4. BAB terjadi pada waktu yang sama tiap harinya atau pada waktu yang tidak bisa diprediksi.

6. Anak mampu melepas dan memakai pakaian serta mampu berkomunikasi dengan Anda tentang pemakaian toilet.

Berbeda dengan kesiapan fisik, kesiapan secara emosional butuh waktu yang lama. Berikut ini adalah tanda-tanda anak Anda sudah mencapai kesiapan emosional.

1. Anak akan memberitahu Anda ketika popoknya kotor dan meminta untuk diganti dengan yang baru.

2. Dia lebih memilih memakai celana dalam ketimbang popok.

3. Menunjukkan ketertarikannya ketika Anda memakai kamar mandi.

4. Memberitahu Anda ketika dia ingin buang air.

5. Bersemangat mengikuti semua proses toilet training.

Meski telah menunjukkan kesiapan fisik dan emosional, bukan berarti anak siap diberi toilet training. Ada sebagian anak yang belum siap melakukannya, terutama jika dia berada pada tahap ketika kata ‘tidak’ menjadi respons utamanya untuk tiap permintaan. Langkah terbaik adalah dengan berkonsultasi kepada dokter atau berbagi pengalaman dengan orang tua atau teman yang pernah mengalaminya.

Hindari memaksakan kehendak Anda ketika anak belum siap melakukannya. 

Hal itu bisa memicu stres yang bisa memperlambat kesiapannya melepas popok. Anda pun akan merasa frustrasi jika memaksa memberikan toilet training pada anak yang belum siap.

Bagaimana cara membimbing anak selama toilet training?

Langkah-langkah awal yang harus Anda lakukan untuk menunjang proses toilet training pada anak antara lain:

Kenalkan anak kepada toilet.
Mulailah menjelaskan penggunaan toilet untuk BAK dan BAB. Katakan kepada anak ketika mulai memakai toilet, berarti dia harus melepas popoknya dan menggantinya dengan celana dalam. Jelaskan pula bahwa anak sudah tidak bisa BAK dan BAB pada popok atau celana dalam.

Pilih pispot.
Gunakan pispot atau tempat duduk kloset khusus untuk anak-anak. Anda bisa meletakkan pispot di kamar mandi agar Si Kecil bisa terbiasa dengan fungsi toilet. Bisa juga di kamar atau area bermain Si Kecil agar bisa langsung dia gunakan saat BAK atau BAB. Anda bisa mengatakan kepadanya bahwa selagi masih anak-anak, pispot ini akan menjadi tempatnya untuk BAK atau BAB.

Ajak anak saat Anda beraktivitas di toilet.
Untuk memudahkan proses toilet training, melihat aktivitas secara langsung di toilet sangatlah penting. Contohnya, Anda bisa mengajak anak ketika Anda ingin memakai toilet, itu pun jika Anda merasa nyaman. Jelaskan apa saja yang Anda lakukan saat itu.

Saatnya Beraksi
Kini saatnya Anda membiasakan anak untuk BAK atau BAB di kamar mandi memakai pispot atau tempat duduk kloset. Untuk mempermudah proses ini, pakaikan baju yang mudah dilepas dan dipakai oleh anak seorang diri. Selanjutnya ajari dia tata cara saat memakai toilet seperti:

Mengajari cara duduk yang benar saat memakai pispot atau tempat duduk kloset.
Setelah selesai BAK atau BAB, ajari dia untuk membersihkan alat kelaminnya. Untuk anak perempuan, ajari untuk membasuh alat kelaminnya memakai tangan kiri dimulai dari arah depan vagina, kemudian ke bagian anus. Hal ini bertujuan untuk mencegah berpindahnya bakteri dari anus ke vagina.

Untuk anak laki-laki, ajari untuk mengarahkan penisnya ke bawah pispot atau toilet agar air seni tidak menyiprati bagian depan tempat duduk pispot atau kloset. Ajari juga anak Anda untuk membersihkan penisnya dengan air usai melakukan BAK.

Anak-anak di bawah usia 4-5 tahun biasanya tidak bisa membersihkan alat kelaminnya dengan benar, terutama setelah BAB. Pada saat inilah Anda bisa membantu membersihkannya.

Bantu anak untuk menekan tombol flush pada toilet usai BAK atau BAB.

Jika menggunakan pispot, ajak Si Kecil untuk melihat proses pembuangan air seni atau tinja dari pispot ke kloset. Hal itu berguna agar Si Kecil tahu tempat pembuangan terakhir air seni atau tinja adalah di kloset.

Setelahnya, ajari Si Kecil untuk mencuci tangan yang benar usai memakai toilet.
Pada tahapan ini, cobalah untuk sering memberi Si Kecil pujian. Puji tiap aktivitas yang berhasil dia lakukan untuk menambah kepercayaan dirinya di masa mendatang.

Ingat selama proses ini, jangan pernah meninggalkan anak sendirian tanpa pengawasan di dalam kamar mandi atau toilet demi menghindari kecelakaan, seperti terpeleset atau memasukkan sesuatu yang berbahaya ke dalam mulut.

Mengajari anak menggunakan toilet memang butuh kesabaran. Hari ini mungkin dia mau mengikuti semua proses toilet training, namun hal itu bisa saja berbeda pada keesokan harinya. Intinya, jangan memaksa jika memang anak tidak mau melakukannya. Bersabarlah hingga anak benar-benar terbiasa tanpa popoknya.

Artikel dikutip dari https://www.alodokter.com/anak-anda-sudah-siap-diberikan-toilet-training
Selengkapnya »

Kapan Gigi Bayi Mulai Tumbuh dan Apa Tanda-Tandanya?

Gambar terkait

Ketika gigi bayi mau tumbuh, bayi akan merasa tidak nyaman dan menunjukan perilaku yang tidak biasa. Sayangnya, bayi belum bisa berkomunikasi dan memberi tahu orang tua keluhan apa yang dirasakan. Setiap bayi akan menunjukkan tanda-tanda yang berbeda di usia yang berbeda-beda pula.

Akibatnya, buah hati Anda akan jadi rewel tanpa sebab yang jelas. Untuk itu, setiap Ibu perlu memerhatikan dan memahami apa saja tanda gigi bayi mau tumbuh.

Usia berapa gigi bayi mulai tumbuh?
Gigi bayi akan tumbuh secara bertahap. Pada umumnya, pertumbuhan gigi pada bayi terjadi di usia 6 bulan. Namun, gigi beberapa bayi bisa tumbuh lebih cepat lagi, yaitu sekitar usia 4 bulan. Biasanya gigi bayi tumbuh berpasang-pasangan, baik sepasang dulu di atas maupun sepasang dulu di bawah. Jangan khawatir jika gigi bayi Anda belum muncul juga.

Gigi pertama yang tumbuh di usia 12 bulan masih dianggap wajar dan sehat.

Tanda-tanda gigi bayi mau tumbuh
Kalau Anda tidak bisa melihat munculnya gigi mungil pada gusi bayi Anda, perhatikan beberapa tanda lain yang mengindikasikan pertumbuhan gigi bayi.

Perlu diingat, pada setiap bayi tanda-tanda yang ditunjukkan bisa berbeda-beda. Bahkan pada beberapa kasus, bayi tidak akan menunjukkan tanda-tanda apa pun saat giginya mau tumbuh. Ini juga masih termasuk normal.

Berikut adalah 10 tanda gigi bayi mau tumbuh.

1. Pruduksi Air Liur Meningkat Lebih Banyak
Ketika giginya mau tumbuh, bayi Anda akan memproduksi air liur yang lebih banyak dari biasanya. Maka, bayi Anda jadi lebih mudah mengeces. Bahkan beberapa bayi akan mengalami ruam-ruam di sekitar mulut, dagu, dan leher. Ini karena air liur yang lembap terus membasahi wajah, leher dan dada.

Selalu sediakan kain lembut atau tisu steril untuk mengusap air liur bayi dan kenakan celemek khusus bayi yang mudah menyerap air. Seiring bertambahnya usia, bayi Anda akan semakin mahir dalam mengendalikan air liur dalam mulutnya.

2. Batuk atau muntah
Bayi belum benar-benar bisa mengendalikan semua otot dan saraf di dalam mulut dan tenggorokannya. Karena dalam mulut bayi Anda terdapat terlalu banyak air liur, bayi Anda berisiko tersedak ketika berusaha menelan. Hal ini biasanya ditandai dengan batuk-batuk atau muntah. Jika batuk dan muntah yang dialami bayi Anda tidak disertai pilek, flu, atau diare, Anda tidak perlu khawatir.

3. Menangis
Beberapa bayi hanya akan bergumam kecil ketika gusi atau mulutnya tak nyaman. Namun, bagi sebagian bayi, proses pertumbuhan gigi bisa terasa sangat menyakitkan. Jaringan-jaringan gusi yang masih sangat rawan bisa mengalami peradangan, terutama pada pertumbuhan gigi-gigi pertama bayi Anda. Ini akan menyebabkan rasa nyeri. Untuk meredakan rasa nyeri, berikan makanan lembut yang dingin seperti yogurt atau mainan teether (terbuat dari karet atau silikon yang lembut dan kenyal) yang sudah dimasukkan ke dalam kulkas. Makanan dan mainan ini berfungsi layaknya kompres dingin yang akan membantu menghilangkan rasa nyeri.

4. Suka menggigit
Tekanan dari gusi yang dirasakan bayi ketika giginya mau tumbuh akan terasa sangat tidak nyaman. Bayi pun jadi sering menggigit benda-benda di sekitarnya, termasuk Anda sendiri. Jika Anda masih menyusui dan bayi mulai menggigit, perhatikan baik-baik ketika rahangnya mulai menegang sebelum menggigit. Segera selipkan jari Anda yang bersih di antara gusi bayi lewat ujung bibirnya. Ingatkan dengan lembut bahwa ia tak seharusnya menggigit Anda. Apabila bayi Anda menggigiti kerangka boks atau ranjang bayi, lapisi dengan kain lembut yang bisa menyerap air.

5. Gusi membengkak
Anda mungkin bisa melihat bahwa gusi bayi Anda memerah dan membengkak. Hal ini wajar bagi bayi yang giginya mau tumbuh. Kalau bagian gusi tersebut berada dalam jangkauan Anda, Anda bisa memberikan pijatan ringan pada gusinya dengan jari Anda yang bersih. Bayi Anda mungkin akan kaget atau protes ketika Anda pertama kali melakukan ini, tetapi ia akan merasa lebih nyaman setelah gusinya dipijat. Anda juga bisa memijatnya dengan kain lembut yang sudah dibasahi dengan air dingin.

6. Sering bangun di malam hari
Rasa tidak nyaman yang diderita bayi Anda tak hanya muncul di pagi atau siang hari saja. Bahkan ketika bayi Anda sedang tidur, ia bisa terbangun karena rasa sakit atau gatal pada gusinya. Perhatikan jika bayi Anda sering terbangun di malam hari tanpa alasan yang jelas dan di jam yang tidak biasa. Bisa jadi ini tanda gigi bayi mau tumbuh.

7. Susah makan
Karena mulutnya terasa tak nyaman, wajar saja jika bayi Anda jadi kehilangan nafsu makan. Jika berbagai cara sudah Anda lakukan dan bayi Anda tetap rewel atau menolak makan, segera hubungi dokter anak. Bayi Anda mungkin diresepkan obat pereda rasa sakit seperti acetaminophen (parasetamol) khusus untuk bayi.

8. Menarik-narik telinga atau menggaruk pipi
Bayi akan mulai menarik-narik daun telinganya atau menggaruk pipinya ketika giginya mau tumbuh. Ini karena dia gusi akan terasa sedikit gatal dan tak nyaman, sementara bayi Anda tidak bisa menjangkau ke bagian gusi tersebut. Supaya bayi Anda tidak lecet atau terluka karena hal ini, Anda bisa mencoba mengalihkan perhatiannya atau menawarkan mainanan teether. Hati-hati karena bayi Anda mungkin melakukan hal ini saat tertidur, jadi pastikan bahwa kuku dan tangan bayi Anda senantiasa bersih.

9. Demam
Jika peradangan yang terjadi pada gusi cukup serius, bayi Anda mungkin mengalami demam. Akan tetapi, demam yang disebabkan oleh peradangan gusi karena gigi bayi mau tumbuh biasanya tidak begitu tinggi. Jika demam bayi Anda mencapai 38 derajat Celsius ke atas, berarti penyebabnya bukanlah gigi yang mau tumbuh.

10. Memasukkan tangan ke dalam mulut
Untuk meredakan rasa tidak nyaman atau gatal yang muncul, bayi Anda akan sering memasukkan tangannya ke dalam mulut. Maka sebaiknya Anda menjaga agar tangan, mainan, dan benda-benda yang mungkin disentuh bayi Anda tetap bersih. Ingatkan juga bayi Anda untuk menghindari hal ini.

Lebih baik siapkan kompres dingin dengan kain lembut untuk membantu mengurangi sakit atau gatal di gusi ketika gigi bayi mau tumbuh.


Hasil gambar untuk gambar pertumbuhan gigi bayi

Berikut adalah fakta mengenai pertumbuhan gigi yang perlu diketahui setiap orang tua yang pertama kali memiliki bayi:

1. Sebagian besar bayi akan mengembangkan gigi antara 6 dan 12 bulan.
Ada banyak variasi tentang kapan gigi pertama mungkin muncul — beberapa bayi mungkin tidak memiliki gigi pada ulang tahun pertama mereka! Sekitar usia 3 bulan, bayi akan mulai menjelajahi dunia dengan mulut mereka dan telah meningkatkan air liur dan mulai meletakkan tangan mereka di mulut mereka. Banyak orang tua mempertanyakan apakah ini berarti bayi mereka tumbuh gigi, tetapi gigi pertama biasanya muncul sekitar 6 bulan. Biasanya, gigi pertama yang masuk hampir selalu adalah gigi depan bawah (gigi seri tengah bawah), dan kebanyakan anak-anak biasanya akan memiliki semua gigi bayinya pada usia 3 tahun.


2. Memijat gusi yang sakit
Menawarkan sesuatu yang dingin pada malam saat bayi rewel dapat membantu menenangkan rasa sakit gigi bayi Anda, seperti teether yang ditaruh di lemari es sebelumnya ataupun kain kompres air dingin yang diperas.

Biasanya tumbuh gigi tidak menyebabkan ketidaknyamanan pada anak-anak, namun, banyak orang tua dapat mengetahui kapan bayi mereka tumbuh gigi. Bayi mungkin menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan di daerah di mana gigi masuk, gusi di sekitar gigi mungkin bengkak dan lunak, dan bayi bisa mengeluarkan air liur lebih banyak dari biasanya.

Orang tua dapat membantu meringankan rasa sakit saat tumbuh gigi dengan memijat gusi bayi mereka dengan jari yang bersih, menawarkan teether yang padat, tidak berisi cairan, atau kain lap bersih yang dibekukan atau basah. Jika Anda menawarkan biskuit tumbuh gigi, pastikan untuk memperhatikan bayi Anda saat ia memakannya. Bongkahan bisa putus dengan mudah dan bisa menyebabkan tersedak.

Suhu tubuh bayi mungkin sedikit naik ketika tumbuh gigi;  Jika bayi Anda jelas tidak nyaman, bicarakan dengan dokter anak tentang pemberian dosis acetaminophen yang sesuai berat badan (mis., Tylenol) atau jika lebih dari 6 bulan. Pastikan untuk bertanya kepada dokter anak Anda untuk dosis yang tepat dalam mililiter (mL) berdasarkan usia dan berat badan anak Anda.

Namun demikian, ada juga banyak anak yang tidak memiliki masalah sama sekali ketika gigi mereka tumbuh.

3. Jangan gunakan tablet tumbuh gigi, gel dengan benzocaine, gel atau tablet tumbuh gigi homeopati, atau kalung gigi tumbuh-kuning.

Jauhi tablet tumbuh gigi yang mengandung racun tanaman belladonna dan gel dengan benzocaine. Belladonna dan benzocaine dipasarkan untuk mematikan rasa sakit anak Anda, tetapi FDA telah mengeluarkan peringatan terhadap keduanya karena efek samping potensial.

Selain itu, kalung gigi ambar tidak dianjurkan. Kalung yang diletakkan di sekitar leher bayi dapat menimbulkan risiko tercekik atau berpotensi tersedak. Juga tidak ada penelitian untuk mendukung efektivitas kalung itu.

4. Sikat gigi
Anda harus menyikat gigi anak Anda dua kali sehari dengan sikat gigi khusus bayi.
Setelah anak Anda memiliki gigi, Anda harus menyikatnya dua kali sehari  Ingatlah untuk tidak meletakkan bayi Anda di tempat tidur dengan botol — itu dapat menyebabkan kerusakan gigi.

Begitu anak Anda menginjak usia 3 tahun, American Academy of Pediatrics (AAP), American Dental Association (ADA), dan American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) merekomendasikan agar pasta gigi fluoride seukuran kacang polong digunakan saat menyikat gigi.

Ketika anak Anda mampu, ajari dia untuk memuntahkan pasta gigi berlebih. Yang terbaik adalah Anda menempelkan pasta gigi di sikat gigi sampai anak Anda berusia sekitar 6. Orang tua harus memantau dan membantu anak mereka saat menyikat gigi sampai ia berusia sekitar 7 atau 8 tahun. Ketika anak Anda dapat menulis namanya dengan baik, ia juga memiliki kemampuan untuk menyikat dengan baik.

Selengkapnya »

Bayi Jarang Menangis, apakah berbahaya?

Hasil gambar untuk bayi jarang menangis

Bayi Anda terlihat jarang menangis? Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, apalagi jika melihat bayi-bayi lain pada seusianya sering menangis. Tidak perlu cemas, kenali dahulu temperamen bayi Anda sebelum mencurigai adanya kelainan atau penyakit yang sedang dideritanya.

Tangisan adalah cara bayi untuk berkomunikasi kepada Anda. Alasan bayi menangis biasanya untuk memberi tahu bahwa dia merasa lapar, merasa kedinginan atau kepanasan, kelelahan atau sekadar ingin dipeluk saja. Di sinilah peran Anda sebagai orangtua dibutuhkan, karena Andalah yang mereka harapkan untuk dapat mengartikan tangisan mereka. Namun, memang ada juga sebagian bayi yang jarang menangis dan terkesan tidak rewel. Hal ini bisa karena setiap anak memiliki sifat dan temperamen yang unik dan berbeda.

Mencari tahu sifat dasar anak menjadi bagian yang paling menyenangkan dari kehadiran bayi baru di dalam kehidupan kita. Sifat dasar bayi sudah mulai terbentuk sejak minggu-minggu awal di kehidupannya. Amati dengan baik, mulai dari perilaku tidurnya hingga seberapa sering dia menangis. Makin teliti Anda memerhatikan tanda-tanda tersebut, Anda pun bisa mengetahui cara merespons sikap uniknya.

Mengenali Temperamen Bayi Jarang Menangis
Temperamen merupakan suatu bentuk reaksi bayi terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Kebanyakan bayi akan terkejut dan menangis di dalam banyak situasi yang baru dialaminya, namun sebagian bayi lainnya bisa bersikap lebih. Jadi wajar saja jika ada bayi yang lebih sulit ditangani dibandingkan yang lain karena kepribadian dan temperamen tiap bayi berbeda-beda. Tapi bagaimana pun temperamen bayi, Anda akan merasa lebih nyaman jika bisa mengikuti gaya bayi dibandingkan memaksakan bayi untuk mengikuti kehendak Anda.

Ada beberapa poin yang dapat Anda gunakan untuk mempelajari temperamen bayi, yaitu:

Tingkat aktivitas.
Apakah bayi Anda pada umumnya gelisah dan aktif atau lebih cenderung tenang dan santai?

Keteraturan.
Apakah bayi Anda makan dan tidur dalam waktu yang kurang lebih sama, ataukah berbeda-beda setiap harinya?

Adaptasi.
Bagaimana respons bayi saat berada di situasi baru atau menemui orang-orang baru? Apakah dia lebih senang saat melihat sesuatu yang baru atau tidak? Jika bayi Anda marah, apakah dia cepat pulih kembali?

Ambang sensitivitas.
Seberapa sensitif bayi Anda terhadap paparan cahaya terang, suara keras, atau baju baru yang bahannya berbeda dari biasa?

Mood.
Apakah sehari-harinya bayi Anda tampak senang atau lebih sering murung dan mudah marah?

Intensitas.
Seberapa kencang tangisan atau teriakan bayi Anda ketika dia sedang senang ataupun marah? Apakah bayi Anda tampak mudah bergaul dengan orang baru atau lebih pemalu.

Pengalihan perhatian. 
Apabila bayi Anda sedang lapar, misalnya, dapatkah Anda menghentikan tangisannya sementara dengan memberikan dot atau berbicara secara lembut padanya?

Ketekunan.
Apakah bayi Anda cenderung bermain dengan sejenis mainan dalam waktu yang lama, ataukah dia lebih suka berganti-ganti mainan?

Poin-poin di atas dapat memberi petunjuk bagi Anda untuk lebih memahami temperamen dan sifat bayi yang mungkin selama ini membuat Anda frustasi. Misalnya saja, bila ambang sensitivitas bayi rendah, bayi akan rewel dan menangis saat lampu dinyalakan atau saat radio berbunyi. Bayi bisa jadi tidak suka digendong karena dia sensitif terhadap sentuhan. Temperamen jugalah yang membuat beberapa bayi tidak suka ditimang-timang saat tidur, karena hal ini dianggap mengganggu baginya.

Sebagian karakter khas ini terbangun sejak bayi lahir, namun bisa terlambat pada bayi prematur. Bayi prematur tidak mengekspresikan kebutuhan mereka, seperti rasa lapar, lelah, atau tidak nyaman sejelas bayi yang dilahirkan normal. Mereka sangat sensitif terhadap cahaya, suara, dan sentuhan selama beberapa bulan awal. Bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg menjadi kurang responsif jika dibandingkan bayi lain juga. Jika ini terjadi, sebaiknya orang tua menunggu hingga bayi lebih siap menerima perhatian. Pada akhirnya, reaksi awal ini akan mereda.

Jadi, orang tua tidak perlu terlalu cemas saat mendapati bayi jarang menangis, karena ini mungkin memang sudah menjadi sifat dasar bayi Anda. Namun, bila Anda mendapati perubahan temperamen bayi yang lain dari biasanya, Anda dapat memeriksakan bayi ke dokter guna memastikan apakah gejala bayi jarang menangis disebabkan oleh adanya kelainan atau hanya merupakan sifat unik dari bayi Anda.
Selengkapnya »

Trik Jitu Agar Bayi Mudah Tidur

Hasil gambar untuk baby sleep asian youtube

Cara Paling Mudah yang perlu dilakukan untuk mengatasi Bayi Susah Tidur
 
Mengatasi bayi sulit tidur adalah salah satu agenda utama bagi para orang tua yang baru memiliki anak agar bayi dapat berkembang secara normal dan sehat. Kondisi bangun berulang di tengah malam demi membujuk sang buah hati untuk kembali tidur sambil bergantian dengan sang suami, bukanlah sesuatu yang mudah dan menyenangkan.

Tahukah Ibu, bahwa kurang tidur pada bayi sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak dan perkembangan otaknya. Jadi hal ini perlu diperhatikan baik-baik. Idealnya, seorang bayi yang baru lahir sampai kira-kira usia 3 bulan, akan menghabiskan waktu tidurnya sekitar 15-17 jam. Sedangkan anak usia 6 – 23 bulan memerlukan waktu tidur sekitar 13 jam setiap harinya secara rutin.

Setelah Ibu mengetahui penyebab bayi sulit tidur, kini saatnya bagi Ibu untuk mengetahui langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk membuat si kecil tetap terlelap di waktu tidurnya. Bila Ibu merasa bayi susah tidur di malam hari, cobalah beberapa cara ini :


Ajari si kecil perbedaan siang dan malam
Waktu tidur bayi yang berbalik 1800 dengan orang dewasa sering menjadi kendala bayi sulit tidur. Oleh karena itu, Ibu perlu mengajari bayi perbedaan siang dan malam. Caranya dengan membuat suasana redup atau temaram di malam hari, sebagai salah satu tanda yang mudah dikenali bayi sebagai waktu untuk tidur. Kondisi ini akan membuat bayi terbiasa kapan waktunya tidur dan bangun.

Pada saat siang hari, bukalah tirai dan jendela agar sinar matahari masuk ke ruangan. Selain dapat membuat suasana terang, sinar matahari juga mematikan kuman dan mengurangi kelembaban ruangan, serta oksigen yang segar membuat ruangan lebih nyaman.


Ciptakan rutinitas sebelum tidur
Cara mengatasi bayi yang sulit tidur bisa dengan menciptakan rutinitas sebelum tidur, karena bayi berusia 3-4 bulan sudah dapat mengerti rutinitas yang dihadapinya sehari-hari. Untuk melatih bayi tidur teratur, ciptakan rutinitas yang konsisten setiap hari. Misalnya, lap badannya, mengganti baju tidur, beri ASI dan redupkan lampu. Jika si kecil masih belum bisa tidur, berikan dia waktu untuk menyesuaikan diri.


Ciptakan suasana yang nyaman
Agar bayi tidur dengan nyenyak, Ibu bisa menciptakan suasana kamar yang nyaman dan tenang. Mulai dari penerangan lembut yang bisa memberikan efek nyaman dan menstimulasi otak untuk segera beristirahat. Hindari bunyi-bunyian yang berasal dari televisi ataupun radio, suara bising alat elektronik dapat membuat si kecil terus terjaga. Pelukan dari Ibu juga bisa menjadi salah satu hal yang akan membantu si kecil lebih terlelap.


Langkah Pintar Bikin Tidur Berkualitas
Walau Anda sudah mengagendakan untuk tidur jam sekian, tetapi kalau mata tidak bisa terpejam, porsi tidur tentu bakal kurang.


Batasi waktu tidur siang
Bayi susah tidur di malam hari bisa jadi karena terlalu banyak tidur di siang hari. Oleh karena waktu tidur siang si kecil harus diatur dan dibatasi. Jam tidur siang anak cukup selama 1-2 jam, tidur siang yang terlalu lama akan membuatnya terjaga di malam hari karena merasa tidak mengantuk. Salah satu cara mencegah bayi terlalu banyak tidur di siang hari adalah dengan mengajaknya bermain dan bercengkrama.


Beri ASI sebelum tidur
Membuat perut bayi merasa kenyang merupakan salah satu cara yang sangat efektif membuat anak lebih nyenyak tidur di malam hari. Berikan ASI sebelum ia tidur. Jika bayi sudah di atas 6 bulan, berikan makanan 1-2 jam sebelum tidur. Ketika si kecil merasa kenyang, mereka akan bisa tidur lebih nyaman.


Lakukan pijat bayi
Perut kembung hingga kolik bisa menjadi salah satu penyebab bayi sulit tidur. Banyaknya gas yang tertahan di sekitar wilayah perut dapat menyebabkan bayi  merasa tidak nyaman. Akibatnya bayi dapat  menangis tiba-tiba di waktu-waktu tertentu secara berkepanjangan. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman di perut, Ibu bisa mengoleskan minyak telon untuk mengahangat perut bayi sambil melakukan pijat “I LOVE U” untuk mengatasi perut kembung dan melancarkan kembali pencernaan si kecil. Pijatan bayi juga ampuh untuk membuat bayi tidur lebih nyenyak karena tubuh bayi merasa lebih rileks.


Periksa kondisi tubuh si kecil
Perlu diperhatikan juga bagi para orang tua, si kecil rewel bisa jadi kode penanda dari kondisi tidak enak badan. Periksalah suhu tubuh bayi bila rewel tak mereda, mungkin ia mengalami demam, hidungnya mampet sehingga susah bernapas.
Selengkapnya »

Penyebab dan Cara Mengatasi Bayi Susah Makan

Hasil gambar untuk baby eats

Di atas usia 6 bulan, bayi sudah mulai dapat diberikan makanan. Namun, seringkali bayi susah makan sehingga membuat para ibu merasa cemas, karena khawatir akan mengganggu perkembangan bayi. Jika kondisi ini terjadi pada bayi Anda, ada baiknya Anda memahami cara mengatasi bayi susah makan.

Bayi susah makan bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya karena merasa kenyang, alergi makanan, lelah, tidak suka dengan makanan yang diberikan. Selain itu, beberapa kondisi seperti lahir prematur, diare, sakit kuning, dan infeksi telinga, dapat menjadi penyebab bayi susah makan. Meski tergolong wajar, susah makan bisa berdampak fatal pada bayi jika dibiarkan tanpa penanganan, terlebih dalam waktu yang lama.

Berbagai Cara Mengatasi Bayi Susah Makan

Menghadapi bayi yang susah makan memang melelahkan, namun usahakan untuk tetap tenang. Pada kasus tertentu, bayi bisa tumbuh dengan sehat dan normal meski susah makan. Namun, jika berat badannya tidak bertambah karena susah makan, sebaiknya jangan dibiarkan, karena bayi Anda bisa kekurangan nutrisi, mengalami hambatan pertumbuhan, bahkan gangguan psikologis.

Beberapa cara mengatasi bayi susah makan yang dapat dilakukan di rumah, antara lain:

Menyuapinya pelan-pelan
Jangan memaksa bayi untuk makan jika dia menolaknya. Kenali saat bayi mulai merasa lapar. Biasanya bayi akan merengek atau menjadi rewel jika merasa lapar. Cobalah untuk menyuapinya pelan-pelan di saat dia mulai merasa lapar. Anda juga bisa memberinya makan dalam porsi kecil namun lebih sering, ketimbang sekaligus dalam porsi besar.

Menghaluskan makanan
Salah satu penyebab bayi kesulitan menelan makanan adalah karena makanan yang diberikan terlalu keras. Untuk itu, cobalah untuk menghaluskan makanan bayi dengan menambahkan susu atau air putih.

Hindari terlalu sering memberikan makanan baru
Tidak jarang bayi akan menolak jika diberikan makanan baru yang belum pernah ia makan sebelumnya. Untuk mengatasinya, Anda bisa mencampur makanan baru itu dengan menu makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Bila ingin memperkenalkan jenis makanan baru, maka berikan secara bertahap dan jangan terlalu cepat mengubah menu makanannya.

Menyuapinya pada waktu yang tepat
Bayi cenderung menolak untuk makan ketika dia merasa ngantuk. Oleh karena itu, perhatikan waktu yang tepat sebelum Anda menyuapinya, misalnya setelah dia bangun tidur atau setelah dia bermain.

Jauhkan makanan pemicu alergi
Jika bayi susah makan karena alergi, usahakan untuk menghindari makanan pemicu alergi pada bayi Anda. Makanan pemicu alergi itu bisa berupa susu, kacang, kedelai, gandum, seafood, atau telur.
Jika berbagai cara mengatasi bayi susah makan tersebut tidak mampu membuat bayi Anda menjadi lebih mudah makan, sebaiknya konsultasi ke dokter untuk penanganan yang tepat.

Waspadai kondisi bayi susah makan jika disertai gejala berupa bayi menangis terus-menerus, muntah setelah makan, buang air besar berdarah, tidak merespons ketika ketika disentuh, atau mengalami demam dengan suhu tubuh di atas 37 derajat Celsius. Segera bawa bayi ke dokter atau layanan kesehatan terdekat.
Selengkapnya »

Cara Jitu Menyiasati Bayi tidak mau Pakai Baju

Hasil gambar untuk baby doesn't want to wear clothes

Moms pasti pernah kesal dengan kebiasaan si kecil yang tidak mau memakai baju? Jangan dulu jengkel dan memarahi kalau si kecil tidak mau memakai baju. Karena tingkah laku menggemaskan ini dialami semua orangtua di dunia.

Lalu bagaimana menyikapi anak yang susah memakai baju? Simak tips di bawah ini ya.

1. Cari tahu dulu penyebab anak sulit memakai baju
Biasanya ibu membelikan pakaian termasuk celana untuk si kecil biasanya melihat model yang lucu. Ternyata ini keliru, yang perlu diperhatikan dalam membeli pakaian anak bahan dan sesuai dengan usia anak.

Carilah bahan katun organik untuk celana si kecil. Bahan yang lembut akan menyerap keringat dengan baik. Sebaliknya bahan dari non katun akan membuat anak gatal dan tidak nyaman. Dan perhatikan juga cara merawat baju si kecil agar tetap awet.

2. Berikan kebebasan anak untuk memilih bajunya sesuai seleranya

Biasanya anak menolak pakai baju bisa disebabkan karena mereka tidak suka model, warna atau gambar dari baju pilihan ibu. Cara menolaknya biasa dengan cara si kecil berlari dan menghindar untuk kamu pakaikan baju. Tentu saja ini bisa membuat ibu jengkel dan tidak sabar.


Nah, untuk menyiasatinya ibu bisa menawarkan kepada si kecil baju apa yang ingin dikenakan setelah mandi. Ibu bisa memberikan dua atau tiga pilihan baju yang memang disukai anak. Berikan kebebasan bagi anak untuk mulai memilih bajunya sendiri, sebagai awal pembentukan fase kemandiriannya.

3. Biarkan si kecil mencoba untuk belajar memakai baju sendiri

Sering kali orangtua memakaikan baju anak. Padahal, anak mungkin mau mencoba memakai baju sendiri. Nah, ibu bisa memberikan waktu buat si kecil belajar memakai pakaian sendiri. Ya, meski memang akan membutuhkan waktu lebih lama namun jangan kuatir ini adalah proses belajar bagi si kecil.

Kalau si kecil terlihat kesulitan, ibu bisa membantunya. Ibu bisa mengajarkan anak memakai baju sendiri dengan mempraktikkannya.

4. Kebiasaan orangtua yang tergesa-gesa saat meminta anak pakai baju

Ini juga tidak membuat anak nyaman, ketika ibu serba terburu-buru termasuk dalam memakai pakaian anak. Padahal seharusnya momen memakai baju menjadi kegiatan yang disukai anak.


Cobalah untuk meluangkan waktu lebih lama saat memakaikan baju si kecil. Karena biasanya proses menggunakan baju akan berjalan lama, jika ibu terburu-buru akan berangkat pergi maka bisa memberikan waktu satu atau dua jam sebelumnya.

5. Mencari ide kreatif untuk membujuk anak mau memakai baju

Untuk menyiasati agar anak mau memakai pakaian tanpa harus dikejar-kejar, ibu harus memiliki ide yang kreatif. Misal, buatlah kegiatan menggunakan baju lebih menarik seperti memutarkan lagu kesukaan dan ajak si kecil menari sambil memakai baju.

6. Menawarkan hadiah bila si kecil berhasil memakai baju tanpa berlari

Tentu tidak ada salahnya kalau ibu memberikan apresiasi kepada anak saat berhasil memakai baju tanpa "drama". Tujuan memberikan hadiah ini lebih untuk mendorong anak lebih semangat. Hadiah bisa berupa mainan atauun makanan kesukaannya. Atau bentuk pujian dengan tepuk tangan kepada si kecil.

7. Mengajak anak memilih dan membeli baju sesuai selera

Meski masih anak-anak, mereka juga memiliki hak untuk memilih baju sesuai keinginan. Karena itu ibu bisa mengajak anak ke pusat belanja atau berbelanja di babyrabbit.id untuk melihat dan memilih sendiri baju yang mereka sukai.


Biasanya anak akan lebih cepat memakai baju yang memang mereka favoritkan. Dengan sesekali memberikan kebebasan memilih baju yang akan dibeli, anak merasa diberikan kepercayaan.


Jadi ibu tidak perlu memaksa bahkan berteriak-teriak untuk meminta anak memakai baju. Sebaliknya, momen memakai baju bisa menjadi hal yang ditunggu anak.
Selengkapnya »

Mendeteksi Autisme pada Bayi Sedini Mungkin

Hasil gambar untuk autisme bayi

Autisme memang sudah cukup lama dikenal masyarakat, namun masih saja banyak pertanyaan yang tersisa mengenai gangguan perkembangan otak ini. Berikut ini beberapa pertanyaan dan jawabannya seputar autisme yang perlu kita ketahui bersama, berdasarkan buku berjudul 200 Pertanyaan & Jawaban Seputar Autisme yang ditulis oleh Gayatri Pamoedji, pendiri Yayasan Masyarakat Peduli Autis (MPATI).

Hingga saat ini, penyebab dari autisme belum diketahui. Para ahli masih terus melakukan penelitian untuk mengetahui jawabannya. Namun beberapa kondisi seperti komplikasi sebelum dan sesudah melahirkan, polusi, faktor genetik, keracunan logam berat, dan alergi terhadap makanan tertentu disebut bisa menjadi pemicu timbulnya autisme. Hanya saja, belum ada riset yang dapat membuktikan kebenaran tersebut dan para ahli pun masih terus memperdebatkannya. Autis Bayi 2 tahun bisa saja dikenali atau bahkan dapat terlihat gejala pada bayi usia 9 bulan. Mengenali autis pada bayi jarang menangis sedini mungkin dapat membantu ibu memberikan penanganan dan terapi yang lebih cepat agar anak autis bisa sembuh.


Benarkah anak menjadi autisme karena ibu stres saat hamil?

Ibu yang stres saat hamil sesungguhnya tidak menyebabkan anak menjadi autisme. Hal ini diperkuat oleh para ahli yang tidak memasukkan 'stres saat hamil' dalam daftar yang harus diselidiki sebagai penyebab autisme. Selain itu, fakta juga memperlihatkan banyak ibu yang mengalami stres saat hamil, namun tidak melahirkan anak autisme.


Apakah gejala autisme bisa terlihat sejak bayi?

Ya, gejala autisme sudah bisa dideteksi saat bayi berusia 9 bulan. Namun orangtua harus benar-benar cermat mengamatinya. Di usia tersebut, anak yang memiliki risiko autisme biasanya tidak bisa melakukan kontak mata, tidak bereaksi saat namanya dipanggil, dan tidak suka dipeluk. Gejala autisme akan semakin banyak muncul seiring dengan pertumbuhan usia Si Kecil.


Para ahli mengatakan, bermain dengan anak autisme yang penting interaksinya, bukan jenis kegiatannya. Apa maksud pernyataan tersebut?

Anak autisme memiliki kesulitan berinteraksi dengan orang lain. Itulah sebabnya, bermain dengan mereka harus dilakukan dengan tujuan untuk melatihnya berinteraksi, bukan menyelesaikan sebuah permainan atau pertandingan. Interaksi saat bermain dengan anak autisme bisa dikatakan berhasil jika ia tertarik dengan keberadaan Anda, mau berbagi kesenangan saat beraktivitas, dan berusaha mencari tahu apakah Anda juga menikmati kegiatan yang dilakukan.

Jadi, mainan apa yang paling disarankan untuk anak autisme?

Pada prinsipnya, segala permainan yang melibatkan interaksi dan merangsang panca indera sangat baik bagi anak autisme. Untuk menstimulasi indera penglihatan, misalnya, Anda bisa mengajaknya mengelompokkan kancing dengan warna yang sama. Sedangkan untuk melatih motorik halusnya, Anda bisa mengajarinya menyusun balok atau main kelereng. Namun jangan hanya terpaku dengan mainan yang sudah ada, asah dan kembangkan terus kreativitas Anda saat bermain dengan anak autisme.


Adakah makanan yang harus dihindari oleh anak autisme? Lalu, apa makanan yang disarankan untuknya?

Makanan yang harus dihindari oleh anak autisme sebetulnya sama dengan anak lainnya, seperti makanan dengan pewarna, pengawet dan penyedap rasa, makanan kemasan, makanan siap saji, kaldu instan, minuman soda, mi instan, sirup, semua produk yang mengandung susu sapi dan terigu, permen, gula, jelly, serta daging atau ayam olahan yang cenderung menggunakan bahan kimia, hormon, juga antibiotik.

Sementara makanan yang disarankan adalah makanan segar, sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, cokelat, ikan segar, telur, dan ayam kampung. Selain itu, untuk pengganti terigu, gunakanlah tepung beras, tepung kanji, tepung tapioka, kentang, beras ketan, singkong, beras merah, dan ubi. Untuk pengganti susu sapi, gunakan susu kedelai, susu dari beras, susu almond, dan es krim dari jus buah segar buatan sendiri. Sedangkan untuk pengganti gula, gunakan madu murni secukupnya.


Apakah autisme bisa disembuhkan?

Tentu saja! Anak autisme dapat dikatakan 'sembuh' ketika ia sudah bisa hidup mandiri, berperilaku normal, mampu berkomunikasi, dan bersosialisasi dengan baik, serta memiliki pengetahuan akademis memadai sesuai tahapan usianya. Untuk mencapai 'kesembuhan' tersebut, orangtua tentu harus rajin memberikan terapi sesuai kebutuhan anak. Waktu yang diperlukan untuk mencapai 'kesembuhan' sangat beragam karena dipengaruhi berbagai faktor, seperti tingkat keparahan, usia anak, tingkat kecerdasan, kemampuan bahasa, fasilitas penunjang (dokter, terapis, sekolah khusus), dan kesiapan orangtua untuk memenuhi segala kebutuhan lainnya, termasuk dukungan masyarakat di sekitarnya.

Untuk penanganan terbaik, tidak ada yang lebih penting bagi anak autisme selain diberikan terapi sedini mungkin. Semakin cepat ia mendapatkannya, semakin cepat pula peluangnya untuk 'sembuh'. Anda bisa membawanya ke tempat terapi khusus untuk anak autisme, namun jangan ragu juga untuk melatihnya sendiri di rumah. Sadarilah bahwa sebagai orangtua, Anda merupakan sosok yang paling ia butuhkan untuk mendukung 'kesembuhannya'.

Autisme, atau gangguan spektrum autisme (ASD), mengacu pada berbagai kondisi yang ditandai oleh tantangan dengan keterampilan sosial, perilaku berulang, bicara dan komunikasi nonverbal. Menurut Centers for Disease Control, autisme mempengaruhi sekitar 1 dari 59 anak di Amerika Serikat saat ini.

Kita tahu bahwa tidak ada satu autisme tetapi banyak subtipe, paling dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Karena autisme adalah gangguan spektrum, setiap orang dengan autisme memiliki kekuatan dan tantangan yang berbeda.

Cara-cara di mana orang dengan autisme belajar, berpikir dan memecahkan masalah dapat berkisar dari sangat terampil hingga sangat tertantang. Beberapa orang dengan ASD mungkin memerlukan dukungan signifikan dalam kehidupan sehari-hari mereka, sementara yang lain mungkin membutuhkan lebih sedikit dukungan dan, dalam beberapa kasus, hidup sepenuhnya secara mandiri.

Beberapa faktor dapat memengaruhi perkembangan autisme, dan sering disertai dengan kepekaan indera dan masalah medis seperti gangguan pencernaan, gangguan kejang atau tidur, serta tantangan kesehatan mental seperti masalah kecemasan, depresi, dan perhatian.

Indikator autisme biasanya muncul pada usia 2 atau 3. Beberapa keterlambatan perkembangan terkait dapat muncul lebih awal, dan seringkali, dapat didiagnosis sejak 18 bulan. Penelitian menunjukkan bahwa intervensi dini mengarah pada hasil positif di kemudian hari bagi orang dengan autisme.

Pada 2013, American Psychiatric Association merilis edisi kelima Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5).

DSM-5 sekarang menjadi referensi standar yang digunakan penyedia layanan kesehatan untuk mendiagnosis kondisi mental dan perilaku, termasuk autisme.

Dengan izin khusus dari American Psychiatric Association, Anda dapat membaca teks lengkap dari kriteria diagnostik baru untuk gangguan spektrum autisme dan diagnosis terkait gangguan komunikasi sosial di bawah ini.

Gangguan Spektrum Autisme

Kriteria Diagnostik

A. Defisit yang terus-menerus dalam komunikasi sosial dan interaksi sosial di berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh yang berikut, saat ini atau oleh sejarah (contohnya ilustratif, tidak lengkap, lihat teks):

1. Defisit dalam timbal balik sosial-emosional, mulai, misalnya, dari pendekatan sosial yang tidak normal dan kegagalan percakapan bolak-balik yang normal; untuk mengurangi berbagi minat, emosi, atau pengaruh; kegagalan untuk memulai atau menanggapi interaksi sosial.

2. Defisit dalam perilaku komunikatif nonverbal yang digunakan untuk interaksi sosial, mulai, misalnya, dari komunikasi verbal dan nonverbal yang kurang terintegrasi; untuk kelainan kontak mata dan bahasa tubuh atau defisit dalam memahami dan menggunakan gerakan; untuk kurangnya ekspresi wajah dan komunikasi nonverbal.

3. Defisit dalam mengembangkan, memelihara, dan memahami hubungan, mulai, misalnya, dari kesulitan menyesuaikan perilaku agar sesuai dengan berbagai konteks sosial; kesulitan dalam berbagi permainan imajinatif atau dalam berteman; tidak adanya minat pada teman sebaya.

Tentukan tingkat keparahan saat ini: Tingkat keparahan didasarkan pada gangguan komunikasi sosial dan pola perilaku berulang yang terbatas.

B. Pola perilaku, minat, atau kegiatan yang berulang dan terbatas, sebagaimana diwujudkan oleh setidaknya dua dari yang berikut, saat ini atau oleh sejarah (contohnya adalah ilustrasi, tidak lengkap; lihat teks):

1. Gerakan motorik stereotip atau berulang, penggunaan benda, atau ucapan (mis., Stereotip motorik sederhana, antrean mainan atau membalik benda, echolalia, frasa istimewa).

2. Desakan pada kesamaan, kepatuhan yang tidak fleksibel terhadap rutinitas, atau pola ritual atau perilaku nonverbal verbal (mis., Tekanan ekstrem pada perubahan kecil, kesulitan dengan transisi, pola pikir kaku, ritual ucapan, perlu menempuh rute yang sama atau makan makanan setiap hari).

3. Minat yang sangat terbatas, terpaku pada intensitas atau fokus yang tidak normal (mis., Keterikatan yang kuat atau keasyikan dengan objek yang tidak biasa, minat yang terlalu terbatas atau minat yang gigih).

4. Hiper atau hiporeaktif terhadap input sensorik atau minat yang tidak biasa dalam aspek sensorik lingkungan (misalnya, ketidakpedulian terhadap rasa sakit / suhu, respon negatif terhadap suara atau tekstur tertentu, berbau atau menyentuh objek, daya tarik visual dengan cahaya atau gerakan) .

Tentukan tingkat keparahan saat ini: Tingkat keparahan didasarkan pada gangguan komunikasi sosial dan pola perilaku berulang yang terbatas.

C. Gejala harus ada pada periode perkembangan awal (tetapi mungkin tidak menjadi nyata sepenuhnya sampai tuntutan sosial melebihi kapasitas terbatas atau dapat ditutupi oleh strategi yang dipelajari di kemudian hari).

D. Gejala menyebabkan gangguan signifikan secara klinis dalam bidang sosial, pekerjaan, atau area penting lainnya yang berfungsi saat ini.

E. Gangguan ini tidak lebih baik dijelaskan oleh kecacatan intelektual (gangguan perkembangan intelektual) atau keterlambatan perkembangan global. Kecacatan intelektual dan gangguan spektrum autisme sering terjadi bersamaan; untuk membuat diagnosis komorbiditas gangguan spektrum autisme dan kecacatan intelektual, komunikasi sosial harus di bawah yang diharapkan untuk tingkat perkembangan umum.

Catatan: Orang dengan diagnosis DSM-IV yang mapan mengenai kelainan autistik, kelainan Asperger, atau kelainan perkembangan yang menyebar yang tidak disebutkan secara spesifik harus diberikan diagnosis kelainan spektrum autisme. Individu yang telah ditandai defisit dalam komunikasi sosial, tetapi yang gejalanya tidak memenuhi kriteria untuk gangguan spektrum autisme, harus dievaluasi untuk gangguan komunikasi sosial (pragmatis).

Tetapkan jika:
- Dengan atau tanpa gangguan intelektual
- Dengan atau tanpa gangguan bahasa yang menyertainya
- Terkait dengan kondisi medis atau genetik yang diketahui atau faktor lingkungan
(Catatan pengodean: Gunakan kode tambahan untuk mengidentifikasi kondisi medis atau genetik yang terkait.)
- Terkait dengan gangguan perkembangan saraf, mental, atau perilaku lainnya
(Catatan pengkodean: Gunakan kode tambahan untuk mengidentifikasi gangguan perkembangan saraf, mental, atau perilaku yang terkait.)
- Dengan katatonia

Gangguan Komunikasi Sosial (Pragmatis)
Kriteria Diagnostik
A. Kesulitan terus-menerus dalam penggunaan sosial komunikasi verbal dan nonverbal sebagaimana diwujudkan oleh semua hal berikut:

1. Defisit dalam menggunakan komunikasi untuk tujuan sosial, seperti menyapa dan berbagi informasi, dengan cara yang sesuai untuk konteks sosial.

2. Gangguan kemampuan untuk mengubah komunikasi agar sesuai dengan konteks atau kebutuhan pendengar, seperti berbicara secara berbeda di ruang kelas daripada di taman bermain, berbicara secara berbeda dengan seorang anak dari pada orang dewasa, dan menghindari penggunaan bahasa yang terlalu formal.

3. Kesulitan mengikuti aturan untuk percakapan dan bercerita, seperti bergiliran dalam percakapan, mengulangi ketika disalahpahami, dan mengetahui bagaimana menggunakan sinyal verbal dan nonverbal untuk mengatur interaksi.

4. Kesulitan memahami apa yang tidak dinyatakan secara eksplisit (mis., Membuat kesimpulan) dan makna bahasa yang nonliteral atau ambigu (mis., Idiom, humor, metafora, beragam makna yang bergantung pada konteks untuk interpretasi).

B. Defisit mengakibatkan keterbatasan fungsional dalam komunikasi yang efektif, partisipasi sosial, hubungan sosial, prestasi akademik, atau kinerja pekerjaan, secara individu atau dalam kombinasi.

C. Permulaan gejala adalah pada periode perkembangan awal (tetapi defisit mungkin tidak menjadi nyata sepenuhnya sampai tuntutan komunikasi sosial melebihi kapasitas terbatas).

D. Gejala-gejalanya tidak disebabkan oleh kondisi medis atau neurologis lain atau kemampuan rendah dalam domain atau struktur kata dan tata bahasa, dan tidak dijelaskan dengan lebih baik oleh gangguan spektrum autisme, kecacatan intelektual (gangguan perkembangan intelektual), keterlambatan perkembangan global, atau lainnya gangguan jiwa.

Dikutip dari berbagai sumber di internet:



Selengkapnya »

Bahaya memberi madu kepada bayi dibawah 1 tahun



Madu adalah salah satu pemanis alami yang banyak disukai orang. Tapi para orangtua sebaiknya tidak memberikan madu pada bayi di bawah usia 1 tahun, karena berisiko terkena botulisme pada bayi.

Botulisme adalah salah satu jenis keracunan makanan yang dapat menyebabkan kematian.

Madu memang memiliki berbagai macam manfaat bagi kesehatan tubuh seseorang, seperti untuk penambah stamina atau dipercaya memiliki sifat antimikroba.

Namun hal ini sepertinya tidak akan berlaku pada bayi yang belum genap berusia 1 tahun. Karena kemungkinan bukan manfaat tersebut yang didapatkan tapi bisa mengakibatkan botulisme pada bayi.

Seperti dikutip dari Pediatrics.about.com, Selasa (25/5/2010) bahwa bayi berusia di bawah 12 bulan memiliki risiko terkena botulisme jika mengonsumsi madu, sehingga sebaiknya dihindari.

Hal ini disebabkan spora dari bakteri Clostridium botulinum ini dapat ditemukan dalam madu alami, ketika madu tersebut masuk ke dalam tubuh dan dicerna oleh bayi maka spora dari bakteri ini akan melepaskan toksin yang dapat menyebabkan botulisme (keracunan).

Badan standar makanan (Food Standards Agency) Amerika Serikat merekomendasaikan sebaiknya memberikan madu setelah bayi berusia di atas 1 tahun, karena pada usia tersebut sistem pencernaannya sudah cukup matang untuk tidak membiarkan bakteri tersebut tumbuh di dalam tubuh.

Sedangkan saat usianya masih di bawah 1 tahun sistem pencernaannya belum matang sehingga rentan terhadap keracunan botulisme dari makanan.

Spora botulinum secara luas ditemukan pada beberapa pemanis lain seperti sirup mapel dan sirup jagung, namun memang lebih cenderung berada di dalam madu.

Karenanya orangtua harus memastikan setiap kandungan yang terdapat di dalam makanan olahan untuk bayinya, terutama yang belum di pasteurisasi (diolah dengan cara pemanasan).

Botulisme pada bayi bisa mematikan jika tidak terdeteksi sejak dini, hal ini karena sifat menyebar yang dimiliki oleh toksin tersebut.

Orangtua sebaiknya mengenali tanda-tanda dari botulisme pada bayi, yaitu:

Biasanya diawali dengan sembelit atau susah buang air besar.
Mengalami kelemahan otot akibat adanya kerusakan sistem saraf.
Bayi akan menangis dan lama kelamaan akan menjadi lebih lemah.
Bayi akan mengalami kesulitan makan dan menelan.
Kelemahan yang dialami bayi akan membuatnya menjadi lesu.

Bayi memiliki risiko lebih besar pada enam bulan pertama kehidupannya, karena itu orangtua harus mencatat setiap kesehatan dan perubahan yang terjadi pada bayinya.

Orangtua sebaiknya menjaga kebersihan dan mengelola makanan yang akan dikonsumsi oleh bayi dengan teliti, serta dianjurkan untuk lebih menahan diri saat memberikan makanan pada bayinya terutama makanan yang terlalu manis.

Artikel dikutip dari http://health.detik.com/read/2010/05/25/133039/1363696/764/bayi-di-bawah-1-tahun-jangan-diberi-madu?lbbank
Selengkapnya »

Hati2 dengan virus Kawasaki



Penyakit Kawasaki adalah penyakit yang dapat menyebabkan peradangan pada dinding pembuluh darah di seluruh tubuh, khususnya pembuluh darah jantung. Kondisi ini termasuk penyakit langka yang mayoritas menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun. Umumnya balita yang berusia antara satu setengah hingga dua tahun.

Selain pembuluh darah, penyakit Kawasaki dapat menyerang limfonodi, kulit, dan membran mukosa yang terdapat di dalam mulut, hidung, serta tenggorokan. Karena itu, penyakit ini juga disebut sindrom limfonodi mukokutan.

Penyebab penyakit Kawasaki belum diketahui secara pasti. Para pakar menduga terdapat beberapa faktor yang mungkin melatarbelakangi penyakit ini, misalnya faktor keturunan, infeksi, kondisi autoimun, dan beberapa faktor lainnya.

Pengobatan terhadap penyakit Kawasaki paling baik dilakukan maksimal 10 hari sejak gejala muncul. Semakin cepat penanganan dilakukan, semakin kecil pula risiko komplikasi. Penyakit ini pun bisa lebih cepat disembuhkan.

Gejala-gejala Penyakit Kawasaki

Gejala penyakit Kawasaki umumnya muncul dalam tiga tahap dan akan berlangsung selama kurang lebih 1,5 bulan.

Tahap pertama terjadi pada minggu 1-2. Pada tahap ini, gejala utama yang muncul adalah demam selama lebih dari lima hari yang disertai:

- Ruam kemerahan yang pertama muncul di area organ intim dan menyebar ke tubuh bagian atas, tangan, kaki, serta wajah. Ruam ini biasanya akan hilang dalam waktu satu minggu.
- Mata merah, tapi tidak keluar cairan.
- Perubahan kondisi mulut, seperti lidah atau tenggorokan merah serta bibir yang kering dan pecah-pecah.
- Jari-jari tangan atau kaki yang bengkak dan memerah. Tangan dan kaki juga akan terasa sakit.
- Pembengkakan kelenjar getah bening pada leher.

Pada minggu 2-4, pasien pengidap penyakit Kawasaki akan mengalami tahap kedua. Demam biasanya sudah turun, tapi pasien akan mengalami gejala-gejala lain yang meliputi kulit pada ujung jari tangan dan kaki mengelupas, gangguan pencernaan (seperti diare, muntah, dan sakit perut), serta rasa nyeri dan pembengkakan pada sendi.

Pada tahap inilah, risiko komplikasi seperti aneurisma dapat muncul. Aneurisma adalah kondisi pecahnya pembuluh darah akibat dinding pembuluh darah tidak cukup kuat untuk menahan aliran darah. Lemahnya pembuluh darah ini disebabkan oleh proses peradangan yang terjadi akibat penyakit Kawasaki.

Pasien akan memasuki tahap ketiga pada minggu 4-6. Pada minggu-minggu ini, gejala-gejala penyakit Kawasaki perlahan-lahan akan berkurang, tapi kondisi anak umumnya masih lemas sehingga mudah lelah.

Gejala-gejala penyakit ini cenderung mirip dengan infeksi lain, terutama gejala demam pada tahap pertama. Jika anak Anda mengalami kondisi ini, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter agar anak Anda mendapat penanganan yang tepat.

Penyakit Kawasaki memang tidak bisa dicegah, tapi diagnosis dan penanganan secepat mungkin dapat menurunkan risiko komplikasi. Dengan penanganan dini, sebagian besar anak yang mengidap penyakit ini dapat sembuh total dalam waktu enam minggu hingga dua bulan.

Penyebab Penyakit Kawasaki
Sampai saat ini belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab kemunculan penyakit Kawasaki. Para ahli menilai penyakit ini mungkin disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu infeksi dan keturunan.

Jika dilihat dari gejala-gejalanya, penyakit Kawasaki bisa disebabkan oleh pengaruh infeksi. Jenis bakteri maupun virus yang menyebabkan penyakit ini masih belum teridentifikasi dengan jelas hingga sekarang. Penyakit ini tidak menular dan hampir tidak pernah menyerang bayi di bawah enam bulan karena bayi dilindungi zat antibodi yang didapat dari ibunya. Antibodi merupakan protein yang mampu menghancurkan organisme pembawa penyakit. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan penyakit ini menyerang anak pada usia tersebut.

Faktor keturunan diduga juga berpengaruh terhadap kemunculan penyakit Kawasaki. Jika seorang anak mengidap penyakit Kawasaki, besar kemungkinan orang tua sang anak juga pernah mengalaminya sewaktu kecil. Saudara kandung dari seorang anak yang memiliki riwayat penyakit Kawasaki juga berisiko mengalami penyakit ini.

Diagnosis Penyakit Kawasaki
Tidak ada tes khusus yang dapat digunakan untuk mengonfirmasi penyakit ini. Biasanya dokter akan mendiagnosis penyakit ini dengan memeriksa kondisi fisik dan gejala-gejala yang dialami sang anak. Sejumlah indikasi yang umumnya dianggap sebagai patokan adalah gejala-gejala pada tahap pertama, seperti durasi dan suhu demam yang diderita, mata merah, perubahan pada mulut, bibir, serta jari tangan dan kaki.

Pemeriksaan lebih lanjut juga mungkin akan dianjurkan, misalnya tes darah, tes urine, pungsi lumbal, elektrodiagram, atau ekokardiogram. Proses ini dilakukan guna menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain yang memiliki gejala-gejala yang mirip, seperti campak, demam scarlet,  toxic shock syndrome, Stevens-Johnson syndrome, serta lupus.

Penyakit Kawasaki juga berpotensi menyebabkan gangguan jantung. Dokter seringkali menemukan adanya pelebaran pembuluh darah di sekitar jantung pada pengidap penyakit Kawasaki. Oleh karena itu, dokter juga menyertakan tes elektrodiagram dan ekokardiogram saat mendiagnosis pasien.

Pengobatan Penyakit Kawasaki
Penanganan sedini dan seefektif mungkin sangat penting untuk mempercepat proses penyembuhan dan menurunkan risiko komplikasi. Jika tidak segera ditangani, penyembuhan penyakit Kawasaki akan semakin lama, risiko komplikasinya juga semakin besar.

Tujuan utama pengobatan pada tahap awal adalah untuk menurunkan demam, mengurangi inflamasi, sekaligus mencegah kerusakan pada jantung. Prosedur utama yang dilakukan untuk mengobati penyakit ini adalah dengan memberikan aspirin dan imunoglobulin.

Aspirin sebetulnya tidak boleh dikonsumsi oleh anak-anak di bawah 16 tahun, tapi penyakit Kawasaki merupakan salah satu pengecualian. Obat ini dapat mengatasi peradangan, menurunkan demam, serta mengurangi rasa sakit. Dosis dan durasi penggunaan aspirin akan ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi pasien.

Pemberian imunoglobulin melalui infus juga dibutuhkan untuk menurunkan demam sekaligus risiko komplikasi jantung. Intensitas gejala penyakit Kawasaki umumnya akan berkurang setelah pasien menerima infus ini. Jenis imunoglobulin yang digunakan untuk mengatasi penyakit Kawasaki adalah gamma globulin.

Jika aspirin dan immunoglobulin tidak berfungsi, dokter munkin akan memberikan kortikosteroid. Di samping obat-obatan, Anda dapat memberikan penanganan sederhana untuk menurunkan panas. Misalnya dengan memberikan banyak minum atau mengompres anak Anda.

Setelah demam turun, dokter mungkin akan memberikan aspirin dengan dosis rendah jika pasien terdeteksi mengalami masalah pada pembuluh darah koroner. Aspirin dosis rendah berfungsi untuk mencegah penggumpalan darah. Obat ini biasanya akan diberikan hingga 1,5-2 bulan sejak gejala muncul.


Risiko Komplikasi Penyakit Kawasaki

Komplikasi utama akibat penyakit Kawasaki adalah masalah jantung. Jika tidak ditangani dengan efektif, diperkirakan sekitar satu di antara lima anak pengidap penyakit ini akhirnya menderita komplikasi jantung. Bahkan, 1 di antara 100 kasus komplikasi yang terjadi berakibat fatal.

Umumnya, gangguan jantung yang terjadi pada pengidap penyakit Kawasaki bisa ditemukan pada minggu pertama dan kedua sejak gejala muncul. Tanda-tanda yang sering ditemukan biasanya berupa detak jantung yang sangat cepat (tachycardia), penumpukkan cairan di dalam jantung (pericardial effusion), atau peradangan pada otot jantung (myocarditis).

Komplikasi serius pada pengidap penyakit Kawasaki umumnya disebabkan oleh inflamasi dan pembengkakan pada pembuluh darah koroner. Dinding pembuluh darah mungkin akan melemah sehingga menyebabkan terbentuknya aneurisma atau dinding pembuluh bisa menyempit dan memicu penggumpalan darah. Kedua komplikasi ini dapat berujung pada kerusakan jantung.

Dokter akan menganjurkan pemeriksaan lebih lanjut untuk memantau kondisi jantung anak Anda secara berkala jika terdapat indikasi bahwa anak Anda mengidap masalah jantung. Proses pemantauan ini biasanya diadakan pada enam hingga delapan minggu setelah gejala penyakit Kawasaki muncul.

Jika masalah jantung yang dialami berkelanjutan, anak Anda akan menjalani penanganan oleh dokter spesialis jantung. Kondisi ini umumnya akan ditangani dengan obat-obatan seperti antikoagulan dan antiplatelet atau prosedur operasi yang meliputi angioplasti koroner dan bedah bypass arteri jantung (CABG).

Pasien dengan tingkat komplikasi yang parah mungkin akan mengalami kerusakan permanen pada otot atau katup jantung yang berfungsi mengontrol aliran darah. Oleh karena itu, mereka dianjurkan untuk selalu melakukan pemeriksaan secara regular dengan dokter spesialis jantung agar kondisinya bisa terus terpantau.

-----

HARI masih pagi saat sebuah mobil mewah meluncur dengan kencangnya di jalan bebas hambatan di Eropa. Tiba-tiba mobil menghantam tepi jalan dan terbalik. Saksi mata yang melihat menduga si pengemudi mabuk. Polisi datang dan menemukan si pengemudi seorang gadis berusia 19 tahun, meninggal.

Hasil otopsi menunjukkan gadis itu mendadak kena serangan jantung koroner sehingga tak dapat lagi mengontrol mobilnya. Ternyata, data rekam medisnya menunjukkan, ia pernah terkena penyakit kawasaki saat berusia 2 tahun tanpa disadari oleh dokter maupun keluarganya.

Tragedi serupa dialami Joni, bayi lucu yang berusia 8 bulan. Sudah lebih 10 hari ia demam dan ibunya sudah berganti dokter. Akhirnya ketahuan bahwa ia menderita penyakit kawasaki. Sayang sudah terlambat. Katup jantungnya mengalami kerusakan parah dan nyawanya tak tertolong lagi.

Apakah itu penyakit kawasaki (PK)?

PK ditemukan oleh Dr Tomisaku Kawasaki di Jepang tahun 1967 dan saat itu dikenal sebagai mucocutaneous lymphnode syndrome. Untuk menghormati penemunya, maka dinamakan penyakit kawasaki. Di Indonesia, banyak di antara kita yang belum memahami penyakit yang berbahaya ini, bahkan di kalangan medis sekalipun. Hal inilah yang menyebabkan diagnosis acap terlambat dengan segala konsekuensinya.

Penampakan penyakit ini juga dapat mengelabui mata sehingga dapat terdiagnosis sebagai campak, alergi obat, infeksi virus, atau bahkan penyakit gondong. Penyakit yang lebih sering menyerang ras Mongol ini terutama menyerang balita dan paling sering pada anak usia 1-2 tahun. Bahkan, penulis pernah menemukan PK pada seorang bayi berusia 3 bulan yang menderita demam selama 18 hari.

Angka kejadian per tahun di Jepang tertinggi di dunia, yaitu berkisar 1 kasus per 1.000 anak balita, disusul Korea dan Taiwan. Di Amerika Serikat berkisar 0,09 (pada ras kulit putih) sampai 0,32 (pada keturunan Asia-Pasifik) per seribu balita.  Di Indonesia, penulis menemukan kasus PK sejak tahun 1996, tapi ada dokter yang menyatakan sudah menemukan sebelumnya.

Indonesia baru resmi tercatat dalam peta penyakit kawasaki dunia setelah laporan seri kasus PK dari Advani dkk diajukan pada simposium internasional penyakit kawasaki ke-8 di San Diego, AS, awal tahun 2005. Diduga, kasus di Indonesia tidaklah sedikit dan menurut perhitungan kasar, berdasarkan angka kejadian global dan etnis di negara kita, tiap tahun akan ada 3.300-6.600 kasus PK.

Namun kenyataannya kasus yang terdeteksi masih sangat jauh di bawah angka ini. Sekitar 20-40 persen-nya mengalami kerusakan pada pembuluh koroner jantung. Sebagian akan sembuh  namun sebagian lain terpaksa menjalani hidup dengan jantung yang cacat akibat aliran darah koroner yang terganggu. Sebagian kecil akan meninggal akibat kerusakan jantung.

Penyebab PK hingga saat ini belum diketahui, meski diduga kuat akibat suatu  infeksi, namun belum ada bukti yang meyakinkan. Karena itu cara pencegahannya juga belum diketahui.  Penyakit ini juga tidak terbukti  menular.

Gejala awal
Gejala awal pada fase akut adalah demam yang mendadak tinggi dan bisa mencapai 41° C. Demam berfluktuasi selama setidaknya 5 hari tetapi tidak pernah mencapai normal. Pada anak yang tidak diobati, demam dapat berlangsung selama 1-4 minggu tanpa jeda. Pemberian antibiotik  tidak menolong. Sekitar 2-3 hari setelah demam, mulai muncul gejala lain secara bertahap yaitu bercak bercak merah di badan yang mirip seperti pada penyakit campak.

Namun gejala batuk pilek yang dominan pada campak biasanya ringan atau bahkan tidak ada pada PK. Gejala lain yang timbul adalah kedua mata merah, tapi tanpa kotoran (belekan), pembengkakan kelenjar getah bening di salah satu sisi leher sehingga kadang diduga  penyakit gondong (parotitis), lidah merah menyerupai stroberi, bibir juga merah dan kadang pecah-pecah, telapak tangan dan kaki merah dan agak membengkak. Kadang anak mengeluh nyeri pada persendian. Pada fase penyembuhan terjadi pengelupasan kulit di ujung jari tangan serta kaki dan kemudian timbul cekungan berbentuk garis melintang pada kuku kaki dan tangan (garis Beau).

Penderita PK harus dirawat inap di rumah sakit dan mendapat pengawasan dari dokter ahli jantung anak. Komplikasi yang paling ditakutkan adalah pada jantung (terjadi pada 20-40 persen penderita) karena dapat merusak pembuluh nadi koroner. Komplikasi ke jantung biasanya mulai terjadi setelah hari ke 7-8 sejak awal timbulnya demam. 

Pada awalnya dapat terjadi pelebaran pembuluh ini kemudian bisa terjadi penyempitan bagian dalam atau sumbatan. Akibatnya aliran darah ke otot jantung terganggu sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada otot jantung yang dikenal sebagai infark miokard. Pemeriksaan jantung menjadi hal yang sangat penting termasuk EKG dan ekokardiografi (USG jantung). Kadang  ultrafast CT scan, MRA (Magnetic Resonance Angiography) maupun kateterisasi jantung diperlukan pada kasus yang berat. Pemeriksaan laboratorium untuk penyakit ini tidak ada yang khas.

Biasanya jumlah sel darah putih, laju endap darah dan C Reactive protein  meningkat pada fase akut. Jadi diagnosis ditegakkan  atas dasar gejala dan tanda klinis semata sehingga  pengalaman dokter sangat dibutuhkan. Pada fase penyembuhan,  trombosit darah  meningkat dan ini akan memudahkan terjadinya trombus atau bekuan darah yang menyumbat pembuluh koroner jantung.

Pengobatan
Obat yang mutlak harus diberikan adalah imunoglobulin secara infus selama 10-12 jam. Obat yang didapat dari plasma donor darah ini ampuh untuk meredakan gejala PK maupun menekan risiko kerusakan jantung, tapi harga yang mahal menjadi kendala. Harga satu gram berkisar Rp 1 juta. Penderita PK membutuhkan imunoglobulin 2 gram per kg berat badannya.

Sebagai contoh, anak yang berat badannya 15 kg misalnya membutuhkan 30 gram atau seharga sekitar Rp 30 juta. Penderita juga diberikan asam salisilat untuk mencegah kerusakan jantung dan sumbatan pembuluh koroner. Jika tidak ada komplikasi anak dapat dipulangkan dalam beberapa hari. Pada kasus yang terlambat dan sudah terjadi kerusakan pembuluh koroner perlu rawat inap yang lebih lama dan pengobatan yang intensif guna mencegah kerusakan jantung lebih lanjut.

Jika dengan obat-obatan tidak berhasil, kadang diperlukan operasi pintas koroner (coronary bypass)  atau bahkan, meskipun sangat jarang, transplantasi jantung. Kematian dapat terjadi pada 1-5 persen penderita yang umumnya terlambat ditangani dan puncaknya terjadi pada 15-45 hari setelah awal timbulnya demam. Meskipun demikian, kematian mendadak dapat terjadi bertahun-tahun setelah fase akut. PK juga dapat merusak katup jantung (terutama katup mitral) yang dapat menimbulkan kematian mendadak beberapa tahun kemudian. Kemungkinan kambuhnya penyakit ini adalah sekitar 3 persen.

Pada penderita yang secara klinis telah sembuh total sekalipun, dikatakan pembuluh koronernya akan mengalami kelainan pada lapisan dalam yang memudahkan terjadinya penyakit jantung koroner pada usia dewasa muda kelak. Jika ditemukan serangan jantung koroner akut pada dewasa muda, mungkin perlu dipikirkan kemungkinan pernah terkena PK saat masih anak-anak. Kiranya kita semua perlu mewaspadai penyakit ini agar tidak menimbulkan korban lebih lanjut.

Artikel dikutip dari:
http://www.alodokter.com/penyakit-kawasaki
http://nasional.kompas.com/read/2008/07/29/11370546/penyakit.kawasaki.apakah.itu

Selengkapnya »

Tips Memilih Baju Bayi



Bayi yang mungil tidak diragukan lagi membuat gemas siapapun orang yang melihatnya. Wajahnya yang masih lugu, matanya yang masih bening dan bersih, kulitnya yang masih halus tentunya menjadi daya tarik tersendiri bagi bayi. Betapa bangganya orang tua memiliki bayi yang banyak dikagumi dan disenangi oleh banyak orang. Tentunya, para orang tuanya akan senang mendengar kata-kata" aih lucunya" atau" ih menggemaskan". Ketika mendengar kata-kata tersebut, tentulah orang tua dalam hati banyak yang bilang "siapa dulu dong orang tuanya". Ya, intinya suksesnya orang tua menghadirkan bayi yang membuat orang gemas adalah dianggap sebagai kesuksesan tersendiri bagi orang tua.

Guna menggapai hal tersebut,Seringkali hal ini di bumbui oleh para orang tua dengan melengkapi penamilan bayi mereka dengan baju-baju bayi yang lucu juga, sehinga makin membuat gemas orang yang melihatnya. Sehingga, selain memang difungsikan melindungi dan memberi kenayaman kepada bayi, baju bayi kini juga berfungsi untuk menambah bayi makin kelihatan menggemaskan.


Tidak ada salahnya memang mengenai hal tersebut, namun jangan sampai pemilihan baju bayi hanya di peruntukkan untuk membuat bayi makin kelihatan cantik saja, tanpa menghiraukan fungsi essensi baju bayi itu sendiri, yaitu sebagai pelindung dan pemberi kenyamanan bagi bayi. Jadi, usahakan dalam pemilihan baju utamakan keamanan dan kenyamanan bagi bayi itu sendiri, baru perhatikan tampilan.

Jangan sampai, karena salah memilih bahan baju bayi, kulit bayi yang masih peka dan halus tersebut malah memerah, mengalami bintik-bintik atau iritasi dikarenakan baju bayinya mengandung zat-zat berbahaya yang membuat kulit bayi menjadi alergi. Atau jangan sampai sistem pencernaan bayi terganggu karena, bayi yang suka mengemut ujung pakaian ternyata bajunya malah mengandung zat aditif. Yang lebih membahayakan tentunya adanya zat aditif dari baju yang dapat terhirup oleh bayi, bisa menyebabkan gangguan pernafasan pada bayi.


Oleh karena ada banyak hal yang harus di perhatikan sebelum orang tua memiih baju bayi, diantaranya:

Belilah Baju Bayi Yang Betul-betul Berkualitas

Jangan tergiur oleh diskon atau harga murah yang ditawarkan berbagai toko busana bayi tanpa anda mengetahui kualitasnya. Hindari anda mengesampingkan kualitas pakaian bayi, karena tergiur oleh harga murah. contoh, Jangan sampai ketika di pakai oleh bayi anda, warna baju menjadi luntur. Lunturnya warna akan mudah terserap oleh pori-pori kulit bayi, dan ini sangat berbahaya bagi bayi. Selain itu, tidak rapihnya jahitan pada baju bayi juga bisa membuat bayi tidak nyaman. Jadi berikan selalu yang terbaik buat buah hati anda termasuk pakaiannya, namun bukan pula selalu membeli baju dengan harga mahal. Jika perlu, belilah baju bayi yang telah memiliki sertifikat standar baju bayi.

Bahan Pakaian

Hindari pemilihan atau membuat baju bayi dengan bahan pure nilon, jeans atau parasut. Karena bahan-bahan tersebut dapat membuat bayi menjadi mudah gerah. Semakin gerah bayi, semakin mudah bayi berkeringat dan hal ini mengundang banyak bakteri. Selain itu hindari pula bahan pakaian yang terlalu kasar dan keras. Bahan pakaian seperti ini akan membuat bayi lebih mudah terkena iritasi kulit. Pilihlah pakaian yang berbahan lembut dan halus. Baju bayi berbahan katun cukup baik untuk dipilih, karena selain lembut, katun mampu menyerap keringat. Selain itu, gunakan bahan baju dengan menyesuaikan cuaca, misal saat musim panas gunakan bahan yang sedikit tipis untuk memberi cukup udara bagi tubuh bayi anda dan sebaliknya.

Utamakan Kenyamanan Bagi Bayi

Jangan sampai demi penampilan, anda terlalu berlebih dalam menambahkan aksesoris baju bayi. Kalau memang ingin memakai aksesoris gunakanlah secukupnya, kalo bisa usahakan sesederhana mungkin. Beberapa aksesoris cukup berbahaya bagi bayi. Hindarkan penggunaan aksesoris yang berbentuk tali-tali karena bisa membuat bayi tercekik. Pita-pita juga dapat membuat bayi tersedak.Aksesoris yang mudah terlepas, payet, bros atau lainnya, dikhawatirkan bayi bisa meraihnya dan memasukan ke mulutnya. Pengait baju dari bahan logam seperti resleting, dikhawatirkan bisa berkarat dan membuat bayi kesakitan saat tengkurap, pilihlah pengait baju kancing jepret, jangan kancing biasa, karena di khawatirkan bisa terlepas dan masuk ke mulut bayi.

Juga, jangan sampai demi penampilan anda memilih baju bayi yang ribet. Pilihlah model baju bayi yang sederhana dan "normal" serta praktis yang membuat bayi pada saat memakainya atau saat anda menggantinya menjadi nyaman. Jangan pula memilih pakaian yang terlalu ketat, yang malah membuat bayi mudah iritasi. Jadi perhatikan pula ukuran baju bayi anda. Ingat, bayi perlu kenyamanan, pilihlah baju yang betul-betul membuat bayi nyaman.


Awasi Saat Pemakaian

Setelah anda memastikan bahwa baju anda telah aman dan nyaman bagi bayi, jangan lupa untuk tetap mengawasi kondisi bayi atau kulit bayi anda. Karena kita menganggapnya nyaman belum tentu bayi merasakan hal yang sama. Perhatikan setelah beberapa saat bayi menggunakan baju, apakah bayi menjadi menggaruk-garuk atau bayi jadi mudah berkeringat atau tidak atau bayi menjadi rewel. Kemudian saat bayi dimandikan, telusuri seluruh permukaan kulit bayi, apakah terdapat bintik merah, adanya iritasi atau hal lainnya.

Tips Pencucian Baju bayi

Hindari mencuci baju bayi dengan menggunakan deterjen bubuk. Karena jenis deterjen ini biasanya mengandung bahan kimia yang lebih tajam yang dapat membuat kulit bayi mudah iritasi. Jadi agar lebih aman, gunakan deterjen cair saja. Mengenai pewangi, usahakan hindarkan juga, atau kalau mau tetap menggunakannya, janganlah berlebihan, karena harum yang dihasilkan dari pewangi berasal dari zat kimia. Dan hal ini berbahaya jika wanginya tercium oleh bayi.

Artikel dikutip dari http://bidanku.com/tips-memilih-baju-bayi-yang-aman
Selengkapnya »

Bayi Senang Main Ludah?



Brrr…. brrr…. wah, si Kecil sedang suka main ludah, ya, Bunda? Momen ini pasti tidak akan terlewatkan oleh Bunda, terutama saat si Kecil menginjak usia 3-4 bulan. Karena belum ada koordinasi otot mulut bayi dan belum memiliki gigi, air ludah pun mudah keluar dari mulutnya.

Saat bayi bersuara, yang belum bisa mengucapkan satu kata secara utuh, air ludah pun tak sengaja keluar dari mulutnya, dan inilah yang menjadikan aktivitas memainkan air ludah jadi menarik dan menjadi kegiatan yang mengasyikkan buat si Kecil.

Hal Yang Normal
Jangan cemas bila bayi suka main ludah ya, Bun. Karena di usia 3-4 bulan ini si Kecil memang sedang senang-senangnya main ludah dan menyembur. Jadi ini adalah hal yang normal. Gerakan bayi menyembur adalah gerakan refleks bayi. Si Kecil hanya ingin bereksperimen dengan bagian tubuh, yakni bagian mulut.

Tidak hanya main sembur ludah, kadang si Kecil juga memasukkan jari-jari mungilnya ke mulut yang membuat lebih banyak air ludah yang keluar. Dan tentu saja membuat basah jari, pipi, mulut dan bibir yang membuat si Kecil makin senang dan akan mengulanginya lagi.

Bunda tidak perlu terlalu khawatir jika si Kecil suka sembur-sembur ludah. Beda dengan bila si Kecil mengeluarkan makanan dari mulutnya ketika makan, yang bisa berakibat si si Kecil bisa kurang gizi karena menyemburkan makanan.

Tidak Berlangsung Lama
Perilaku bayi suka sembur-sembur ludah akan hilang dengan sendirinya apabila bayi sudah bisa berkomunikasi dengan lingkungannya secara efektif. Biasanya pada usia 5-6 bulan seiring dengan pertambahan usia anak. Jika lebih dari usia 6 bulan pun si Kecil masih dianggap normal, asalkan tidak disertai gangguan perkembangan motorik dan sensoriknya.

Seiring dengan pertambahan usia anak, orientasinya terhadap hal-hal yang menarik perhatiannya tidak lagi terbatas pada tubuhnya sendiri saja tetapi mulai meluas ke lingkungan dan cara berinteraksi dengan lingkungannya.

Hal yang perlu Bunda lakukan saat si Kecil bermain ludah ini adalah menjaga kebersihan si Kecil. Usap dengan lembut ludah yang menempel pada wajah dan jari si Kecil atau segera ganti baju atau tempat liur si Kecil bila sudah basah.

Artikel dikutip dari http://mybaby.co.id/read/perawatan-bayi/si-kecil-suka-main-ludah
Selengkapnya »

Kenali warna Feses atau Pup Bayi



Normal atau tidaknya sistem pencernaan bayi, dapat dideteksi dari warna fesesnya. Umumnya, warna-warna feses bayi dibedakan menjadi kuning atau cokelat, hijau, merah, dan putih atau keabu-abuan.

Kuning

Warna kuning adalah indikasi feses normal. Susu yang dikonsumsi bayi amat mempengaruhi warna fesesnya. Bila bayi minum ASI secara eksklusif, tinjanya berwarna lebih cerah dan cemerlang atau didominasi warna kuning, karenanya disebut golden feces. Berarti ia mendapat ASI penuh, dari foremilk (ASI depan) hingga hindmilk (ASI belakang).
Warna kuning timbul dari proses pencernaan lemak yang dibantu oleh cairan empedu. Cairan empedu dibuat di dalam hati dan disimpan beberapa waktu di dalam kandung empedu sampai saatnya dikeluarkan. Bila di dalam usus terdapat lemak yang berasal dari makanan, kandung empedu akan berkontraksi (mengecilkan ukurannya) untuk memeras cairannya keluar. Cairan empedu ini akan memecah lemak menjadi zat yang dapat diserap usus.
Sedangkan bila yang diminum susu formula, atau ASI dicampur susu formula, warna feses akan menjadi lebih gelap, seperti kuning tua, agak cokelat, cokelat tua, kuning kecoklatan atau cokelat kehijauan.

Hijau

Feses berwarna hijau juga termasuk kategori normal. Meskipun begitu, warna ini tidak boleh terus muncul karena artinya cara ibu memberi ASI-nya belum benar. Yang terisap oleh bayi hanya foremilk saja, sedangkan hindmilk-nya tidak. Kasus demikian umumnya terjadi kalau produksi ASI sangat melimpah.

Di dalam payudaranya, ibu memiliki ASI depan (foremilik) dan ASI belakang (hindmilk). Pada saat bayi menyusu, ia akan selalu mengisap ASI depan lebih dulu. Bagian ini mempunyai lebih banyak kandungan gula dan laktosa tapi rendah lemak. Sifatnya yang mudah dan cepat diserap membuat bayi sering lapar. Sedangkan, ASI belakang (hindmilk) akan terisap kalau foremilk yang keluar lebih dulu sudah habis. Hindmilk mengandung banyak lemak. Lemak ini yang membuat tinja menjadi kuning.

Nah, kalau bayi hanya mendapat foremilk yang mengandung sedikit lemak dan banyak gula, terjadi perubahan pada proses pencernaan yang akhirnya membuat feses bayi berwarna hijau. Bahkan sering juga dari situ terbentuk gas yang terlalu banyak, sehingga bayi merasa tak nyaman (kolik).
Jika warna feses hijau dan kuning, berarti bayi mendapat ASI yang komplet, dari foremilk sampai hindmilk.

Merah

Warna merah pada kotoran bayi bisa disebabkan adanya tetesan darah yang menyertai. Namun dokter tetap akan melihat, apakah merah itu disebabkan darah dari tubuhnya sendiri atau dari ibunya.
Jika bayi sempat mengisap darah ibunya pada proses persalinan, maka pada fesesnya akan ditemukan bercak hitam yang merupakan darah. Umumnya bercak itu muncul selama satu sampai tiga hari. Bila darah itu tetap muncul pada fesesnya (bisa cair ataupun bergumpal), dan ternyata bukan berasal dari darah ibu, maka perlu diperiksa lebih lanjut. Kemungkinannya hanya dua, yaitu alergi susu formula bila bayi sudah mendapatkannya, dan penyumbatan pada usus yang disebut invaginasi. Dua-duanya butuh penanganan. Kalau ternyata invaginasi, bayi harus segera dioperasi.

Darah sangat jarang berasal dari disentri amuba atau basiler, karena makanan bayi belum banyak ragamnya. Kalau penyakitnya serius, biasanya bayi juga punya keluhan lain, seperti perutnya membuncit atau menegang, muntah, demam, rewel dan kesakitan.

Putih/Keabu-abuan

Waspadai segera jika feses bayi yang baru lahir berwarna kuning pucat atau putih keabu-abuan. Baik yang encer ataupun padat. Warna putih menunjukkan gangguan yang paling riskan. Bisa disebabkan gangguan pada hati atau penyumbatan saluran empedu. Ini berarti cairan empedunya tidak bisa mewarnai tinja, dan ini tidak boleh terjadi karena sudah ‘lampu merah’. Bila bayi sampai mengeluarkan tinja berwarna putih, saat itu juga ia harus dibawa ke dokter. Jangan menundanya sampai berminggu-minggu karena pasti ada masalah serius yang harus diselesaikan sebelum bayi berumur tiga bulan. Sebagai langkah pertama, umumnya dokter akan segera melakukan USG pada hati dan saluran empedunya.

Jangan terlambat membawa bayi ke dokter. Bila bayi baru dibawa ke dokter di atas usia tiga bulan, umumnya sudah mengalami kerusakan hati. Pilihannya tinggal transplantasi hati yang masih merupakan tindakan pengobatan yang sangat mahal di Indonesia.

Bentuk feses

1. Saat baru lahir, bentuk feses bayi menyerupai aspal lembek. Zat buangan ini berasal dari pencernaan bayi yang dibawa dari kandungan. Setelah itu, feses bayi bisa bergumpal-gumpal seperti jeli, padat, berbiji (seeded) dan bisa juga berupa cairan.

2. Feses bayi yang diberi ASI eksklusif biasanya tidak berbentuk, bisa seperti pasta/krem, berbiji (seeded), dan bisa juga seperti mencret/cair.
 
3. Feses bayi yang diberi susu formula berbentuk padat, bergumpal-gumpal atau agak liat dan merongkol/bulat. Berbeda dengan bayi yang mengkonsumsi ASI, bayi yang mengonsumsi susu formula kadangkala akan mengalami sembelit atau susah buang air besar. Curigai jika bayi yang mengkonsumsi susu formula bentuk fesesnya cair.

Kesulitan mendeteksi normal tidaknya feses akan terjadi bila ibu memberikan ASI yang diselang-seling susu formula. Misalnya, akan sulit menentukan apakah feses yang cair/mencret itu berasal dari ASI atau susu formula. Kalau mencretnya karena minum ASI, ini normal-normal saja karena
sistem pencernaannya memang belum sempurna.

Frekuensi buang air besar (BAB)

Paling penting untuk dipahami adalah bahwa frekuensi BAB pada setiap bayi pasti berbeda-beda. Bahkan, bayi yang sama pun, frekuensi BAB-nya akan berbeda di minggu ini dan minggu depannya. Umumnya di empat atau lima minggu pertama, dalam sehari bisa lebih dari lima kali atau enam kali.

Asalkan tidak menganggu proses pertumbuhannya, maka ibu tak pelu cemas. Bagi bayi yang mendapatkan ASI ekslusif biasanya bisa tidak BAB hingga seminggu lamanya. Tak perlu cemas, hal ini karena memang tidak ada ampas makanan yang harus dikeluarkan. .Semuanya dapat diserap dengan baik.

Feses yang keluar setelah itu juga harus tetap normal seperti pasta. Tidak cair yang disertai banyak lendir, atau berbau busuk dan disertai demam dan penurunan berat badan bayi. Jadi bukan karena gangguan sembelit.

Tetapi Bayi dengan ASI eksklusif juga dikatakan normal jika BAB sepuluh kali setiap hari.

Tips untuk Orang Tua

Anda tidak perlu takut dengan warna BAB bayi Anda. Warna BAB bayi bisa saja berubah sesuai dengan diaet yang dikonsumsi, matanngnya saluran pencernaan, dan bakteri normal. Jarang sekali perubahan warna bayi sebagai pertanda ada masalah pencernaan.

Biasanya perubahan warna feces bayi yang baru lahir berkisar antara kuning atau hjau atau coklat atau orange .

Ketika bayi mulai makanan padat (MPASI) , akan terlihat warna yang sesuai dengan apa yang bayi makan, misal makanan berwarna hijau ( bayam, buncis) akan bisa membuat warna feces hijau, makanan warna orange (wortel, labu ) dapat membuat warna feces orange sapai kuning. Orange, kuning, hijau atau coklat adalah warna feces yang normal.

Kapan saat untuk khawatir

- Jika warna feces putih pucat yang menetap. kemungkinan tidak ada cairan empedu dari hati untuk mencerna makanan.
- Jika warna feces hitam pekat. (kemungkinan ada darah dari saluran pencernaan turun ke usus)I
- Jika warna feces merah seperti darah segar, Biasanya menyatakan darah dari anus, namun bisa juga pengaruh dari obat, beets (umbi manis), dan dari makanan yang berwarna merah. Hal itu akan diketahui melalui test feces.

Artikel dikutip dari http://www.ayahbunda.co.id/bayi-gizi-kesehatan/kenali-warna-feses-bayi-sehat dan berbagai sumber lainnya.
Selengkapnya »